31 Januari 2016

Bahagia itu Sederhana

      
 Tepatnya tahun 2012, saya mengenal istilah Bahagia Itu Sederhana. Di tahun juga pernah mengalami hubungan yang sederhana. Maret adalah bulan saksi dimana saya jadian. Jadian dengan seorang perempuan yang sebelumnya—tidak kenal. Sebut saja Erviawati, ia adalah pacar semasa SMP. Cantik, baik, namun polos. Entah hidayah apa yang Tuhan berikan kepada kami sehingga bisa jadian. Ya bayangkan saja, kami tidak saling mengenal. Mungkin mengenal wajah masing-masing hanya lewat facebook. Namun, di dunia nyata?

Di balik tidak saling mengenal, kami sering smsan. Awal mula kami saling mengenal...jadi ceritanya begini. Saya punya sahabat dekat, namanya Faisal. Sahabat yang satu ini sifatnya cukup peka namun cuek. Ia sering curhat tentang Ervia. Sebab sebelumnya, Ervia menyukai Faisal.






“Wan? Minta solusi nih tentang Ervia” Ucap Isal. “Solusi apa sal?”. Kemudian ia curhat panjang lebar. Ia menceritakan semuanya, dan dapat saya simpulkan bahwa ia meminta bantuan supaya Ervia dapat menghilangkan rasa suka kepadanya. “Mana nopenya?” Ucap saya. Faisal menyodorkan sebuah kertas dengan tulisan nomor handphone Ervia.

 Beberapa hari, saya smsan dengan Ervia. Sekali lagi, Ervia perempuan yang tidak saya kenal. Ternyata faktanya Ervia memang menyukai Faisal.

 Entah apa yang ada dalam pikiran saya waktu itu. “Aneh. Ervia suka ke Faisal. Kemudian Faisal menyuruh kepada saya agar Ervia berhenti menyukainya”. Serentak dalam hati, ini gila. Seorang peremupan menyukai laki-laki dan saya harus menyuruh perempuan itu untuk menghilangkan rasanya terhadap laki-laki tersebut. Karena tidak tega, dengan kebodohan saya--waktu itu malah berubah pikiran...”Saya harus buat Faisal balik suka ke Ervia!”. Ucap saya dalam hati. Dengan maksud ada rasa tidak tega.

 Sayangnya, kebaikan tidak selamanya di balas dengan kebaikan. Usaha yang saya lakukan tidak berhasil, berulang kali berbicara kepada Faisal. “Sal, si Ervia, kan, baik.” Kata saya. “Sampai kapanpun gak bakalan bisa, Wan”. Ucap Isal. Dan di waktu itu juga, saya pun jujur kepada Faisal bahwa selama ini bukan menyuruh Ervia untuk menjauhinya. “Wahaha gak bakalan bisa, Wan”. Reaksi Faisal sambil tertawa lebar.

 Well, demikian saya masih sering smsan bareng Ervia. Mencoba untuk menghiburnya di saat rasanya tak terbalas.

***

* Kala itu, persahabatan kami (Saya dan Faisal) cukup kuat. Sering curhat satu sama lain, juga saling memberikan solusi di saat ada masalah. Sampai dewasa ini tak akan pernah lupa susah senang dengannya meski pada waktu masa SMA kami tidak satu sekolah.*

 Kembali, pada waktu itu di sela-sela jam istirahat kami menindak lanjuti perihal perempuan itu. Yang di bahas kali ini adalah alasan Faisal tidak akan balik suka ke Ervia atau bahkan tidak akan pernah jadian. Di ruangan kelas yang cukup berisik... “Wan? Sini..” ia menyuruh saya untuk menghampirinya. “Ya?” ucap saya. Kami duduk berduaan dan cukup serius membahasnya.

“Jadi begini wan..(Faisal curhat panjang lebar).

 Ternyata, ada 2 alasan mengapa sahabat saya ini tidak menyukai Ervia. Pertama, tempat tinggal yang dekat. Saya akui, rumah mereka memang tidak terlalu jauh. Mereka satu desa. Kedua, keluarganya sudah saling mengenal. Ketika paham dengan dua alasan ini, tidak ada kata-kata yang ingin di sampaikan ke Faisal. Saya sibuk mendengarkan, manggut-manggut dan diam. Kemudian di saat itu juga Faisal mencolek dan memberikan pertanyaan.”Yaudah gini aja, Ervia buat Ridwan saja. Gimana?”. “HAH?” Saya mangap. “Hehe” Faisal tertawa kecil. Bel berbunyi, Guru masuk dan kami belajar.

***

 Beberapa hari, saya dan perempuan itu masih sering smsan. Kami tidak pernah lost contack, banyak hal-hal yang di bahas. Entah itu tentang Faisal, bahkan sempet membahas tipe pacar yang di inginkan. Ah, wajar, masa SMP. Lalu, kami memang satu sekolah tapi sayangnya kelas kami berjauhan sehingga tidak bisa saling sapa.

 Ada saat dimana saya bosan atau mungkin penasaran terhadap dirinya. “Gini aja terus” dalam pikiran. Jujur saja, ingin rasanya bertegur sapa langsung, saling senyum, akrablah. Tapi apa daya, kelas jauh menjadi salah satu faktor utama.

 Selaku laki-laki, beberapa kali ingin menghampiri kelasnya, namun hati selalu berujar. “Tidak usah. Pacar bukan!”.

***

*(Masa pemberanian)*

 Waktu itu, kelas saya, kelas Faisal juga, ada pelajaran olahraga. Kami kelapang dengan rasa takut karena akan di tes kebugaran oleh guru olahraga kami, namanya pak Dadan. Ketegasannya dan kedisiplinannya ketika mengajar sehingga membuat saya dan seluruh murid yang di asuhnya mungkin merasa ketakutan.

Wah gila, secara kebetulan kelas Ervia pun sama pelajaran olahraga. Biasanya satu kelas, satu kelas. Mungkin karena akan di tess, jadi kelas saya dan Ervia olahraganya samaan. Waduh.

 Hati bimbang, malu ada, ingin kenal juga ada. Sebab, sebelumnya saya sering kepoin akun facebook Ervia. Saya lihat fotonya, statusnya dan lain-lain. Sehingga kenal betul raut wajahnya dari kejauahan meski Ervia tak mengenal saya.

 Beberapa teman saya selesai di tes. Pak Dadan melihat kertas dan sebut nama....”Muhammad Ridwansyah!” “Iya Pak” seru saya, takut. Kemudian saya siap-siap, langsung lari sekencang-kencangnya sebab ingin mendaptkan nilai di atas rata-rata.. dan setelah selesai lari dengan ekspresi kecapean, lalu jalan biasa, santai. Dan di sela-sela jalan biasa, ternyata di arah berlawanan ada Ervia sedang jalan. Ia senyum, tapi bukan senyum untuk saya, untuk teman-temannya yang ada di belakang punggung saya. Tiba-tiba tundukan mata saya kebawah karena malu. Dan bodohnya kenapa melakukan hal ini? Secara, Ervia, kan, tidak mengenal saya hmmm. Ervia jalan semakin mendekat, setelah saya dan ia jalan dengan posisi bertolak belakang; saling membelakangi. Dengan rasa kejentelan, tarik nafas...dan “Hey Ervia!” ucap saya, iseng, posisi mata tidak melihatnya. Setelah itu, saya pun duduk bersama teman-teman di pinggir lapangan.

 Kendati demikian, dalam pikiran.. “Apa dia lihat?”. Yang pasti dia dengar, soal lihat atau tidak, itu belakangan.

 Selesai olahraga, ganti baju, pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, kami smsan seperti biasa. Alhamdulilahnya, ia mendengar, katanya. Dan sedikit mengenal. Iya, sedikit.

*(Setelah moment itu selesai, tiap masuk sekolah mendadak senang dan semangat. Pertanyaannya: Apakah diri ini muncul rasa suka atau cinta?*

***

 *(Saling Mengenal)*

 Beberapa kali masuk sekolah, akhirnya moment saling melihat tercapai juga. Mungkin disini letak proses. Saat itu lokasinya di gerbang sekolah, saya dan ia bertatap muka secara langsung dengan memakai senyuman kami masing-masing.

*(Mulai mempunyai pemikiran yang berlebihan)*

 Setelah saling mengenal, ada pikiran dan hati yang mulai gila. Tiap masuk kelas, duduk di kursi, liat wajah Faisal, selalu ingat kalimat “Ervia buat Ridwan saja”.

 Jujur, saya mulai menyukai Ervia. Sering curi-curi pandang. Bahkan, Ervia, kan, anak dramband, mereka (anak-anak dramband) sering makan-makan bareng di lantai sekolahan yang kebetulan lokasinya di depan kelas saya. Sungguh memalukan, saking rajin curi-curi pandang lewat jendela. Saya suka ngelamun..”Duh, pengenlah punya pacar anak dramband, keren”. Secara, dalam pikiran juga menampar.. “Sepertinya bukan level”. Sebab, saya malu. Waktu SMP, saya adalah anak yang biasa-biasa, tanpa prestasi, tanpa ikut organisasi. Bisa dikatakan blangsak, rajin kabur. Ironis, ya. Pokoknya, bukan level.

 Seiring berjalannya waktu, kami masih tetap sering smsan. Bahkan saking pemikiran saya sudah sporadis. Iseng-iseng nembak, yah namanya juga iseng, diterima pun gak bakalan bener. Untungnya ia menolak. Bukan sakit, tapi semangat. Dalam pemikiran “Wah, bukan sembarang perempuan”. Semakin semangat untuk mendapatkannya.

  Ada hal yang masih mengganjal, yakni kami belum mengenal karakter masing-masing. Juga, saya menyukainya belum full, masih labil.

***

*(Jadian)*

 Beberapa minggu kemudian, mulai mengenal yang namanya pendekatan. Salah satu hal yang sering di gunakan saat PDKT-an adalah tampil humor meski lewat sms. Humor, humor dan humor. Kadangkala ia suka, kemudian ngetik ketawa dengan emoticon smile. “Hahahaha J”. Menghibur, lucu-lucuan, bilang iseng “suka sama kamu :p” curhat-curhatan. Saling nanya-nanya. Asyiklah.

 Setelah pendekatan, moment asli menghampiri. Punya niat ingin hubungan lebih dari sekedar teman curhat.

 Kala itu, sepulang dari sekolah kemudian mencoba untuk istirahat di atas kasur. Lalu smsan bareng Ervia. Sangat ingat, di sepanjang smsan dengan dirinya. Ada satu sms yang berisi seperti memberi kode untuk di tembak.  Dirinya juga waktu itu mengatakan bahwa sedang kumpul dengan teman-temannya di satu tempat. Yowish, dengan senang hati, saya tembak lewat sms dan di terima. Kami jadian pada tanggal 12 maret 2012.

 Pacaran satu sekolahan adalah keinginan saya dari dulu. Pokoknya, bersyukur sekali mendapatkan Ervia di saat ada laki-laki lain menginginkannya.

***

 2 bulan awal jadian, hubungan baik, romantis juga perhatian. Teman dari Ervia terlihat mendukung begitupun teman-teman dekat saya. Sampai-sampai saya merasa hubungan dengan dia itu cukup tenar. Ditambah keromantisan kami di facebook. Jadi, orang-orang paham betul.

 Satu kejelekan dari sifat kami adalah terlalu cemburuan. Memang, cemburu menandakan sayang. Tapi terlalu cemburu, sungguh tidak baik.

 Pernah ada satu kejadian dimana saya melihat Ervia dekat dengan teman laki-lakinya. Meskipun teman namun jika saya tidak mengenalinya jelas cemburu. Begitupun Ervia, wajahnya berbeda saat saya ngobrol dengan teman perempuan di kolidor kelas. Ya mungkin itulah kami, terlalu cemburuan.

 *(Ngenes!)*

 Sepertihalnya laki-laki lain, ada-lah keinginan untuk apel. Sebab, di sekolahan hanya saling senyum saja tanpa ngobrol. Dengan keberanian, saya meminta izin kepada Ervia untuk apel, mengunjungi rumahnya. Tapi sayang, moment apel bukan di rumah, tapi di luar rumahnya.

 Memang gimana ceritanya apel di luar rumah? Ya, satu kekurangan lagi dalam hubungan kami atau bahkan ini adalah cobaan...yaitu Ervia di larang pacaran oleh orang tuanya. Jelas, karena di larang pacaran, apel pun harus di depan gerbang rumahnya. Jika tidak disana, di rumah tetangga depan rumahnya, itupun di halamanya. Miris.

 Jelaslah, bagaimana bisa nyaman ngobrol berduaan coba? Sedang enak-enak ngobrol, tiba-tiba ada bapaknya, terpaksa harus pura-pura kabur. Kadang mikir, ini apel atau mau maling?

  Jujur, jika di tanya, pernah masuk kerumahnya? Ya, pernah, itupun harus dengan kata “maen” bukan apel. Bermain dengan teman-teman perempuannya plus adiknya. Iya, adik si ervia. Dia ini punya adik, adiknya itu tau jika kakanya punya pacar yang namanya Ridwan, tau lewat facebook tentunya. Beruntungnya wajah asli saya ga tau. Dan was-was juga, sih, takut ketauan. Karena, jika ketahuan, kan, bahaya. Nanti bisa saja si adiknya ini lapor ke orang tuannya. Tapi alhamdulialh tidak terjadi apa-apa, dia tau jika saya adalah temannya dan bukan yang namanya Ridwan.

 Moment lucu menghampiri, seharian di rumah Ervia maen-maen. Kami (saya dan teman-temannya) sepakat pulang karena takut kesorean. Adalah yang paling hororr saat sungkeman dengan ibunya. Dan ketika sungkeman harus pake namaa...nah ini. Semua teman-teman Ervia selesai sungkeman serta menyebutkan nama. Giliran saya? “Bu, pulang dulu, saya Rizki”. Bayangkan, sampe sesusah itu kami pacaran, harus pake nama samaran segala. Sebab, jika jujur mengatas namakan Ridwan, kan, ada adiknya. Nanti laporan errrrmhh....

*(Perpisahan)*

 Menangis adalah salah satu dari sekian resiko pacaran. Betul?
Ervia pernah beberapa kali menangis. Entah itu ulah dirinya sendiri atau di sebabkan oleh kelakuan saya. Dari sekian banyak kekurangan hubungan kami, yang membuat hati saya berani memprediksi tidak akan bisa di lanjut adalah saat acara perpisahan sekolah.

 Ya, semua ini sudah takdir. Kami memang di pertemukan dan menjalani hubungan saat menginjak kelas 3, yang mana kelas 3 itu akan kenal dengan istilah “acara perpisahan”. Dan menjadi alumni.

 (Akuilah, moment perpisahan yaitu moment yang tidak bisa di lupakan.)

Sebelum acara perpisahan di mulai, Ervia sempet bilang minta foto bareng.

 Besoknya, saat acara itu di mulai. Syukurnya bukan hanya sekedar foto bareng. Tapi kami, khususnya saya. Ngerasa senang sekali saat bisa duduk bareng sekaligus menonton acara-acara perpisahannya sampai selesai. Ada rasa nyaman sebab jarang sekali duduk bareng dengannya. Serta di lihat oleh banyak orang. Terutama rekan-rekan Ervia.

 Selesai acara, saya pun mengabulkan permintaannya untuk foto bersama. Selesai itu, saya dan dirinya pulang kerumah masing-masing.

*(Putus)*

  5 bulan lamanya kami menjalani hubungan dengan susah senang. Masa SMP masa dimana saya mempunyainya begitupun sebaliknya. Kami saling mencintai juga menyayangi.

 Kehidupan mengubah segalanya. Kami melanjutkan pendidikan ke masa SMA. Sayangnya, sekolah SMA kami berbeda. Mungkin disinilah letak hubungan kami mulai renggang. Beberapa tanda akan selesai hubungan terlihat setelah memiliki rasa saling curigaan, juga possesif.

 Memang dalam hubungan sangatlah salah jika satu pasangan memiliki karakter possesif. Over possesif. Seharusnya kami dulu saling percaya, saling terbuka satu sama lain dan jujur.
Dulu, belum mengenal yang namanya LDR; atau hubungan jarak jauh. Istilah tersebut muncul di zaman sekarang. Toh begitupun pada masa hubungan kami. Jika di katakan LDR, bukan. Karena rumah kami cukup dekat. Satu kecamatan namun beda desa.

 Menuju 6 bulan, kami putus. Mengapa bisa terjadi? Ya, dulu tidak ada rasa nyaman jika hubungan beda sekolah. Padahal jika di pikir-pikir, bosan tidak, masih sayang iya. Tidak etis memang jika alasannya beda sekolah.

 Karena tidak ingin menyakitinya. Saya meminta dirinya untuk putuskan hubungan ini. Kami sepakat putus melalui telepon. Lupa-lupa ingat, sepertinya ia nangis, begitupun saya. Bukan cengeng atau apalah, reflek, langsung menangis. Saya tidak malu menangis meskipun laki-laki. Mungkin karena “sayang”.

***

 Setelah putus, kami tidak ada acara balikan. Lost kontak!

Dan akhirnya, kami menjalani kehidupan yang baru, tepatnya pada masa SMA. Tak lupa, saling mendoakan, agar satu sama lain mendapatkan kebahagiaan.

Ya. berawal dari tidak saling mengenal, kenal, lalu jadian dan putus. Begitulah, bahagia itu sederhana, kan?


Catatan:

 Alhamduliah cerpen ini telah di setujui oleh pihak-pihak tokoh dalam cerita. Kemudian cerpen ini di ambil dari kisah asli pada tahun 2012. 

 Dan sebelumnya, terimakasih yang sebesar-sebarnya. Mohon maaf jika ada kata yang salah. Sekali lagi, terimakasih.