
Di balik tidak saling mengenal, kami sering smsan. Awal mula kami saling mengenal...jadi ceritanya begini. Saya punya sahabat dekat, namanya Faisal. Sahabat yang satu ini sifatnya cukup peka namun cuek. Ia sering curhat tentang Ervia. Sebab sebelumnya, Ervia menyukai Faisal.
“Wan? Minta solusi nih tentang Ervia” Ucap Isal. “Solusi apa sal?”. Kemudian ia curhat panjang lebar. Ia menceritakan semuanya, dan dapat saya simpulkan bahwa ia meminta bantuan supaya Ervia dapat menghilangkan rasa suka kepadanya. “Mana nopenya?” Ucap saya. Faisal menyodorkan sebuah kertas dengan tulisan nomor handphone Ervia.
Beberapa
hari, saya smsan dengan Ervia. Sekali lagi, Ervia perempuan yang tidak saya
kenal. Ternyata faktanya Ervia memang menyukai Faisal.
Entah apa
yang ada dalam pikiran saya waktu itu. “Aneh. Ervia suka ke Faisal. Kemudian Faisal
menyuruh kepada saya agar Ervia berhenti menyukainya”. Serentak dalam hati, ini
gila. Seorang peremupan menyukai laki-laki dan saya harus menyuruh perempuan
itu untuk menghilangkan rasanya terhadap laki-laki tersebut. Karena tidak tega,
dengan kebodohan saya--waktu itu malah berubah pikiran...”Saya harus buat
Faisal balik suka ke Ervia!”. Ucap saya dalam hati. Dengan maksud ada rasa
tidak tega.
Sayangnya,
kebaikan tidak selamanya di balas dengan kebaikan. Usaha yang saya lakukan
tidak berhasil, berulang kali berbicara kepada Faisal. “Sal, si Ervia, kan,
baik.” Kata saya. “Sampai kapanpun gak bakalan bisa, Wan”. Ucap Isal. Dan di
waktu itu juga, saya pun jujur kepada Faisal bahwa selama ini bukan menyuruh
Ervia untuk menjauhinya. “Wahaha gak bakalan bisa, Wan”. Reaksi Faisal sambil
tertawa lebar.
Well, demikian
saya masih sering smsan bareng Ervia. Mencoba untuk menghiburnya di saat
rasanya tak terbalas.
***
*
Kala itu, persahabatan kami (Saya dan Faisal) cukup kuat. Sering curhat satu
sama lain, juga saling memberikan solusi di saat ada masalah. Sampai dewasa ini
tak akan pernah lupa susah senang dengannya meski pada waktu masa SMA kami
tidak satu sekolah.*
Kembali, pada
waktu itu di sela-sela jam istirahat kami menindak lanjuti perihal perempuan
itu. Yang di bahas kali ini adalah alasan Faisal tidak akan balik suka ke Ervia
atau bahkan tidak akan pernah jadian. Di ruangan kelas yang cukup berisik...
“Wan? Sini..” ia menyuruh saya untuk menghampirinya. “Ya?” ucap saya. Kami duduk
berduaan dan cukup serius membahasnya.
“Jadi begini wan..(Faisal curhat panjang lebar).
Ternyata, ada
2 alasan mengapa sahabat saya ini tidak menyukai Ervia. Pertama, tempat tinggal
yang dekat. Saya akui, rumah mereka memang tidak terlalu jauh. Mereka satu
desa. Kedua, keluarganya sudah saling mengenal. Ketika paham dengan dua alasan
ini, tidak ada kata-kata yang ingin di sampaikan ke Faisal. Saya sibuk
mendengarkan, manggut-manggut dan diam. Kemudian di saat itu juga Faisal
mencolek dan memberikan pertanyaan.”Yaudah gini aja, Ervia buat Ridwan saja.
Gimana?”. “HAH?” Saya mangap. “Hehe” Faisal tertawa kecil. Bel berbunyi, Guru
masuk dan kami belajar.
***
Beberapa
hari, saya dan perempuan itu masih sering smsan. Kami tidak pernah lost
contack, banyak hal-hal yang di bahas. Entah itu tentang Faisal, bahkan sempet
membahas tipe pacar yang di inginkan. Ah, wajar, masa SMP. Lalu, kami memang
satu sekolah tapi sayangnya kelas kami berjauhan sehingga tidak bisa saling
sapa.
Ada saat
dimana saya bosan atau mungkin penasaran terhadap dirinya. “Gini aja terus”
dalam pikiran. Jujur saja, ingin rasanya bertegur sapa langsung, saling senyum,
akrablah. Tapi apa daya, kelas jauh menjadi salah satu faktor utama.
Selaku
laki-laki, beberapa kali ingin menghampiri kelasnya, namun hati selalu berujar.
“Tidak usah. Pacar bukan!”.
***
*(Masa
pemberanian)*
Waktu itu,
kelas saya, kelas Faisal juga, ada pelajaran olahraga. Kami kelapang dengan
rasa takut karena akan di tes kebugaran oleh guru olahraga kami, namanya pak
Dadan. Ketegasannya dan kedisiplinannya ketika mengajar sehingga membuat saya
dan seluruh murid yang di asuhnya mungkin merasa ketakutan.
Wah gila, secara kebetulan kelas Ervia pun sama
pelajaran olahraga. Biasanya satu kelas, satu kelas. Mungkin karena akan di
tess, jadi kelas saya dan Ervia olahraganya samaan. Waduh.
Hati bimbang,
malu ada, ingin kenal juga ada. Sebab, sebelumnya saya sering kepoin akun
facebook Ervia. Saya lihat fotonya, statusnya dan lain-lain. Sehingga kenal
betul raut wajahnya dari kejauahan meski Ervia tak mengenal saya.
Beberapa
teman saya selesai di tes. Pak Dadan melihat kertas dan sebut nama....”Muhammad
Ridwansyah!” “Iya Pak” seru saya, takut. Kemudian saya siap-siap, langsung lari
sekencang-kencangnya sebab ingin mendaptkan nilai di atas rata-rata.. dan
setelah selesai lari dengan ekspresi kecapean, lalu jalan biasa, santai. Dan di
sela-sela jalan biasa, ternyata di arah berlawanan ada Ervia sedang jalan. Ia
senyum, tapi bukan senyum untuk saya, untuk teman-temannya yang ada di belakang
punggung saya. Tiba-tiba tundukan mata saya kebawah karena malu. Dan bodohnya
kenapa melakukan hal ini? Secara, Ervia, kan, tidak mengenal saya hmmm. Ervia
jalan semakin mendekat, setelah saya dan ia jalan dengan posisi bertolak
belakang; saling membelakangi. Dengan rasa kejentelan, tarik nafas...dan “Hey
Ervia!” ucap saya, iseng, posisi mata tidak melihatnya. Setelah itu, saya pun
duduk bersama teman-teman di pinggir lapangan.
Kendati
demikian, dalam pikiran.. “Apa dia lihat?”. Yang pasti dia dengar, soal lihat
atau tidak, itu belakangan.
Selesai
olahraga, ganti baju, pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, kami smsan seperti biasa.
Alhamdulilahnya, ia mendengar, katanya. Dan sedikit mengenal. Iya, sedikit.
*(Setelah
moment itu selesai, tiap masuk sekolah mendadak senang dan semangat. Pertanyaannya:
Apakah diri ini muncul rasa suka atau cinta?*
***
*(Saling Mengenal)*
Beberapa kali
masuk sekolah, akhirnya moment saling melihat tercapai juga. Mungkin disini
letak proses. Saat itu lokasinya di gerbang sekolah, saya dan ia bertatap muka
secara langsung dengan memakai senyuman kami masing-masing.
*(Mulai mempunyai pemikiran yang berlebihan)*
Setelah
saling mengenal, ada pikiran dan hati yang mulai gila. Tiap masuk kelas, duduk
di kursi, liat wajah Faisal, selalu ingat kalimat “Ervia buat Ridwan saja”.
Jujur, saya
mulai menyukai Ervia. Sering curi-curi pandang. Bahkan, Ervia, kan, anak
dramband, mereka (anak-anak dramband) sering makan-makan bareng di lantai
sekolahan yang kebetulan lokasinya di depan kelas saya. Sungguh memalukan,
saking rajin curi-curi pandang lewat jendela. Saya suka ngelamun..”Duh,
pengenlah punya pacar anak dramband, keren”. Secara, dalam pikiran juga
menampar.. “Sepertinya bukan level”. Sebab, saya malu. Waktu SMP, saya adalah
anak yang biasa-biasa, tanpa prestasi, tanpa ikut organisasi. Bisa dikatakan
blangsak, rajin kabur. Ironis, ya. Pokoknya, bukan level.
Seiring
berjalannya waktu, kami masih tetap sering smsan. Bahkan saking pemikiran saya
sudah sporadis. Iseng-iseng nembak, yah namanya juga iseng, diterima pun gak
bakalan bener. Untungnya ia menolak. Bukan sakit, tapi semangat. Dalam
pemikiran “Wah, bukan sembarang perempuan”. Semakin semangat untuk
mendapatkannya.
Ada hal yang
masih mengganjal, yakni kami belum mengenal karakter masing-masing. Juga, saya
menyukainya belum full, masih labil.
***
*(Jadian)*
Beberapa
minggu kemudian, mulai mengenal yang namanya pendekatan. Salah satu hal yang
sering di gunakan saat PDKT-an adalah tampil humor meski lewat sms. Humor,
humor dan humor. Kadangkala ia suka, kemudian ngetik ketawa dengan emoticon
smile. “Hahahaha J”. Menghibur, lucu-lucuan, bilang iseng
“suka sama kamu :p” curhat-curhatan. Saling nanya-nanya. Asyiklah.
Setelah
pendekatan, moment asli menghampiri. Punya niat ingin hubungan lebih dari
sekedar teman curhat.
Kala itu,
sepulang dari sekolah kemudian mencoba untuk istirahat di atas kasur. Lalu
smsan bareng Ervia. Sangat ingat, di sepanjang smsan dengan dirinya. Ada satu
sms yang berisi seperti memberi kode untuk di tembak. Dirinya juga waktu itu mengatakan bahwa
sedang kumpul dengan teman-temannya di satu tempat. Yowish, dengan senang hati,
saya tembak lewat sms dan di terima. Kami jadian pada tanggal 12 maret 2012.
Pacaran satu
sekolahan adalah keinginan saya dari dulu. Pokoknya, bersyukur sekali mendapatkan
Ervia di saat ada laki-laki lain menginginkannya.
***
2 bulan awal
jadian, hubungan baik, romantis juga perhatian. Teman dari Ervia terlihat
mendukung begitupun teman-teman dekat saya. Sampai-sampai saya merasa hubungan
dengan dia itu cukup tenar. Ditambah keromantisan kami di facebook. Jadi,
orang-orang paham betul.
Satu
kejelekan dari sifat kami adalah terlalu cemburuan. Memang, cemburu menandakan
sayang. Tapi terlalu cemburu, sungguh tidak baik.
Pernah ada
satu kejadian dimana saya melihat Ervia dekat dengan teman laki-lakinya.
Meskipun teman namun jika saya tidak mengenalinya jelas cemburu. Begitupun
Ervia, wajahnya berbeda saat saya ngobrol dengan teman perempuan di kolidor
kelas. Ya mungkin itulah kami, terlalu cemburuan.
*(Ngenes!)*
Sepertihalnya
laki-laki lain, ada-lah keinginan untuk apel. Sebab, di sekolahan hanya saling
senyum saja tanpa ngobrol. Dengan keberanian, saya meminta izin kepada Ervia
untuk apel, mengunjungi rumahnya. Tapi sayang, moment apel bukan di rumah, tapi
di luar rumahnya.
Memang gimana
ceritanya apel di luar rumah? Ya, satu kekurangan lagi dalam hubungan kami atau
bahkan ini adalah cobaan...yaitu Ervia di larang pacaran oleh orang tuanya.
Jelas, karena di larang pacaran, apel pun harus di depan gerbang rumahnya. Jika
tidak disana, di rumah tetangga depan rumahnya, itupun di halamanya. Miris.
Jelaslah,
bagaimana bisa nyaman ngobrol berduaan coba? Sedang enak-enak ngobrol,
tiba-tiba ada bapaknya, terpaksa harus pura-pura kabur. Kadang mikir, ini apel
atau mau maling?
Jujur, jika
di tanya, pernah masuk kerumahnya? Ya, pernah, itupun harus dengan kata “maen”
bukan apel. Bermain dengan teman-teman perempuannya plus adiknya. Iya, adik si
ervia. Dia ini punya adik, adiknya itu tau jika kakanya punya pacar yang namanya
Ridwan, tau lewat facebook tentunya. Beruntungnya wajah asli saya ga tau. Dan
was-was juga, sih, takut ketauan. Karena, jika ketahuan, kan, bahaya. Nanti
bisa saja si adiknya ini lapor ke orang tuannya. Tapi alhamdulialh tidak
terjadi apa-apa, dia tau jika saya adalah temannya dan bukan yang namanya
Ridwan.
Moment lucu
menghampiri, seharian di rumah Ervia maen-maen. Kami (saya dan teman-temannya)
sepakat pulang karena takut kesorean. Adalah yang paling hororr saat sungkeman
dengan ibunya. Dan ketika sungkeman harus pake namaa...nah ini. Semua
teman-teman Ervia selesai sungkeman serta menyebutkan nama. Giliran saya? “Bu,
pulang dulu, saya Rizki”. Bayangkan, sampe sesusah itu kami pacaran, harus pake
nama samaran segala. Sebab, jika jujur mengatas namakan Ridwan, kan, ada
adiknya. Nanti laporan errrrmhh....
*(Perpisahan)*
Menangis
adalah salah satu dari sekian resiko pacaran. Betul?
Ervia pernah beberapa kali menangis. Entah itu ulah dirinya sendiri atau di sebabkan oleh kelakuan saya. Dari sekian banyak kekurangan hubungan kami, yang membuat hati saya berani memprediksi tidak akan bisa di lanjut adalah saat acara perpisahan sekolah.
Ervia pernah beberapa kali menangis. Entah itu ulah dirinya sendiri atau di sebabkan oleh kelakuan saya. Dari sekian banyak kekurangan hubungan kami, yang membuat hati saya berani memprediksi tidak akan bisa di lanjut adalah saat acara perpisahan sekolah.
Ya, semua ini
sudah takdir. Kami memang di pertemukan dan menjalani hubungan saat menginjak
kelas 3, yang mana kelas 3 itu akan kenal dengan istilah “acara perpisahan”.
Dan menjadi alumni.
(Akuilah, moment perpisahan yaitu moment yang
tidak bisa di lupakan.)
Sebelum acara perpisahan di mulai, Ervia sempet
bilang minta foto bareng.
Besoknya,
saat acara itu di mulai. Syukurnya bukan hanya sekedar foto bareng. Tapi kami,
khususnya saya. Ngerasa senang sekali saat bisa duduk bareng sekaligus menonton
acara-acara perpisahannya sampai selesai. Ada rasa nyaman sebab jarang sekali
duduk bareng dengannya. Serta di lihat oleh banyak orang. Terutama rekan-rekan
Ervia.
Selesai
acara, saya pun mengabulkan permintaannya untuk foto bersama. Selesai itu, saya
dan dirinya pulang kerumah masing-masing.
*(Putus)*
5 bulan
lamanya kami menjalani hubungan dengan susah senang. Masa SMP masa dimana saya
mempunyainya begitupun sebaliknya. Kami saling mencintai juga menyayangi.
Kehidupan
mengubah segalanya. Kami melanjutkan pendidikan ke masa SMA. Sayangnya, sekolah
SMA kami berbeda. Mungkin disinilah letak hubungan kami mulai renggang.
Beberapa tanda akan selesai hubungan terlihat setelah memiliki rasa saling
curigaan, juga possesif.
Memang dalam
hubungan sangatlah salah jika satu pasangan memiliki karakter possesif. Over
possesif. Seharusnya kami dulu saling percaya, saling terbuka satu sama lain
dan jujur.
Dulu, belum mengenal yang namanya LDR; atau hubungan
jarak jauh. Istilah tersebut muncul di zaman sekarang. Toh begitupun pada masa
hubungan kami. Jika di katakan LDR, bukan. Karena rumah kami cukup dekat. Satu
kecamatan namun beda desa.
Menuju 6
bulan, kami putus. Mengapa bisa terjadi? Ya, dulu tidak ada rasa nyaman jika
hubungan beda sekolah. Padahal jika di pikir-pikir, bosan tidak, masih sayang
iya. Tidak etis memang jika alasannya beda sekolah.
Karena tidak
ingin menyakitinya. Saya meminta dirinya untuk putuskan hubungan ini. Kami
sepakat putus melalui telepon. Lupa-lupa ingat, sepertinya ia nangis, begitupun
saya. Bukan cengeng atau apalah, reflek, langsung menangis. Saya tidak malu
menangis meskipun laki-laki. Mungkin karena “sayang”.
***
Setelah
putus, kami tidak ada acara balikan. Lost kontak!
Dan akhirnya, kami menjalani kehidupan yang baru,
tepatnya pada masa SMA. Tak lupa, saling mendoakan, agar satu sama lain
mendapatkan kebahagiaan.
Ya. berawal dari tidak saling mengenal, kenal, lalu
jadian dan putus. Begitulah, bahagia itu sederhana, kan?
Catatan:
Alhamduliah cerpen ini telah di setujui oleh
pihak-pihak tokoh dalam cerita. Kemudian cerpen ini di ambil dari kisah asli
pada tahun 2012.
Dan sebelumnya,
terimakasih yang sebesar-sebarnya. Mohon maaf jika ada kata yang salah. Sekali lagi,
terimakasih.