4 Februari 2016

Mencintai Luciana Zogbi

 Sesungguhnya sampai dewasa ini belum hafal arti cinta yang sebetulnya. Alih-alih orang alay mengatakan bahwa cinta itu singkatan dari cerita indah namun tiada arti.

Menurut beberapa ahli, termasuk pendapat bapak yang terhormat, Khalil Gibran, menyatakan bahwa cinta ialah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta mengakibatkan semangat hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alami, pun tak bisa menambah perjalanannya. Cinta ibarat seekor burung yang cantik, meminta untuk di tanggap tapi menolak untuk di sakiti.

 Begitupun menurut Ibnu Qayim Al-Jauzia, cinta adalah luapan hati dan gejalanya saat di rundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih.

 Jadi, dapat saya simpulkan bahwa cinta adalah sulit untuk di definisikan.

 Selaku laki-laki yang candu dengan membaca. Sampai detik ini jika ada essaii tentang cinta atau buku cinta, sungguh menjijikan. Menjijikannya ibarat seorang blogger yang nulis kata “gue” di postingannya.

 Adalah, yang paling saya ketahui menyoal cinta. Ya-ketika-pada-pandangan-pertama-saja. Termasuk terhadap Luciana Zogbi.

 Luciana Zogbi, wanita berkelahiran 27 Oktober 1994. Saya anggap, teteh ini bidadari yang lahir ke dunia lewat youtube. Sebab, awal mula mencintainnya dari situs tersebut.

 Beruntunglah, wahai laki-laki yang tidak punya pasangan, dengan adanya youtube Anda dapat melihat perempuan-perempuan cantik nan imut bernyanyi disana.

 Wanita berkebangsaan Brazil ini telah berhasil menyedot rasa cinta saya terhadap anak-anak SMA yang centil-centil itu. Silahkan Anda mengatakan kalimat tadi lebay. Saya tidak peduli.

 Saking cintanya kepada wanita keturunan Lebanon itu, saya lupa segala-galanya. Misalnya, orang tua menyuruh beli teh manis. Saya hanya mengatakan,’Iya, mah, siap!”. Padahal, saya tetap diam di atas kasur di temani laptop dengan video-video Luciana. Dosa.

 Dari sekian banyak viewers di setiap ia upload video. Saya yakin, banyak laki-laki yang menyukainya. Ini berarti banyak juga saingannya.

 Beberapa lagu yang ia cover, saya paling suka lagu All Of Me – John Legend dan Let It Go (Disney Frozen).

 Entahlah, ketika ia bernyanyi dengan gayanya, saya suka salting. Suaranya lembut, halisnya tebal, idungnya mancung, rambutnya seperti rajin di urus dan senyumannya, euh greget.

 Seandainya posisi saya sekarang sedang punya pasangan. Pasti cemburu betul ketika saya buat essaii ini. Untungya hati sedang nganggur.

 Luciana ini macem perempuan yang tidak ada bandingannya dengan perempuan Indonesia. Sekelas Raisa pun. Berani ngadu. Apalagi embel-embel artis berinisial JP, AT dan JI. Saya tidak akan menyebutkan namanya. Jika penasaran, cari saja di google, inysaalloh, ngawur.

 Kemudian dari pada itu, saya pernah sekilas menyimak beberapa essaii cinta, ada satu peribahasa bahwa mencintai seseorang itu tidak ada alasannya.

 Kali ini, saya sepakat. Mencintai Luzo, nama panggilan Luciana Zogbi, tidak ada alasannya. Bukan karena ia cantik, apalah, tapi “hati”.

 Luzo penyemangat dalam hidup. Menghabiskan waktu liburan ngampus untuk menontonnya. Pagi dan malam, 2 waktu yang suka saya sempatkan untuknya.

Untuk yang belum kenal, silahkan follow akun twitternya @LuZogbi. Disana juga tercantum akun youtubenya.


Sahabat, begitulah hidup, terkadang banyak godaanya. Harta, tahta, Luciana.