28 Februari 2016

Sepenggal Cerita Bersamanya di Dalam Kereta


Sudah menjadi kebiasaan di saat libur panjang harus ke Bandung. Satu-satunya kota yang kebanyakan semua keluarga tinggal disana. Mereka hidup dengan makmur. Dapat di lihat dari tumpukan padi yang menjulur kebawah. Setiap kurang dari setengah tahun sudah panen. Nikmat betul punya rumah di pinggir kotakan sawah. Setiap pagi dapat menghirup udara segar. Kemudian pemandangannya indah. Dan para petani disana bersemangat—subuh hari saja sudah ada yang mencangkul, tandur dan lain-lain.

***
Pagi hari mulai berangkat di jalan perempatan, Leles, Garut, menunggu bus yang kosong untuk ditumpangi. Dari arah kejauhan bus Karunia Bakti datang lalu berhenti. Kemudian saya bergegas masuk dan mencari kursi yang kosong. Saya duduk bersama seorang kakek-kakek. Ia sangat ramah dan sopan.
“Mau kemana?” Ucap sang kakek, tersenyum.
“Ke Bandung kek”
“Ohh... kerja?”
“Liburan hehe”
“Ah ke Bandung, mah, engga bakalan lama. Setengah jam juga sudah sampai” Ujarnya.
“Iya kek.. kakek mau kemana?
“Kakek mau liburan ke Jakarta nengok cucu..sudah lama kakek tidak kesana.”
“Oh gitu. Emang kakek dari mana?”
“Tasik!”
Kemudian setelah itu saya membayangkan beberapa hal. Pertama, kerinduanya kakek itu terhadap cucu-cucunya yang di Jakarta. Kedua, jarak tempuh di Tasikmalaya ke Ibu Kota itu cukup jauh. Di perjalanannya, sang kakek akan melewati Garut dan Bandung sebelum ke tempat tujuan. Di tambah ketika liburan jalanan macet. Entahlah butuh waktu berapa jam. 
“Kek minum?” Memperlihatkan sebotol aqua yang telah saya buka di dalam kantong.
“Udah” Ucapnya, tersenyum.
Melihat sang kakek yang masih segar saya teringat dengan almarhum kakek. Kakek saya seorang kiyai. Ia meninggal di usia 81. Acapkali kakek saya berpesan, ‘Jangan lupa sholat kemanapun pergi’. Tujuan saya ke Bandung sejatinya selain bersilaturahmi dengan keluarga yaitu ziarah ke makam kakek. Namun sayang, sekarang di Bandung sudah tidak mempunyai kakek dan nenek, entah itu dari ayah atau ibu.
Tidak begitu lama waktu yang di butuhkan dari Garut ke Bandung. Sekitar 40 menit sudah sampai. Saya pamitan dengan kakek itu. 
“Kek, sudah sampai. Saya turun disini”
Sang kakek ngangguk. “sok, hat-hati...” Sun tangan dan turun. 
Menghela nafas panjang setalah turun dari bus. “huuuuuuh”. Saya turun di Haurpugur, nama tempat keluarga. Salah satu tukang ojeg di tempat itu menghampiri..
 “Ojeg?” Ucapnya.
“Iyaa”
“Kemana?”
“Haurpugur, deket jalan kereta api”
“Ooh, ayuk”.
Tukang ojeg itu memberikan helm berwarna hitam kemudian saya naik. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sodara—banyak sekali pabrik-pabrik di pinggir jalan. Ada pabrik roti, jaring, dan lain-lain. Memang di tempat ini terkenal dengan pabriknya. Beberapa teman saya juga ada yang bekerja di tempat ini.
10 menit sudah sampai di lokasi. Saya memberikan uang lima ribu dan tukang ojeg itu pergi. Sesampai di rumah sodara disambut hangat oleh keluarga.
“Si aa bodas euuy!” Ucap salah satu bibi yang sudah lama tidak bertemu. Kami bercerita banyak, tentang sekolah, pekerjaan, keluarga, di Garut sedang zaman apa, dan lain-lain. Kemudian saya meminta izin di hari Minggu akan main ke stasiun Bandung. Tepatnya ke alun-alun Bandung. Mereka mengizinkan namun sedikit cemas karena saya sendirian naik kereta. Dalam pikirannya, takut kecopetan, kesasar dan lain-lain.
Minggu pagi langsung saja jalan kaki menuju stasiun Haurpugur untuk membeli tiket. Tidak seperti halnya orang lain mereka cenderung naik kereta KRD. Salah satu kereta yang tidak pernah kosong, mungkin Anda tau sendiri-lah, sumpek!. Karena sifat saya tidak suka dengan keramaian lebih baik naik kereta yang harga tiketnya mahal. Intinya yang bisa duduk. Saya tidak mau berdiri selama perjalanan menuju stasiun Bandung. Mungkin jikalau berdiri untuk membaca buku kurang efektif.
Selesai membeli tiket mencoba untuk duduk sembari menunggu kereta. Memainkan handphone sebentar. Menoleh ke belakang melihat para petani. Melirik ke sebelah kiri. Hmmm dari arah kejauhan ada seorang wanita yang memakai kerudung putih berpolet bunga. Ia berjalan sambil membawa kamera. Seperti seorang fotografer-lah. Meyakini bahwa ia juga sepertinya akan ke Bandung dan naik kereta yang sama. Matanya lirik kanan kiri mencari ruang yang pass untuk di potret. Ia membeli tiket. Kemudian duduk dengan jarak sekitar 8 kursi dari tempat duduk saya. Ia tersenyum melihat hasil jepretan-jepretannya.
“Tuuuuuuut” tak lama kemudian kereta yang di tunggu datang. Buru-buru memasukan buku yang baru 1 lembar di baca. Menoleh ke sebelah kanan, wanita itu memasukan kameranya ke dalam tass. Kereta itu berhenti tepat di depan sekumpulan orang-orang. Sengaja, saya masuk paling akhir dengan gerbong yang di masuki oleh wanita itu. Ia masuk kemudian saya ngikut. Di dalam kereta ini banyak kursi yang kosong. Wanita itu duduk. Saya juga duduk tepat di belakangnya. Memang nikmat berada di dalam kereta yang sepi tanpa melihat orang-orang yang memakai tass di depan dadanya. Tanpa melihat orang-orang yang berdiri dengan mulut masam. Dan tanpa melihat pak satpam yang kesusahan sembari berucap “Punten! Punten!” dengan maksud mengambil tiket para penumpangnya.
Ada rasa ingin kenal perihal ia sendiri. Toh diri ini juga sendiri. Bertanya di arah belakang rasanya tidak sopan. Mungkin menghampirinya. 
Kemudian saya berdiri, jalan, bertanya di depannya... “Boleh duduk disini?”  Sembari menunjukan kursi.
Si mbak itu mengerutkan halisnya. “hmm boleh”.
Ia fokus seperti biasa, mungkin sibuk melihat jepretan-jepretannya yang tidak sempat ia lihat semuanya ketika di kursi stasiun. Ia tersenyum lebar melihat jepretan fotonya. Kala itu, saya hanya berpura-berpura memainkan handphone. Meliriknya dengan sudut mata kanan. 
Dari pada sepi, kemudian mencoba untuk SKSD. “Dari mana mbak?”
Ia melihat saya dengan mata yang layu. Kemudian menjawab, ’Calengka!’.
Bahasanya jutek. Sepertinya wanita ini karakternya kurang asyik untuk di ajak ngobrol.
“Mbak seorang fotografer ya?”
Ia sedikit tersenyum. “Siapa? Aku? Manusiaa”.
Uh, kali ini saya salah menilai seseorang. “oh gitu..hehe, maaf nanya.”
“Gapapa, aa dari mana?” Balasnya.
“Garut”
“Ohh....” Ia manggut-manggut.
“Mau ke stasiun Bandung, mbak?”
“Iya...”
Wuuuus......padam, kereta memasuki terowongan. Semua hening.
“Kesini sama siapa?” Nanya geje.
“Keliatannya?”
“Engga mbak, takutnya sama siapaa gituu...”
Si mbak itu manyun. Ia bertanya, “Ke Bandung juga?”
“Heem...”
“Ngapaiin-liburan?” Nanya cepet.
“Iya mbak, refreshing..”
“Oh baguslah”... Kami saling tersenyum.
Deeeeeerrttttr...derrrrrtttt..... Suara handphone si mbak itu bergetar. “Halow. Bentar, ini lagi di kereta, bentar lagi sampai” Ucapnya. Entahlah, mungkin pacarnya.
Kemudian ia bilang, “Ini a temen udah nungguin di Bandung”.
“Oooh, temen apa temen?”
Kami tertawa bersama-bersama di dalam kereta. Dan lupa, tidak menanyakan namanya.
“Eh nama mbak siapa?”Ucap saya.
“Penting gitu nanya nama?”
Sumpah, menyebalkan.
“Eehahaha...saya Ridwan, mbak!” Menjulurkan tangan.
“Oh ridwan. Aku Sinta!”. Kami bersalaman, setelah itu fokus masing-masing. Saya membaca buku. Dan dirinya sibuk membalas chatt temennya itu. Selama sekitar 20 menit tanpa ngobrol.
Tuuuuuuuttt.......tuuuuuuut.... kereta sampai di stasiun Bandung.  Gerbong terbuka dan semua penumpang turun. “Welcome to Bandung” sebuah plang di stasiun ini. Selesai turun, mencoba mengejar Sinta.
“Sinta Sinta?” Ia menoleh ke belakang.. “Boleh minta nomor hape siapa tau nanti pulangnya bisa samaan!” Sedikit ada jeda kala itu.
“Oh iya, bentar!” Ia mengambil handphone di saku kanannya... “Ini, tulis yaa 089xxx”..
“Oke makasih sin, selamat berlibur hii...” Ucap saya. Ia menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum dan melangkah ke jalan yang berbeda dengan saya.
***
Di Bandung, saya suka dengan eksistensi para pedagangnya. Terutama tukang jualan kopi, rokok, yang tidak kenal lelah dalam mencari uang.
“Bang, bisa buatin kopi hitam, satu?” Ucap saya.
“Siaap..” Balasnya.
Sambil menunggu abang tukang bikin kopi itu, saya iseng-iseng sms Sinta.
“Siin, save ya, ini Ridwan, yang tadi di kereta”.
5 menit kemudian. “Oh okeee” Balasnya, singkat.
“Lagi dimana sin?”
“Ini lagi jalan sama temen ke mini market”.
“Oh gitu, yaudah takut ganggu, nanti di kontek lagi ya”
“Siap”
Kemudian mengkunci hape dan memasukan ke dalam saku.
“Boss...Ini beres” Ucap abang yang jualan kopi.
“Oh siap bang, nuhun!” Balas saya sembari memberikan uang 2 ribu rupiah.
Kemudian duduk di salah satu toko sambil menyeruput kopi dan melamun. Tak lama dari itu selesai menghabiskan kopi saya-pun melanjutkan perjalanan ke alun-alun Bandung. Barangkali untuk kesana harus naik angkot. Ah, tak akan lama.
Sampailah di alun-alun Bandung yang suasananya ramai. Mengambil handphone, mempotret jalanan, rumput-rumput hijau yang ada di sekitarnya dan sayangnya tidak berani selfie karena malu.
Pukul 13.30 WIB mencoba untuk sms Sinta, ingin menanyakan pulang.
“Sin..pulang jamber?” Ketik saya.
“Inii mau pulang, sedang jalan ke stasiun” Balasnya.
“Oh iya bentar ya, Ridwan kesana sin, jangan dulu brangkat haha”
“Oh siaap” Ketiknya.
Ketika itu langsung saja balik dari alun-alun Bandung. Seperti biasa, naik angkot kemudian melewati toko yang bekas minum kopi itu, dan yaa!. Perempuan berkerudung polet bunga itu sudah duduk menunggu kereta. Meliriknya sebentar, lalu jalan ke tempat pembelian tiket. Selesai itu..
“Heyy...” Ucap saya sembari duduk di sampingnya.
Ia membalikan badan..”Heyy...”
“Pulang sekarang, Sin?”
“Iyaa”
“Oh. Ngapain aja tadi?” Ucap saya, nanya.
“Cuman ngobrol sama temen, jalan-jalan sembari beli ini, yagitulah hii” Ia memperlihatkan kantong kresek warna putih. Entahlah isinya apa, gede.
“Oh gituu....”
TUUUUUUUUTTTT.........Tak lama ngobrol kereta patas sudah datang. Semua penumpang yang akan naik kereta itu bergegas untuk masuk. Mereka lari-larian mungkin takut kehabisan tempat duduk. Begitupun kami, mencari tempat yang enak untuk ngobrol. Posisi dari pada kursi di kereta itu berbentuk huruf L. Jadi enak untuk ngobrol. Kami langsung duduk dengan tawa kecil setelah lari-larian. “hahaha” Tawa Sinta, gemes.
“Heh, tadi ke alun-alun Bandung?” Ucapnya. Kami ngobrol seperti sudah saling mengenal padahal baru hari itu saja.
“Iya..kok tau?” Jawab saya, iseng.
“Kan kamu yang bilang!”
“Eh iyaa..haha..”
“Ngapain aja?” Tanya Sinta.
“Harus gitu di ceritain?” Jawab saya.
“Euuh sebel!” Gumamnya.
Kami bercanda ria di dalam kereta. Ngobrol-ngobrol ketika saya di alun-alun Bandung. Begitupun dirinya menceritakan ketika pertemuannya dengan teman perempuannya. Ke mini market dan lain-lain. Sekali lagi, kami seolah-olah orang yang sudah lama kenal. 
Tak lama, kereta sudah sampai di stasiun Kria Condong. Obrolan kami sedikit agak sensitif, menceritakan tentang kisah percintaan.
“Sin, pernah patah hati?” Tanya saya.
 “Apaan nanya patah hatii hahaaa” Balasnya.
“Lah kau...” Lembut.
“Apa? kamu lagi patah hati?”
“Heuheu...”
Sebetulnya niat ke Bandung selain bersilaturahmi kepada keluarga yaitu untuk melupakan seseorang. Cara saya untuk melupakan seseorang adalah banyak refreshing ke luar kota.Travelling dan lainnya. Tiap orang juga pastinya punya cara-cara tersendiri.
“Cerita aja, siapa tau aku bisa bantu” Tanya Sinta.
“LAH!. Begini Sin, coba jawab. Bagaimana cara melupakan seseorang menurutmu?”
Sinta tertawa ngakak. “Hahahahaha....jadi belum move on nih hahahhaa” Ucapnya.
“Harus di jawab nih?” Tanyanya.
“Terserah” Balas saya sembari menggerakan pundak ke atas.
“Gini ya, sebetulnya perempuan paling susah untuk move on apalagi patah hati ketika hati masih sayang. Hanya saja kami pintar menyimpan rahasia. Jika sudah sayang sama seseorang meskipun sudah putus pasti susah untuk menerima yang baru. Mungkin laki-laki simple, tinggal cari yang baru kemudian move on-nya selesai. Coba kami? Perlu waktu!.”
Demi Tuhan. Sinta dewasa!. Kemudian ia melanjutkan pernyataannya.
“Kalo Sinta sih. Cara melupakan seseorang adalah berjalan dengan sendirinya. Mencoba untuk tidak stalking doi. Bergaul dengan sahabat. Rame-ramean. Papasakan haha. Ah begitulah hii nanti juga lupa.” 
“Oooh gituu” Jawab saya.
“Yaudah, kamu kesinii..” Sinta mengajak saya untuk mendekat. “Nih, aku punya foto yang menggambarkan move on”. Saya mendekatinya. “Coba lihat?” Ia memperlihatkan sebuah foto bergambar 3 burung. Yang mana 2 burung sedang berdekatan. Mungkin maknanya berpacaran. Sementara yang satunya lagi sedang menggigit rempah-rempah. Yang maknanya seperti mencari makan. Kemudian Sinta membuat pernyataan..
“Nah kalau bisa, kamu itu harus seperti burung yang sedang mencari makan inii. Ia fokus mencari makan. Tanpa mempedulikan burung yang sedang berpacaran itu. Artinya, apa yang sedang kamu jalani sekarang ya jalani. Kamu fokus dengan misalnya karir. Jangan lihat mantanmu yang sekarang sedang bahagia dengan orang lain. Kamu tau? Burung yang 2 ini suatu saat akan banyak masalah, tidak akan selamanya bersamaan seperti ini. Begitupun mantan kamu, suatu saat akan banyak masalah juga. Mungkin nanti nasibnya akan sama seperti kamu dengan dia dulu. Yaitu berpisaah..”.
“Iya, bener sin. Seperti pertemuan kita sekarang yang tidak akan lama lagi berpisah. Tuh lihat,10 menit lagi akan menuju stasiun Haurpugur!” Ucap saya sembari menunjukan stasiun itu. Sinta melihat ke arah depan.
“Oh iya, bentar lagi di Haurpugur. Gak kerasa ya?” Balasnya, sewot.
“Memang tidak kerasa karena dari tadi kita nyaman. Seperti foto 2 burung tadi yang sedang pacaran. Mereka nyaman dan pasti suatu saat akan berpisah.”
Sinta tersenyum.
“Sin, sekarang sebentar lagi Ridwan akan turun. Jadi, hmmm terimakasih atas nasihat-nasihat selama di Kereta ini ya. Meski sebentar, namun rasanya berkesan, deh!”.
“Iya iya. Kamu jangan lupa, setelah turun dari kereta ini, semangat ya.”
Kami saling tatap-tatapan dengan senyuman.
TUUUUUUUUTTTTTT.....kereta berhenti di stasiun tujuan saya. Sinta masih harus menjalani 1 stasiun lagi yaitu tempat tinggalnya, ci calengka.
Tak lama kemudian saya berdiri dan begitu akan melangkah, Sinta berujar..
“Ridwan. Makasih!” Ucapnya, tersenyum dengan sangat lembut.
Saya membalikan badan...”Sama-sama...” Balas saya, lembut, juga sembari memberikan senyuman.
***
Turun dari Kereta. Tak lama kemudian kereta itu melanjutkan perjalanannya. Saya menatap kereta itu dari kejauhan sambil ucap terimakasih.. “Kereta, terimakasih engkau telah mempertemukan diri ini dengan wanita yang spesial meski sebentar..”. Selesai bergumam, saya berjalan menuju rumah sodara dengan santai. Sesampai dirumahnya, kemudian istirahat di atas kasur. 
Suasana rumah hening. Entahlah keluarga saya pada kemana. Saya merenung dan menyatakan bahwa terkadang begitulah yang namanya hidup. Ada pertemuan ada juga perpisahan. Sepertihalnya dengan kakek tua itu ketika di bis dan Sinta. Ada 2 pertanyaan sebelum menutupkan mata...
Yaituuu... “Apa kabar kek, sudahkah kakek bertemu dengan sang cucu-cucu kakek itu?” | “Apa kabar Sinta. Apa kamu sudah sampai? Sinta! Aku merindukanmu!” Kemudian tertidur......

Baca juga: Mengapa Harus Tunangan?