28 Oktober 2016

Eksistensi Novel "Tanpa Ayah"



 Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, saya sebagai penulis pemula yang baru saja menerbitkan satu buku, untuk saat ini eksistensi buku “Tanpa Ayah” sudah banyak memikat hati orang-orang, khususnya daerah Garut. Sebanyak 45 buku dalam jangka waktu 3 minggu sudah ludes pembeli. Pada cetakan pertama saja, 3 hari setelah buku mendarat ke Garut dengan cepat telah habis. Siswa-siswi SMP N 1 Leles, Garut, sekolah pertama yang berhasil memiliki buku ini.

Tak lama kemudian, 1 hari setelah itu, rekan-rekan saya menghabiskan (mohon maaf bagi yang tidak di upload fotonya).
Memasuki cetakan kedua, saya mencetak lebih banyak lagi sehubungan pemesanan novel “Tanpa Ayah” seminggu setelah habis pada cetakan pertama, begitu banyak. Tentang cetakan kedua semua berubah drastis, mulai dari penerbit, cover, dan lain-lain. Pada awalnya novel ini diterbitkan di Bogor, Guepedia nama penerbitnya. Kemudian saya mencabut naskah dari penerbit itu dan mengalihkan ke Oase Pustaka, Solo, Jawa Tengah dan sampai saat ini kami masih bekerja sama.


Eksistensi berlanjut, kepala sekolah SMP N 1 Kadungora memesan beberapa buku. Uniknya pemesanan itu langsung diberikan kepada siswi terbaiknya untuk di review, siswi tersebut juara 3 debat Bahasa Indonesia seprovinsi Jawa Barat (di lain waktu akan saya ceritakan review dan wawancara bersama siswi tersebut).

16 novel “Tanpa Ayah” ludes pada minggu pertama. Berikut dokumentasi para pembelinya.


Tentang novel ini sendiri bersifat umum bagi pembaca dan menurut sebagian dari mereka, ini unik dan asyik untuk dibaca. Jadi wajar saja, kata salah satu pembaca cetakan pertama, kalau dia sempat satu hari akan khatam membacanya. Yang paling lucu dari sekian pembeli adalah nama laki-laki berinisial D, ia membeli novel “Tanpa Ayah” untuk kekasihnya.

Eksistensi ini akan berlanjut sehubungan stock buku akan terus saya cetak sesuai dengan jumlah pemesanan. Bagi warga Garut, silahkan cara membeli novel ini bisa lewat penulisnya langsung dan akan ada di toko-toko buku kota Garut pusat. Bagi rekan-rekan yang di luar kota Garut, silahkan cek di website Oase Pustaka.

Buku "Tanpa Ayah" Cetakan Kedua

Sebuah Novel yang Di Indikasikan Tentang Bagaimana Cara Menyayangi Sosok Seorang Ayah
       A.    Identitas Buku
Nama Penulis   : Muhammad Ridwansyah
Berat                : 500 gram
Halaman          : 130
Kondisi             : Baru

     B.     Sinopsis Buku
Seorang laki-laki yang di usia 6 tahun sampai dewasa ini, dibesarkan tanpa sosok seorang ayah, bukan hanya itu, ia juga tidak mengenal raut wajah almarhum ayahnya. Di dalam hidupnya, ia hanya memiliki seorang ibu dan keluarga sederhana.

Buku “Tanpa Ayah” ini bukan hanya perjalanan hidup seorang penulis tanpa sosok ayahnya tetapi mendeskripsikan tentang bagaimana cara ia menyayangi ayahnya walaupun sudah tidak ada. Terlebih buku ini juga memberikan semacam motivasi untuk anak-anak atau remaja yang masih mempunyai ayah, bagaimana cara menyayangi sang ayah dalam bentuk perbuatan, khususnya yang masih ada, atau pun sudah tiada.
        
C.    Tentang Isi Buku

Sebelumnya mari kita sepakati terlebih dahulu bahwa diantara kedua orang tua relatif banyak seorang anak lebih dekat, lebih menyayangi sang ibu sedangkan bersama ayah, sebagian anak ada yang mengatakan, “dengan ayah, jauh”. Terlepas dari ayahnya bekerja pulang satu minggu sekali, kerja di luar kota atau ada di rumah tetapi faktanya memang sang anak tidak terlalu dekat.

Buku “Tanpa Ayah” ini menceritakan tentang rasa rindunya seorang penulis terhadap ayahnya yang sudah wafat, ia mencari kemana-mana informasi tentang ayahnya, segalanya, bagaimana karakternya, hobinya, sampai-sampai ia bertanya kepada tetangganya, teman almarhum ayahnya dan tentu, kepada ibu tercintanya, keluarganya. Alasan sederhana ia mencari informasi sang ayahnya itu adalah, ya ia tidak begitu mengenal raut wajahnya—remang-remang, ditinggalkan di usia 6 tahun, ia tidak merasakan sentuhan kasih sayang ayahnya. Selain itu buku ini mengindikasikan kepada anak-anak atau para remaja agar ayolah dekati sang ayah, tidak perlu malu walau kita sudah besar, karena kejutekan sang ayah, di dalam hatinya, pada dasarnya menyimpan rasa sayang yang besar.

Keistimewaaan buku ini adalah penulis mengajak kepada anak-anak atau remaja yang masih mempunyai ayah, untuk sayangi ia, selagi masih hidup. Lengkap pula ada cara bagaimana menyayangi ayah walaupun sudah tidak ada.

Dalam sinopsis di atas, penulis menuliskan sekali lagi bahwa buku ini bukan tentang perjalanan hidupnya tetapi justru kebanyakan memberi beberapa cerita nyata dan karangan, yang mana semua cerita itu dapat diambil hikmahnya. Berawal dari perkenalan siapa ayahnya hingga terahir di tutup oleh pesan singkat untuk sang ayah. Beberapa bab, di isi oleh nilai-nilai keagamaan.

Selanjutnya, dari penulis sendiri, buku ini diciptakan sebagai apresiasi bagi seluruh ayah. Pesan tersebut ada di bab “Urgensi Seorang Ayah” dan “Peran Terbaik Seorang Ayah dalam Kehidupan Keluarga dan Bermasyarakat”. Agar lebih penasaran, bab yang menurut penulis the best, ada di bab “Wawancara Bersama Teman-Teman yang Sudah Tidak Punya Ayah” dan “Lagu Ayah”.

***

Bilamana lebih penasaran lagi, teman-teman bisa membeli bukunya lewat:

·         WA: 083825932958 (Ridwansyah)
·         Informasi lengkap, silahkan berteman atau inbox ke akun media sosial berikut:
FB                         : M Ridwan Syah
Twitter                   : @aaridwan16                                               
NB:
-          Informasi harga buku silahkan chatt ke akun dan nomor di atas.
-     Untuk harga buku sudah mencapai 45.000.

2 Agustus 2016

Ekspektasi

Dimensi waktu begitu cepat, hari demi hari berlalu. Peristiwa-peristiwa penting dan menyebalkan luluh oleh kehidupan yang tidak mungkin dapat mundur kembali. Seperti menurut sebagian orang, kehidupan ibarat roda, kau taulah analogi ini. 1 hari, 1 jam, terlewat begitu saja. Semua terangkum, entah itu kesenangan, kesedihan, dendam hingga kekecewaan.

***

Hutan ini serem ya, katanya, sambil menerawang keadaan hutan, dan memang aku menyepakati hal itu.

Setuju, lihat saja Lich, pohon yang ada dihadapanku, dia sudah terlalu tua.

Hey, aku menemukan semut. Semut ini sebelumnya tidak pernah aku lihat.

Awas, gak usah di pegang, balasku. Sial, Alicia nyaris saja memegang semut besar dan berbahaya itu.

Dia kaget. Kenapa tidak boleh dipegang?. Lagi pula semut ini lucu.

Kau ingin berdarah lagi?

***

4 tahun yang lalu, tangan kiri Alicia berdarah oleh seekor semut yang memang tidak sama dengan semut yang ia temui di hutan itu. Sebab dia, ya setiap hal-hal yang lucu, semacam benda, hewan, pakaian, ia selalu ingin mencoba untuk memegangnnya. Ia tidak peduli tentang bahaya dan tidaknya.

***

Alicia mengekspresikan kebeteannya saat aku menyuruh untuk tidak mengambil semut, lagian, serangga kecil yang hidupnya nyari gula itu, saat menggigit, hmmm seperti jarum yang tidak sengaja kena kulit. Kau rasakanlah.

Apa kita lanjut, kau tak takut oleh hutan ini?

Lanjutlah, tapi sebentar Rid. Alicia mengambil camera kesayangannya di dalam tass. Aku ingin mendokumentasikan dulu semut ini.
Cekrek!. Oke, yuk..

Aku menggelengkan kepala.

Kami berjalan berduaan. Setiap melewati pohon-pohon rimba yang masih gondrong dan usang, walaupun aku laki-laki, tentu menakutkan. Tetapi, karena disamping kiriku ada Alicia, aku mencoba tampil gagah dan bijak saja.

Cekrek. Uh gagal, katanya.

Apanya yang gagal?

Nih liat, ia memperlihatkan cameranya kepadaku. Hahaha kau foto seekor kadal, buat apa? Hahaha

Bukan kadal sayang. Ini bunglon. Coba lihat sekali lagi. Aku melihatnya lagi. Lha, tadi kan?

Dasar butaa. Bisa ngelihat ga?

Tadi yang aku lihat kadal, Lich. Aku 
menggaruk-garuk kepala.

Alicia memandang ke atas langit. Tidak mungkin aku mempotret seekor kadal, balasnya. Bunglon itu indah, dia bisa mengubah warnanya sesuai dengan keadaan dimana ia hinggap. Cekrek, ia mempotret langit.

Lich, itu-kupu-kupu, ayo fotoin!

Mana? Ah, jelek.

Aku mengerutkan dahiku. Kupu-kupunya hitam ya, tanyaku.

Bukan masalah hitam atau apanya, keindahan itu harus sesuai dengan keadaan yang disekelilingnya.

Halah sayang. Aku gak ngerti.

Sekarang pikirkan saja sama kamu. Ada nenek-nenek lagi berdiri di sisi jalan raya dan ada nenek-nenek juga sedang berdiri di sisi stasiun kereta. Pilih mana?

Piliiih.....

Alicia memotong saat aku akan menjawab. Pilih yang di sisi stasiun keretalah, katanya. Sebab tempatnya di stasiun, banyak orang sedang ngantri beli tiket dan nenek-nenek itu setia menunggu kereta, misalnya. Kamu potret dari kejauhan, yakin, akan bagus.

Aku menganggukan kepala. Oke aku mengerti, balasku. Sekarang foto aku, Lich, nah disini, di depan pohon. Aku melihat ke ranting-ranting pohonnya. Hmmm ini pohon apa ya....

Pohon beringiin...ujar Alicia.

Nah itu, kau tau juga.

Taulah, aku punya cerita dengan pohon beringin. Sudah siap? Alicia ancang-ancang membenarkan camera.

Sebentar, cerita sama siapa?

Nanti aku ceritain.

Oh, oke.

Cekrek. Mana hasilnya, aku berlari mendekati pacarku itu. Wih bagus, kataku. Selfie yuk?

Gak mau.

Loh kenapa, tanyaku.

Yaa lebih suka jadi tukang foto dari pada di foto, gerutunya. Eh sampai kapan kita sampai ke hulu hutan kalau terus-terusan foto-fotoan? Tanyanya.

Hehe iya yah, ayo makanya agak cepat dong jalannya.

Aku dan Alicia berjalan hingga 1 km. Dalam perjalanan itu, kami lebih banyak istirahat, duduk di bawah pohon, minum, bercanda ria dan sebagainya.

***

Sampai di 1 km.

Hulu hutan terlihat dari kejauhan, suara arus sungai air terjun terdengar.

Nah, sebentar, ucapku. Kami berhenti sambil berdiri dan mempekakan telinga. 

Denger-denger....

Ya benar suara air terjun, sebentar lagi kita sampai Rid. Hore!

Betul. Tapii..

Tapi apa?

Aku jongkok di samping Alicia sembari melihat ke arah kaki kanannya. Plak!! Geplakan tanganku tepat dikakinya, nyamuk jahat menempel.

Aw. Sakit.

Hampir saja darahmu kesedot oleh nyamuk sialan ini. Aku memperlihatkan nyamuknya.

Sambil merengek kesakitan. Gede banget ya, katanya.

Namanya juga di hutan. Nyamuk ini bahaya bisa-bisa kamu DBD. Yuk lanjut. Aku membuang mayat serangga macem kutu vampir itu.

***

Di hulu hutan. Kami duduk bersama. Terdengar keras dentuman air ke badan batu. Angin siang menggelebu. Pepohonan bergoyang tidak jelas. 

Lengkap, ujarku.

Lengkap apanya?

Pemandangannya indah. Aku menunduk ke bawah, itu airnya pasti dalem, ya.

Alicia sibuk mensetting cameranya. Sesekali ngetes lalu mendeletenya.

Kau sudah mempotret pohon jati yang tinggi itu? Aku menunjukan jariku.

Belum. Cameranya lagi gak mendukung.

Tadi, kan, bisa.

Iya, cuman, yaa kecapean kali ya dipake mulu.

Ada ada saja. Sini aku benerin. Aku merebut cameranya.  Angin pelan masuk ke sekejur tubuh Alicia, terutama ke arah rambutnya. Bergerak-gerak. Cantik.
Ternyata kau cantik juga. Aku tersenyum.

Menggombal, sahutnya. Udah belum?

Gak bisa.

Aaah.

***

Ekspektasi..

Tiap pasangan dalam status pacaran pasti pernah saling mengukuhkan hati untuk memberi janji-janji harapan, yang kemudian harapan itu kadang sirna begitu saja. Buktinya, pembaca bolehlah inget-inget harapan-harapan bersama mantan, yang tidak jadi setia selamanya itu.

***

Waktu sudah menunjukan hampir sore hari dan kami masih berada di hutan. Ini lumayan mengerikan.

Lich? Aku membalikan badan. Ia sedang duduk dibawah pohon yang percis seperti pohon jati, lalu ia menoleh sayu kepadaku.

Katanya kau ingin bercerita tentang kenangan di pohon beringin yang tadi itu?

Alicia tersenyum. Tidak penting, sewotnya.

Yasudah. Sungguh sore itu menjengkelkan. Hal yang paling aku tidak suka seumur hidup adalah ada yang ingin cerita tapi tidak jadi.

Kamu marah? Alicia berdiri sambil menyilangkan cameranya di samping bahu kanan.

Tidak.

Oke aku sekarang bercerita. Tetapi kamu jangan sampai sakit hati.

Aku mengangkat bahu.

Jadi begini, di mulai nih?

Terserah.

Dulu, saat aku bersama Johnson di London. Pohon beringin adalah kenangan yang tak mungkin aku lupakan. Di rumah nenek, kami berduaan sambil ngopi teh. Di belakang rumah nenek, ya disana, pohon itu berdiri tegak dan lumayan tua. Alicia duduk disamping kananku.

Lalu?

Johnson, laki-laki yang sempat aku cintai selama beberapa bulan sebelum ia. Uh.

Meninggal? Candaku.

Hus!. Alicia melotot. Sebelum ia selingkuh, jelasnya.

Wahahahaha. Perempuan secantik kau diselingkuhin?

Sudahlah. Alicia berdiri. Berdirinya itu seperti memberi kode untuk segera pergi di hutan ini.

Sialan si Johnson, ucapku. Lich, tanyaku, aku memegang tangan kanannya. Sekarang kan kau sudah bersamaku.

Terus?

Aku melepaskan tangannya. Tidak, kau punya harapan apa bersamaku?

Alicia melamun. Terlebih, aku kan, laki-laki yang tidak seperti Johnson. Oke, tidak usah di bahas. Yuk, pulang.

Sebentar... Alicia melangkahkan kaki. Posisi kami sejajar. Dia menengok raut wajahku.

Sebetulnya tidak terlalu penting dalam hubungan punya ekspektasi. Apa susahnya, kalau yang namanya cinta itu biarkan saja mengalir tanpa ada ikatan janji A, B, Z. Bersamamu Rid, kau tau sendiri, kita tak pernah membuat satu pun harapan. Aku menyukai hal ini dan aku sangat menyayangimu.

Aku memegang kedua pundak Alicia. Aku tau, Lich. Tetapi...semoga kau tidak menyesal denganku. Seseorang pernah sakit hati oleh kelakuanku, aku tidak bisa membahagiakan orang lain dan mungkin akan terjadi pula denganmu. Aku juga menyayangimu.

Tidak apa-apa. Kau ingat hutan ini, ingatilah aku.

Aku melepaskan pegangan itu. Kami berjalan sambil tersenyum satu sama lain. Alicia melirik ke lokasi air terjun. Ia bergumam di hadapanku. Seperti air terjun, ia tidak pernah bosan menghantam tumpukan batu. Semoga rasa cintaku pun sama, tak pernah bosan, bersamamu.

_____________________________________

Ditulis dalam kurun waktu 1 bulan.


19 Years

Seperti kata Nobita, tokoh kartun Doraemon, laki-laki polos berkaos kuning itu pernah menyatakan bahwa hidup lebih enak saat usia kita masih kecil, terutama saat tidak mengenal yang namanya cinta. 90% hidup untuk bermain, selebihnya diperhatikan oleh orang tua, di manja, di cari kemana-mana saat tidak ada, di suruh makan, tidur tidak pernah bergadang, tepat di awal waktu. Fokusnya, sekolah, jalan kaki dengan teman-teman atau di antar jemput oleh sang ayah. Tetapi kehidupan, telah berputar, ketika hati kita mulai tumbuh bibit-bibit “cinta”, menyukai seseorang, memendamnya, menyatakannya, menjalani dan berakhir dengan patah hati. Terus terjadi berulang kali sampai kita paham bahwa cinta menanggung beribu-ribu resiko. Lalu kita mulai fiks berhenti untuk mencintai dan menjalaninya, tapi sialnya, perasaan tidak pernah bohong, ada saja orang yang kita cintai.

Prolog di atas, hanya menceritakan atas apa yang telah penulis alami. Sampai saat ini, menginjak di usia 19 years.

19 years, bagi laki-laki, bukan usia yang matang untuk berumah tangga. Skip!

 ***

Akhir-akhir ini rutin sekali saya meneliti orang-orang sekitar. Sehari-harinya aktivitas mereka, itu-itu saja. Memulai hari dengan berangkat kerja, pulang, sesekali (mungkin) bermain gadget untuk bikin status atau PM yang berbau keluh kesah dan pada akhirnya, jam tidur. Besoknya, seperti itu lagi. Yang mereka tunggu-tunggu adalah tanggal gajihan. Jika ini yang Anda alami, ubah. Jika itu adalah profesi Anda, ada lho, sesuatu yang dapat orang kenang saat Anda mati. Bukan itu-itu saja yang dapat orang kenang, tapi “Anu”.

Sebentar, mari sepakati bahwa Tuhan memberikan akal dan hati kepada manusia untuk membedakan antara kita dan hewan. Tulisan ini, teman. Saya ingin mengajak kepada Anda, yang masih berusia muda, untuk menemukan indahnya hidup dengan berkarya dan karyanya itu di garap, di kerjakan, di ciptakan oleh Anda sendiri. Inilah sesuatu yang akan membedakan Anda dengan orang lain. Jika orang aktivitasnya Anu maka Anda adalah Anu.

Apakah kucing bisa menggambar. Apakah ikan bisa membuat buku. Apakah harimau, yang kita kenal dengan galaknya tak tertahankan itu, bisa menjadi seorang boss di salah satu perusahaan atau pedagang pecicilan. Tidak mungkin, mereka tidak punya akal untuk berkarya. Jadi wajar jika ayam kerjaannya itu-itu saja, bangun di shubuh hari, nyari makan dengan cara yang tidak rasional, ia nyolong segon, kadang ke rumah manusia tanpa seizin pihak rumah, ia kawin di hadapan manusia, ia mau saja di adu dombakan oleh manusia, kepalanya berdarah sedangkan yang punyanya dapat untung banyak. Dasar ayam, biarlah saya mengejek habis-habisan karena haha ia tidak bisa membaca.

Usia 19 years, banyak impian serta harapan dalam hidup ini. Saya merasakan sendiri, semangat muda sudah terpatri di dalam hati. Saya menemukannya sendiri. Ego, ambisi, usaha, karya. Semuanya ada. Dan menurut hemat saya, ini bukan manusiawi kaum muda pada umumnya. Tetapi hadir kepada anak muda, yang pola pikirnya maju ke depan. Entahlah saya sendiri sulit untuk menceritakannya. Terlepas akan sukses atau tidaknya, tak pernah dipikirkan, yang jelas, muda dengan karya dan beda.

Seseorang bercerita kepada saya, ingin menjadi Anu, ia mulai dengan usaha kecil-kecilan, ia kerjakan dengan proses, seseorang seperti itu, saya amat menyukainya. Apakah Anda minat, punya mimpi dan mengeksekusinya?

Seseorang bercerita kepada saya, nikmatnya bekerja dengan uang banyak, ia bisa kebeli apa saja yang dia mau. Sontak, saya mengaggap dia biasa-biasa saja. Sayyidina Ali pernah berujar, yang namanya karakter uang adalah dijaga sedangkan ilmu menjaga. Saya pernah membuat pernyataan di BBM, sebanyak apapun uang jika tidak pandai menjaga, kelak akan habis juga.

Seseorang seperti saya, justru brengsek, saat nyaris semua teman berlimpah-limpah mendapatkan uang. Tetapi saya sendiri, gejolak berkarya tinggi. Inilah 19 years. “Baru” 19 years, bukan menganggap diri ini hebat, tetapi bodoh. 

Jika kepala Anda manggut-manggut dan terpesona membaca tulisan ini, Anda baru saya katakan hebat, apalagi kalau kepincut.

2 pertanyaan yang sering muncul dalam telinga saya adalah, “Atuh mau usaha, usaha apa Rid?” atau “Sulit mengembangkan bakatna euy, gimana ya!”. Prinsipnya, kalau saya sendiri, suka bertanya kepada diri sendiri, “Kamu bakat dan bisanya apa?”. Saya gali, lalu mencoba dan menemukannya. Mungkin itu yang harus Anda lakukan, kadang solusi dari orang lain tak pernah mempan tetapi hati sendiri, Anda tau sendiri.

Agar tidak belibet memahami tulisan ini, biarlah saya kasih contoh, mumpung di website sendiri.

Beberapa hal yang akan saya garap kedepannya, garapan ini sesuai dengan potensi yang saya miliki, bakat dan pertanyaan tadi, “bisanya apa?”. Pertama, di usia 19 years ini, selama 4 tahun saya sudah konsisten berada di sekeliling pelajar SD, SMP, SMA, walau banyak godaan, hampir putus asa, tetapi karena sabar dan bakat, saya bertahan dan akan bertahan berprofesi berada di sekeliling para pelajar dengan sedikit ilmu yang saya punya. Mereka aset berharga untuk kehidupan selanjutnya, di alam yang abadi. Karena bakatnya itu, kemungkinan beberapa tahun yang akan datang akan terus seperti sekarang. Bukan uang yang diprioritaskan, tetapi kenyamanan dan cinta berada di sekeliling anak-anak. Tak peduli dengan besarnya tanggung jawab, yang namanya siap, berarti segalanya siap. Al-khusus resiko dan pertanggung jawaban.

Kedua jurnalistik/writer. Bakat kedua ini yang tentunya selalu rajin di haruskan di praktikan. Membuat buku, itu yang sedang saya lakukan sehari-hari, merampungkan selembar demi selembar untuk menjadi sebuah naskah kemudian di cetak. Anda boleh membayangkan bagaimana sulitnya membuat buku, berapa bulan atau tahun sampai rampung, kemudian jika diperhitungkan saat sudah terbit, berapa banyak pemasukannya, tidak banyak. Terlepas apakah laku atau menjadi bangke. Tak pernah saya pikirkan tentang hal itu, karena hobi dan cinta, saya lakukan itu.

19 years, satu mimpi yang akan, mudah-mudahan di permudahkan, saya ingin usaha, misalnya martabak mini. Sesekali ingin terjun ke dunia makanan, baru niat dan yakin bisa. Insya.Alloh.

Tulisan ini bukan untuk pamer atau riya. Anda tau sendiri, judulnya saja “19 years”. Kalau pun ada yang membaca, syukur-syukur mereka kepincut untuk berkarya atas bakat yang dimilikinya.

Jadi kesimpulannya adalah, jika Anda seorang anak muda, hal yang luar biasa yaitu bilamana hidup Anda berani mencoba ingin berbeda dari orang lain. Berkarya di jalan yang syar’i. Kita tau, selfie saja tidak cukup, kan?

Oleh sebab itu, mari kita sama-sama berkarya, apapun itu.

***

Jika hidup di usia muda hanya diam saja, tanpa ada niat ingin bermanfaat bagi orang lain, kau  tidur saja, dan tak usah bangun lagi. Tetapi jika kau tidur, lalu Tuhan memberikan kesempatan untuk hidup, bernafas lagi, lalu kau telah bermimpi dan mimpinya itu ingin kesampaian, kerjakan, laksanakan, di mulai dari sekarang. 

______________________________

Sumber gambar 19: chaditya.wordpress.com

Tentang Entrepreunership dalam Buku melihat tanpa mata

Abdul Latief, saya tidak begitu mengenal nama penulis di buku melihat tanpa mata itu. Yang jelas, dalam halaman 142 selaras lima catatan tentang entrepreunership, dapat menggugah hati saya, berhubung akan terjun ke dunia tersebut.

Latief, akrab disapa seperti itu dalam biodatanya, ia menulis tentang perjalanan hidupnya di usia muda, masa-masa kampus, pekerjaannya, yang mana hampir semua peristiwa dalam hidupnya dapat dicatat, diambil hikmahnya kemudian dijadikan pelajaran, ini tercantum dalam semua bab di bukunya.

Saya suka dengan pekerjaan bapak kelahiran 1983 itu, pekerjaannya selalu menuntut untuk berkunjung ke berbagai daerah. Katanya, salah satu fenomena yang menarik dari setiap kunjungannya adalah pengalaman, hikmah, dan pelajaran kearifan lokal dari setiap daerah.

Tentang entrepreunership sendiri, saya kurang paham dengan definisinya, terlebih beberapa ahli yang pernah saya baca seperti Achmad Sanusi, Soeharto Prawiro, dan yang lainnya, mereka berbagi pendapat tentang arti pekerjaan tersebut. Untuk itu saya lebih ngeh, sepakat, dari website www.temukanpemengertian.com, bahwa entrepreneurship itu adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun bertujuan untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Yang mana meliputi pembangunan, pembentukan perusahaan baru, kegiatan wirausaha juga merupakan kemampuan managerial yang diperlukan seorang entrepreuner.

Akhir-akhir ini jiwa kewirausahaan saya muncul, ini terjadi saat ngobrol bersama salah satu teman SMA, yang mana karir ia beda dengan rekan-rekan lainnya. Ia berdagang di mall semacam aneka minuman, ia tawarkan ke beberapa orang yang jalan-jalan disana. Setiap hari ia bisa mengumpulkan maxsimal 200ribu, 2 hari modal ia sudah balik. Disitulah, saya terinspirasi dari beliau, tetapi bukan berarti kewirausahaan saya akan sama dengannya. Jadi, hanya mengambil ilmu serta pelajaran atas apa yang ia ucapkan.

Saya sangat semangat perihal kewirausahaan itu karena motivasi hadir saat membaca buku melihat tanpa mata. Bapak Latief menulis, “Tidak banyak orang yang berani mengambil terobosan sedemikan cepat dan spontan dalam bisnis, terutama bagi para pemuda di bangsa ini”. Ini adalah kalimat pertama yang dapat menyinggung saya, ditambah pula, lanjutnya “Bahkan para profesional dan akademis sekalipun, lebih banyak memperdengarkan konsep entrepreneur dan cara menjalankannya, ketimbang contoh dalam mewujudkannya. Seringkali kita terlalu kaya berteori tapi miskin bertindak”. Inilah yang dapat memicu semangat saya, memang sepakat lalu merasakan sedari dulu hidup saya lebih asyik berteori ketimbang bertindak. Tetapi kehidupan telah mengubah, mungkin dulu saat punya mimpi berwirausaha sulit mengeksekusinya karena tidak punya modal, itupun masih bergelut di dunia pendidikan menengah atas. Sekarang, sudah ada modal dan fleksibel dalam dunia pendidikan – kampus – jadi tentunya akan lebih banyak bertindak dari pada berteori.

“Cita-cita hanya akan menjadi penyesalan jika tidak diwujudkan, rencana hanya berbuah kegagalan jika tidak dilaksanakan, pun begitu halnya teori yang akan menjadi omong kosong jika tidak pernah dibuktikan dengan tindakan. Karya nyata dalam mengamalkan apa yang telah dimiliki hanya ada pada diri mereka yang hebat.” hal.147.

Latief menulis kembali, sekarang tentang modal hidup, ini juga dapat saya korelasikan dengan entrepreunership. “Apakah semua cita-cita dan keinginan harus bermodal besar?”. Pertanyaan itu ditulis dalam halaman 150, plus pertanyaan tersebut sehati dengan apa yang ingin saya tanyakan pada orang lain. Jawaban sudah ada dalam buku ini, “Ya!. Tapi ingat bahwa modal yang dimaksud tidak mesti modal uang dan harta, melainkan gabungan dari banyak unsur modal dalam hidup. Totalitas, kejujuran, kesungguhan, keberanian, kreativitas dan semua sikap hidup yang positif sangat diperlukan untuk bisa sukses dalam menjalani hidup dalam menggapai cita-cita”.

“Orang sukses selalu memiliki modal hidup yang sangat besar kendati modal uang yang dimilikinya tidaklah banyak. Thomas Alfa Edison, lahir dari keluarga miskin yang harus membuatnya bekerja untuk memenuhi modal penelitiannya. Ketekunan, kesungguhan, kreativitas dan jiwa besarnya telah menjadikan penemu yang produktif dengan 2000 jenis penemuan yang dipatenkan atas namanya, salah satu yang fenomenal yaitu lampu pijar.” Selain itu, katanya, tokoh sukses Indonesia, yang bukan dari keluarga kaya raya, seperti Soekarno, Soeharto, Habibie, mereka bisa sukses karena memiliki modalitas sikap mental positif luar biasa.

Pertanyaan mendasar bilamana ingin sukses menjadi entrepreunership di tulis dalam penutup akhir tema Modal Hidup, “Lantas apakah kita akan menyerah dan bersikap inferior saat menghadapi kenyataan bahwa kita bukan terlahir dari keluarga yang berada dan berstatus sosial yang tinggi?. Modal terbesar yang dimiliki oleh setiap orang bukanlah modal berupa harta, kekayaan dan status yang diturunkan melalui orang tua, melainkan modal berupa sikap mental positif yang diciptakan sendiri. Siapkah untuk sukses?”.

Dalam buku melihat tanpa mata itu, ada catatan penting pula tentang bisnis, lengkap dengan seputar resiko. Dilain waktu saya akan menulisnya kembali.

***

Demikian yang dapat saya simpulkan dari tulisan di atas adalah, pertama soal keberanian dalam bertindak. Saat mengobrol dengan teman saya itu, katanya, ia sebetulnya tidak ada niat untuk berwirausaha, saya tau karakter dia, pemalu. Apalagi kudu dagang di tempat orang banyak, sesekali ia pernah bertemu dengan temannya, disapa, ditanya, awalnya ia malu, tapi karena ingin sukses, ia menghilangkan kegengsiannya sehingga bisnis awal kecil-kecilannya itu menuai hasil. Teori dia sedikit, “Ah, sehari cukup untuk membeli rokok saja”. Karena bertindaknya sungguh-sungguh, apa yang ia harapkan, malah lebih.

Kedua tentang modal. Ini yang menarik, banyak orang yang modal bisnisnya besar tetapi karena sikap mentalnya negatif, demi mendapatkan uang banyak—balik modal, ia akan lakukan itu. Keuntungan oke, tapi apakah yang didapatkan halal. Bukankah nantinya uang yang ia dapatkan, akan dibelikan makanan, masuk perut, diberi kepada keluarganya, namun sayang, Tuhan mengutuk barang haram. Jadi, walaupun modal Anda sedikit tetapi sikap positif, pasti ada jalan.

Yang terakhir, “Modal terbesar yang dimiliki oleh setiap orang bukanlah modal berupa harta, kekayaan dan status yang diturunkan melalui orang tua” kalimat ini yang membuat saya mengangguk-ngangguk, lagi pula masalah turunan kaya raya dari orang tua, saya paham betul kalimat Abdul Latief itu maksudnya. Semoga Anda dapat memahami.

Semoga bermanfaat teman-teman!

                                          

31 Mei 2016

Ana Menendez - Mencintai Che

Ada semacam selera yang berbeda-beda dari masing-masing seorang pembaca. Saya sebagai seorang yang candu betul oleh kegiatan membaca--amat menyukai bacaan-bacaan yang dapat mengganggu otak saya.

Ini bukan postingan seperti mereview sebuah buku tetapi entahlah, saya ingin bercerita tentang njilemtnya membaca buku ini. Buku berwarna merah bertulisan "Mencintai Che" itu adalah buku bekas, bolehlah saya mengatakan demikian sebab menurut referenshi yang ada memang seperti itu. Terlebih identitas buku ini di review tahun 2004 dalam terjemahan dari "LOVING CHE".

Tentang Ana Menendez. Kau tau, beliau seorang jurnalis dan penulis berdarah Kuba, lahir dan besar di Amerika. Latar belakang beliau menurut saya di dalam buku ini sebagai orang buangan.

Lalu apa yang dapat menganggu otak saya, ada di sinopsis sampul belakang bukunya, seperti ini "Seorang wanita muda Kuba, yang dibesarkan di Miami, hanya memiliki satu penghubung dengan sang ibu yang telah meninggalkannya--penggalan puisi seorang Pablo Neruda yang ditemukan kakeknya yang disematkan di baju si bayi wanita tersebut, ketika sang kakek lari bersamanya pada saat pergolakan di Havana tahun 1960-an."

Paragraf pertamanya sudah membuat saya penasaran. Apalagi paragraf terahirnya, "Pencarian wanita ini kepada ibunya tak memberi harapan, sampai datangnya paket misterius. Isinya, helai demi helai tulisan dan foto-foto yang sobek, menjungkirbalikan dunianya dengan cerita yang membakar hubungan penuh gairah antara ibunya dengan pemimpin pemberontak kharismatik. Ernesto 'Che' Guevera. Kini sang puteri harus kembali ke Havana untuk menyatukan kepingan-kepingan kebenaran tentang masa lalunya." 2 paragraf di atas adalah perihal sinopsis singkat.

Halaman 3, Menendez mengatakan tentang asal usulnya, katanya, dia tidak tahu banyak. Menurutnya, ia dibesarkan oleh kakeknya di pinggiran barat Miami. Di rumah kakeknya tidak ada media apapun semacam televisi atau majalah, yang ada hanya buku-buku.

Tentang orang tuanya, ia mengira bahwa ayahnya dipenjara dan mati disana lalu ibunya menitipkan pada sang kakek. Setelah itu halaman-halaman berikutnya menceritakan kebahagiaan bersama kakeknya semasa kecil.

Di halaman 10 ada puisi yang saya suka dan isinya membekas sampai-sampai diceritakan pada halaman selanjutnya, "Selamat tinggal, tapi aku akan selalu. Bersamaku, kau akan selalu ada setiap. Darah yang mengalir dalam diriku." Puisi ini kalau tidak salah ditulis oleh Pablo Neruda, seperti yang tercantum dalam sinopsis tadi.

Nah disini, di halaman 15 yang paling mengganggu dan sangat menganggu dalam novel ini saat Ana menuliskan dan menceritakan tokoh Che atau Ernesto Che Guevara. Karena saya membenci kata "Revolusi" atau yang berbau politik, lumayan tidak begitu peduli--dilewat baca tidak tetapi tidak dihayati, sekilas saja.

"Mencintai Che terasa seperti buih laut yang paling pucat, seperti angin melintasi bintang-bintang" --hal 158

Dapat saya simpulkan bahwa novel Ana Menendez sangat puitis. Keromantisan paling utama, disamping itu pula ada tentang peperangan, lalu bayang-bayangnya adalah seperti hidup di kota tua, legenda--jauh di luar nalar saya.

"Selamat tinggal. Selamat tinggal tapi aku akan selalu bersama"

Kalimat itu memang menyihir, tersimpan dalam penutup akhir bab "Mencintai Che".

Bab terakhir "Surat di Jalanan". Entah maksud surat disini tentang apa. Namun ada nama tokoh baru "Teresa". Kata Ana, di halaman 181 ia membahas kota Miami. Kotanya itu bukanlah kota bagi para pahlawan romantis; disini keterlibatan dengan revolusi adalah sesuatu yang harus disembunyikan, disangkal dan akhirnya dilupakan. Dilupakan ya-sudah-lupakan-bab-ini.

Teresa da la Cueva atau Teresa de la Landre, menurut sumber yang ada dia adalah ibu dari Ana Menendez. Pembahasan tentang ibunya itu sedikit banyak di ceritakan oleh seorang nenek tua. Nenek tua itu sempat bekerja di rumah ibu Teresa. Namun dalam buku tidak disebutkan nama asli nenek-nenek itu, hanya menggunakan nama "Nenek Tua".

Ringkasnya, kalimat akhir dari buku ini adalah menggambar tokoh Che sebagai seorang asing yang tampan yang, dalam mimpi lain, mungkin menjadi ayahku tercinta, katanya.

Penerbit Mata Angin. Tebal buku 272. Bagi yang minat baca buku ini mungkin bisa dibeli dengan cara searching di google pake keywoard judul postingan saya.

***

Kesan saya untuk buku ini, ya sulit. Menganggu dan tidak ada niat untuk membaca yang kedua kalinya. Tetapi walaupun menganggu, eksistensi kotanya dan gaya penulisan Ana, saya suka.




23 Mei 2016

Kota dan Kereta

Sempat berfilsapat, apakah Tuhan menentukan tempat yang eksentik secara pilih-pilih?

***

Menjelang pagi pukul 07:48 WIB, hari itu aku tidak seperti biasanya. Racikan kopi yang biasa aku buat dan teguk, kini hanya disuguhkan oleh pemandangan-pemandangan yang memukau di luar jendela kaca bergambar palu. Seseorang berjanji kepadaku, pukul 05.00 WIB, aku harus berada di depan rumahnya agar nanti dapat membeli tiket dengan tepat.

Usai sholat shubuh, aku bergegas jalan ke rumah temanku itu, disela-sela jalan kaki ada semacam pikiran yang cukup mengkhawatirkan, antara ketakutan tiket habis dan ditinggalkan kereta. Namun menurut empirisme temanku itu, tidak mungkin kereta meninggalkan para penumpang sebelum sekitar pukul 06:00 WIB.

Nyaris aku merasa aneh setelah sampai di stasiun, tempat yang asing, gumamku. Leles adalah nama  tempat tinggalku, seumur aku hidup di Leles, aku belum pernah merasakan suasana stasiun di tempatku itu. Padahal sudah jelas kalau stasiun Leles ada walau lokasinya di Kadungora. Tapi uniknya, ini adalah pengalaman pertamaku.

Lampu putih menyala terang, orang-orang berkantong hitam sedang mengantri diruangan tiket. Kau tau, wajah mereka sumringah setelah menggemgam kertas putih bermodal 8ribu sedangkan yang lainnya pucat tak karuan. Ada kecemasan tersendiri, menurut temanku, sistem kereta masa kini dibatasi 80 penumpang. Lalu bagaimana kalau mereka adalah penumpang ke 81 atau 82 misalnya. Cukup sial bukan?

Di tempat pembelian tiket, bapak-bapak berkumis tebal dengan segala kecuekannya, tanpa ada rasa lelah, ia berkonsentrasi melayani para penumpang. Bahkan pikirku, dari mulai dini hari si bapak sudah stand by ditempat dan membuka lorong tiket. Beruntunglah pekerjaan rekannya, si bapak bertopi hitam yang kurus itu, ia hanya ditugaskan mengecap tiket oleh tinta ungu.

Seorang wanita berambut kuning lumayan menggairahkan di shubuh hari, ia tidak cantik namun kulitnya putih. Ia berjalan dihadapan para lelaki, tapi kami tidak begitu peduli. Yang kami pedulikan pada saat itu adalah selamat sampai tujuan, pemikiran yang setara, kan?

Suasana asing itu agar dapat dikenang, aku dan temanku beralih ke tempat yang berbeda pada awalnya, kami disamping kiri stasiun. Angin santai menghembus, ada macam suara yang berisik. "Tahu-tahuu" sahut ibu-ibu di sisi kanan kami.

Dalam waktu sekejap, puluhan orang berkumpul di sisi rel kereta. Para remaja pada dasarnya, mereka lebih nyaman berdiri sambil melipatkan tangan. Walau beberapa orang mengodok saku. Para wanita berjilbab dan non jilbab, mereka memilih untuk memainkan gadget dan mendengarkan music. Dan memang itu lebih efektif.

Pengeras suara berbunyi. 2 meter dari arah penglihatan kami, kereta datang lalu berhenti. Kami masuk silih ganti yang kemudian mencari tempat duduk. Dan aku duduk di kursi yang dekat dengan toilet. Lumayan idealis, anggukku.

Sungguh beruntung, aku dan temanku duduk di depan dua wanita yang malu-malunya tak tertahankan. Tidak ada suara yang mereka katakan. Mungkin aku tak perlu membahas mereka. Tetapi wanita yang menggairahkan di shubuh hari itu sebalnya duduk tepat dihadapanku setelah dua wanita yang malu-malu itu turun di stasiun yang mereka tuju.

Tidak perlu dipikirkan.

Colokan charger aku tancapkan dengan pasti di sisi kanan bahuku dan mulai membaca essaii dari situs mojok.co. Perlahan aku baca essaii tentang Mega Wati.

Sesekali aku menerawang keadaan gerbong. Ada 5 AC yang berfungsi sebagaimana mestinya. Ada pula tempat penyimpanan barang yang berada di atas kepala penumpang masing-masing. Keadaan kursi dapat diduduki oleh 3 orang berbadan kurus--demikian kursi itu tegak lurus berhadapan dengan kursi pasangannya.

Signifikan. Kata pertama yang ada dalam pikiranku untuk kereta ini. Kau tau, di dalam kereta tahun 2016 ini, sulit untuk menemukan orang-orang yang memegang besi. Tidak ada orang saling sikut, tidak pula sesumpek 2 tahun yang lalu.

2 tahun yang lalu, aku merasakan bagaimana malasnya memakai kendaraan beroda banyak ini. Akuilah, urusan ongkos terbilang lebih murah ketimbang kendaraan yang lainnya. Tetapi, seseorang yang kerap kesal dengan keramaian sepertiku, mana bisa sabar?

Menurutku, dalam hal ini patutlah mengacungi jempol buat orang China, mereka jago dalam mengelola sistem pembisnisan kereta. Mereka adalah dalang.

2 jam aku menahan angin yang ingin keluar dari pantatku. Semua karena rasa menghargai sehingga kurang layak kalau misalnya aku dengan selonoh mengeluarkan bau kentut. Celingak-celinguk aku memperhatikan orang-orang asing yang berada didekatku. Satu per satu mereka menghilangkan jejaknya. Beberapa stasiun pun terlewati. Dan akhirnya, stasiun Cikudapateuh, tujuanku, sampai. Aku dan temanku turun.

Aku menghela nafas pelan. Semua kepusingan akibat dinginnya AC, bau bensin dan punggung yang tergoyang-goyangkan oleh kereta lumayan mendingan. Temanku relatif biasa-biasa lepas turun dari kereta sebab dia sudah terbiasa. Berbeda denganku, serasa ingin muntah.

Kami berjalan menuju tempat kosan seorang tukang service printer. Ia adalah pembingbing saat temanku PKL 5 bulan yang lalu. Perjalanan menuju kosannya, tidak jauh, kami perlu 15 menit untuk sampai.

Sesampai dilokasi, aku menyodorkan laptop yang perlu diservice, aku ke Bandung niat yang paling utama yaitu menyervice laptop. Ya semua itu terlepas dari ketidak mahiran orang Garut dalam menyervice laptop sehingga aku perlu ke Bandung.

Singkat cerita, obrolan kami cukup memahami satu sama lain. Aku mengeluarkan keluh kesah atas penyakit laptopku dan dia bertanggung jawab--karena sebelumnya, aku membeli barang itu kepadanya lalu ia mempermudah semua urusan.

Kau bayangkan, setelah semua permasalahan dapat terselesaikan, aku dan temanku dari jam 9 hingga pukul setengah dua siang harus ada pembahasan yang menggiurkan agar waktu dapat berjalan cepat. Obrolan-obrolan semacam tekhnologi, seputar ilmu agama dan lain-lain.

Kami kala itu masih diposisi kosan tukang service. Namun tukang service itu sudah hijrah ke tempat pekerjaannya sehingga aku dan temanku terpaksa meminjam kosannya untuk di tempati.

Di kota Bandung sebetulnya banyak tempat rekreasi yang dapat didokumentasikan dengan baik. Ke alun-alun misalnya. Karena takut tersesat, kata temanku, lebih baik kita tidak usah jalan-jalan. Tentu aku sangat menyepakati hal itu, mengingat dompetku tidak mencukupi.

Pukul setengah dua, kami memantapkan hati untuk segera bergegas kembali ke stasiun Cikudapateuh--membeli tiket pulang. Sekali lagi Anda perlu membayangkan betapa ironisnya saat kami sampai dilokasi, tiket dibuka pukul setengah tiga, dan kami harus menunggu di kursi stasiun. Sehari itu rasanya kebanyakan duduk.

Siswa-siswi pelajar SMP di stasiun ini berbondong-bondong melintasi kediamanku. Mereka semua mengingatkan aku untuk bersyukur sebagaimana nikmatnya dulu sebagai pelajar aku tidak perlu kesusahan seperti mereka, membeli tiket, buru-buru masuk kereta dengan kekuatan tinggi agar bisa naik, menunggu berjam-jam dan kadang kala kalau kereta telat, mereka pulang kemaghriban.

Mungkin pula untuk sehari mereka bisa menghabiskan duit sekitar 8rbu, kau boleh kalikan dalam sebulan berapa. Cukup menghawatirkan kalau pekerjaan ayahnya, yah.

Kesalahan membeli tiket terjadi. Alih-alih aku seharusnya agar spesifik menginap dirumah sodaraku. Setelah berpikir panjang. Yang asalnya membeli tiket ke Cibatu. Aku membeli tiket ke Cicalengka supaya bisa turun di stasiun Haurpugur, stasiun yang dekat dengan rumah sodaraku.

Kadang menjadi orang awam Anda akan mengalami kesalahan. Dan itu kerap terjadi dalam diriku di setiap mencoba hal-hal baru.

Sang satpam yang kerjaannya telponan. Akhirnya dapat menjual tiket yang salah aku beli tadi dan akhirnya uangku kembali. Dan ini memalukan.

Kurang dari setengah jam menuju maghrib aku sampai dirumah sodaraku. Tidak ada yang menarik.Aku beristirahat.

***

Kota

2 anak kecil mengekspresikan kebahagiaannya. Mereka bergerak-gerak seperti boneka. Sang ibu menjawab saat ibu-ibu yang disampingnya bertanya tentang tujuannya, "Ke Bandung, bu. Liburan.."

Kota

Seorang remaja berkulit hitam yang antingnya menempel di telinga kirinya mengumpat, "Goblok. Ke Padalarang lu?"

Mungkin, mungkin ia sedang berbicara dengan teman lamanya.

"Heem. Kalo elu?" jawab temannya.

"Sarua. Bareng heeh?"

Kota

"Gedebagenya bakalan di pake Persib ga?" ucapku.

Sang kakek yang masih bugar itu menjawab, "Lagi direnovasi. Tanahnya kan bekas sawah"

"Tapi beberapa tahun kemudian?"

"Bisa jadi"

***

Kereta

Rabu, sekitar pukul 7 kurang 15 menit aku berada di stasiun. Hanya ada 6 orang yang sedang duduk, tanpa saling sapa dengan yang lainnya. Beberapa menit kemudian lorong tiket terbuka, sebelumnya ada kertas putih berbentuk persegi menutupi lorong itu.

Seorang perempuan yang memakai hak tinggi berinteraksi dengan penumpang yang di sisi kirinya. Ia ditanya tentang pekerjaan. Sambil memegang tass ia menjawab bahwa pekerjaanya adalah penjaga kaos di Padalarang, Bandung.

Tanpa pikir panjang aku kegirangan. Ada teman sejurusan, pikirku.

Menit ke menit berlalu, sekitar 80 orang lebih sudah berkumpul, dari anak kecil usia 5 tahun hingga nenek-nenek. Ya nenek-nenek berkacamata yang berposisi di depan kursiku. Menurutku, nenek itu tampak tegang, "Karcis nenek mana ya?" Pemuda sebayaku menjawab, "Itu nek euu di tangan". Sang nenek tersenyum, "Lupa dek hehe"

Tidak terlalu lucu.

Suara kereta terdengar dari arah timur. Semua penumpang bersiap-siap, mereka berdiri, termasuk aku.

Aku masuk melewati gerbong ke-5, 6, dan duduk di gerbong ke 7. Aku masih ingat, nomor  kursiku 133. Di kursi nomor 133 aku hidup serasa betul-betul seorang laki. Sebab 6 orang yang berada di kursi berbentuk persegi panjang itu semuanya adalah laki-laki. Kami melakukan aktivitas yg berbeda satu sama lain, laki-laki dihadapanku kerjaannya melipatkan karcis berbentuk kapal. Sebelah kananku sibuk menelpon istrinya, mungkin. Di sudut kanan, satu orang tidur sembari mulutnya tertutup penutup mulut. 2 lainnya sedang berbicara. Dan aku santai membaca cerpen agrariafolks.

Lepas membaca cerpen. Aku mencoba untuk so syik, aku bertanya kepada orang yang di sisi kiriku, "Ke Cikudapateuh?"

"Iya" angguknya.

"Oh samaa"

"Kerja a?"

"Latihan militer"

"Yaa mending jadi tentara ya dari pada polisi, haram"

Aku tertawa walau punya argumentasi yang berbeda.

Di stasiun Kria Condong, kursi nomor 134, 2 orang diantaranya telah keluar. Nyaris aku tidak bisa fokus membaca cerpen saat 2 teteh-teteh berpostur tinggi duduk menempati tempat 2 orang yang telah keluar tadi. Agaknya dijam itu aku lebih sering menoleh kepada mereka. Terlebih lipstik merah tipis mereka lumayan menarik.

Tidak butuh waktu yang lama, kereta melaju lagi hingga pada akhirnya stasiun tujuanku sampai. Sambil membawa kantongku di bahu kanan, aku melirik 1 teteh itu. Sebetulnya moment ini tidak terlalu penting. Kalau misalnya ia menoleh baik, ya apa boleh buat, cuma sekedar kenangan semacam untuk ditulis seperti ini.

Di hari Rabu itu pula aku ke rumah tukang service printer itu lagi untuk mengambil laptopku. Syukurnya, laptopku telah sehat total. Tidak ada obrolan yang banyak dengannya. Secara jelasnya aku gembira laptopku bisa kembali lagi.

Butuh waktu 15 menit lebih aku kembali ke stasiun. Disela-sela jalan kaki menuju stasiun, aku membawa kopi hitam yang diwadahi oleh gelas plastik.

Di stasiun, aku menemukan hal yang membuatku bahagia--berbeda dan sangat berbeda dari hari sebelumnya. Hal ini akan terlihat lucu menurutku, aku rindu sosok ibu.

Hap.

Kota ini....kota kelahiran ibuku, Bandung. Kau tau, ibuku memimpikan ingin kembali hidup di Bandung. Bahkan saat aku SMA ia ingin pindah rumah ke kota kembang ini. Aku ingat itu, pernyataan ibuku, membekas. Aku cukup bego, berkeliling sendirian atau bersama temanku sedangkan ibuku, katanya, ingin sekali ke kota ini bersamaku. Sial, aku kadang menolaknya. Karena faktor usianya dan rasa takutku akan kedatangan sakitnya itu.

Sebentar, aku tidak tau mengapa aku mencintai cuaca mendung. Aku pernah bercerita kepada ibuku, "mah, banyak penulis yang suka hujan. Kok aku suka sama cuaca mendung?"

"Yaa kalau mendung cucian ga kering-kering" sahut ibuku.

Begini maksudku, ide-ide jeniusku kadang muncul saat cuaca mendung, aku sesekali melihat langit, awan hitam menggumpal. Aku adalah pecinta kopi. Jika cuaca mendung dikolaborasikan dengan kopi, kau tau sendiri.

Disinilah aku menulis, di stasiun, saat cuaca mendung dan kopiku masih menyisakan setengah gelas plastik yang aku beli tadi sebelum sampai ke stasiun. Kau paham?

***

Memang, menurutku Tuhan tidak pernah pilih-pilih menempatkan tempat yang eksentik. Buktinya, kota dan kereta dapat mengingatkan aku kepada ibuku.

***

Kereta datang dari arah Barat. Pas...gerbong tengahnya berhadapan denganku. Aku masuk.

Saat aku masuk, kursinya bukan berbentuk persegi tetapi semacam kolidor sekolah yang menempel di sisi-sisi. Jelas ini tidak menarik. Aku memusatkan penglihatanku menunduk ke bawah. Ya tentu melamun. Bayang-bayangku masih tentang ibu.

Derrtttt.....derrtt..  handphoneku bergetar. Ternyata sodara perempuanku menelpon. Saat aku angkat, katanya, "Ini si mamah pengen bicara"

"Ya. Iya apa mah?"

"Kamu ga papa? Mamah hawatir. Cepet pulang.." suara ibuku tampak lemes.

1 menit berhenti, ada jeda, aku masih melamun sedangkan handhpone belum ada yang mematikan sama sekali entah dari aku atau ibuku. Tidak pula ada pembicaraan setelah ibuku mengatakan demikian.

***

Kesimpulannya, kupikir, yang eksentik dari semua ini saat aku ke luar kota dan naik kereta adalah tak pernah absennya sosok ibu.

Begini..

Pertanyaannya, sepakatkah kalau Tuhan menciptakan gunung itu untuk kita puji, seperti berucap "Subhanalloh" saat melihat betapa indahnya pemandangan, menghirup oksigen segar dan lain-lain. Tetapi apakah kita pernah menuliskan nama ibu kita dalam selembar kertas dan kita upload di media sosial lalu picture belakangnya gunung? Bukankah nama yang biasa orang tulis di kertas itu nama teman atau pasangannya dengan kalimat ajakan, sedangkan nama ibu?

Silahkan berfilsapat..

__________________________

Singkat cerita ketika aku pulang ke Garut. Ibuku tersenyum kecil di luar rumah saat ia sedang mencebor bunga. Aku mencium tangannya.

Aku menoleh ke arahnya namun ibuku sedang menyelesaikan bunga terahirnya.

***

Kota dan kereta, tempat eksentik. Tuhan tidak pernah pilih-pilih.