18 Februari 2016

Mengapa Harus Tunangan?

   

Di dedikasikan untuk merawat ingatan bersama Kania Mega wanita berasal dari Kalimantan yang sekarang sedang menjalani kehidupan di akhir masa SMA-nya. Beliau pernah mempunyai rumah di kota Garut dan tinggal bersama ibu kandungnya serta satu adik perempuannya, tepatnya satu kampung bersama saya. Memang, sempat menjalani kisah asmara beberapa bulan dengannya dan berakhir dengan tetesan air mata.

Seperti biasa, cerpen yang saya tulis selalu di ambil dari kisah nyata seperti cerpen sebelumnya yang berjudul “Bahagia Itu Sederhana’. Kali ini cerpen terjadi pada tahun 2010. Dimana tahun tersebut tahun yang dramatis... Silahkan bagi Anda yang ingin membaca, saya sarankan segeralah untuk putar lagu Super Junior yang berjudul “Lets Not” supaya terbawa dengan cerita dan perasaannya....

Mei, 2010.

“Jujur, aa kenapa lah sekarang udah berubah tidak seperti biasanya?!” Ucap kania, nyolot. Ia melanjutkan pernyataanya dengan rasa kesal. “Aa dulu sering mengucapkan selamat pagi, mau tidur pun membuat kata-kata dulu kemudian di kirimin ke Kania. Tapi sekarang apa coba, aa berubah total! Yaudah gini aja a, kalo aa udah ga sayang, bilang...”. Kania ini macem perempuan yang terus terang, bawel dan tidak mau ambil pusing dalam hubungan. Selalu saja tatkala kami berantem ada kalimat “Yaudah kalo aa udah ga sayang, bilang..” Sebetulnya saya bosan mendengar kalimat itu tapi entah kenapa hati ini seakan-akan tidak mau melepaskannya. Padahal sederhana, tinggal putusin, kelar. Ya mungkin sepertinya sudah terlanjur sayang...

“Berubah apanya lagi?”. Ucap saya, heran. “Itu udah di jelasin kan, pikirin lah sama aa, aa mah sama hubungan teh cuek, udahlah kania pulang dulu!”. Kania memasukan buku-bukunya ke dalam kantong dan segera pulang ke rumahnya dengan rasa kesal yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Percakapan waktu itu di salah satu perpustakaan yang tidak jauh dengan rumah kami.

*Kerap terjadi dalam diri saya ketika seseorang sudah terlanjur sayang selalu ada rasa yang mereka anggap berubah dan cenderung dari sikap. Saya heran betul kenapa dalam hubungan percintaan harus ada kata “berubah” entah itu dari si laki atau si perempuan*

(*2 jam setelah dari perpustakaan*)

“Kamu masih ngambek?” 3 kata awal yang saya ketik untuk memulai percakapan lewat sms. Biasanya ia bales tapi sudah 10 menit tanpa ada balasan. “Kania bales, masih ngambek?”. Sama, tanpa ada balasan. Kemudian  selintas dalam pikiran saya harus kerumahnya dan meminta maaf.

Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB saya pun kerumahnya dengan rasa pemberani tidak mempedulikan ada keluarganya atau apalah yang penting minta maaf, terus terang dan mencoba akan janji untuk mengubah sikap yang selama ini Kania anggap berubah.

Dan kami satu kampung, jadi untuk kerumahnya pun dekat. Sesampai di depan pintu rumah Kania.

“Assalamualaikuum?” Sahut saya, tidak terdengar. “Assalamualaikum?” 2 kali, dan akhirnya pintu rumah pun terbuka kemudian ibunya senyum lebar dengan kedatangan saya. “Waalaikumsalam..eh ada a Ridwan, sok masuk a sini...” Ibu Kania menyuruh masuk. Lalu sayapun masuk dengan senang hati. Sebetulnya, hubungan dengan Kania itu enak, perihal orang tuanya sangat mendukung, saya dan ibu Titin, nama ibu Kania, kenal dekat dan bahkan ia menitipkan Kania kemanapun pergi. “Bu, Kanianya mana ya?” Tanya saya. “Gak tau tuh a tadi pas di perpustakaan langsung ke kamar, sepertinya tidur, bentar ya, ibu lihat dulu.”

Saya menunggu di ruang tamu ibu Titin dengan rasa biasa-biasa seperti tidak punya dosa, kemudian ibu Titin menengok kamar Kania. “Kania? Itu a Ridwan, bangun!”. Tanpa ada kata-kata apapun ia langsung menghampiri saya seusai tidur pulas. Memang agak benar, wanita terlihat cantik saat bangun tidur. Begitupun Kania, dengan matanya yang belotot, rambut panjang dan kulit putih lalu ada kalung huruf “K” di lehernya, mungkin itulah yang membuat saya semakin tidak punya niat untuk melepaskannya.

Kania dan ibunya menghampiri... “eh a?” Ucap kania, senyum sinis. “Dari jam berapa kesini, maaf ya nunggu lama, tadi Kania tidur, maaf sms ga di bales”. Seperti biasa, ia bawel. Juga memang pintar wanita ini, ia mempunyai rasa kecewa terhadap saya namun sengaja di sembunyikan dari ibunya, ia tidak mau ibunya tau jika ia sedang sedih. Tatkala saya ingin menjawab, ibu Titin memotong... “Eh a ridwan, neng, ibu ke dapur dulu ya, sok lanjutin ngobrol-ngobrolnya”.

Suasana pun hening ketika ibu Titin ke dapur. Ada rasa canggung di antara kami. Saya memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan. “Kania, cantik, maaf ya..” Kania memotong pembicaraan “Gak usah di bahas disini!” Galaknya muncul. “Kania udah tau apa yang akan aa tanyakan, sekarang gini aja, Kania belum mandi, belum sholat, aa sekarang pamitan sama ibu, pulang dan nanti kania sms.” Ucap ia, sewot. “Tuhkan kamumah” Ucap saya, lemes. “A? Kania ga mau debat disini. Syukur-syukur Kania udah salut sama aa karena ke rumah Kania, ada pengorbanan, kania sedikit memaafkan aa, tapi ingat, sedikit!”. Galak, bawel, campur aduk kekasih saya ini. Memang menyebalkan, hanya duduk sekitar 15 menit di suruh pulang. Saya ke dapur... “Bu, izin pulang dulu?”. “Aduh a, baru juga tadi ke rumah, belum di kasih air, udah pulang lagi. Ada masalah?” Ucap ibu Titin, sembari mengerutkan bulu halisnya terheran-heran. “Engga ada bu, tadi cuman ngobrol sebentar perihal di perpustakaan hehe”. Ucap saya. “Hmmm yaudah atuh, salam sama ibu aa, ya?” Ujar ibu Titin, senyum lebar.  “Oh siap bu”. Sungkeman, dan pulang. Melewati ruang tamu... “yang, pulang ya!” Sembari menatap Kania. “Heem”. Ucap kania, simple.

(*Kania dan saya sudah menjalani hubungan sekitar 4 bulan dari mulai bulan Februari 2010. Hubungan kami asyik karna sama-sama menyukai hobi yang sama yaitu membaca. Oleh sebab itu, perpustakaan menjadi saksi kisah percintaan kami*)

Malam Hari Itu...

“Assalamualaikum a?” Isi sms Kania ketika saya selesai sholat isya. Kami senang-senangan lewat sms, romantis dan juga masalah yang tadi siang sudah selesai.
Sekitar pukul setengah sepuluh malam agak terkejut dengan 1 pesan Kania yang menyatakan.”Aa ini si Candra ngesms, nelpon, entahlah dia mau apa”. Satu hal lagi yang saya suka dari Kania adalah kejujuran. Candra, ya dia. Laki-laki brengsek yang telah menyakiti Kania ketika SMP. Candra yaitu mantan Kania yang paling ia benci. Codetan di pipi kirinya, kulit yang kurang putihnya dan postur badan yang pendek nan cungkring. Percis seperti pelawak Aming. Memang menyebalkan, ia masih menyayangi Kania. Padahal jelas-jelas ibu Kania tidak menyukai laki-laki hitam itu. Ia selalu mengganggu hubungan kami tatkala sedang romantis-romantisnya. Beberapa kali Kania menegur dengan sapaan. “Jangan ganggu hubungan Kania sama a Ridwan, dong, can!” Tetap saja si codet itu tidak mendengar. Seandainya Kania mengizinkan saya untuk berantem dengannya, habis tuh si Candra.


“Mana nope si Candra?”. Pesan saya, marah. “Sudahlah a, lupakan, Kania juga jarang balas dia.” Ujarnya. “Sekali-kali lagi gangguin kamu, aa habisin dia!” Balas saya. “Iya a, tenang aja, seberapa kali Candra gangguin Kania, gak bakalan Kania respon, hati Kania kan udah milik aa Ridwan hehe” Ucapnya, gombal. “Oh iya a, Kania ngantuk, tidur dulu ya, dadah love yuu muuach”. Begitulah masa alay zaman dulu tatkala saya dan dirinya.

Malam itu posisi mata lurus menatap atap rumah. Membayangkan semua kenangan manis selama 4 bulan bersamanya. Membaca pesan-pesan yang bergairah dan PRAAAAK satu buku perpustakaan dengan judul “Pesan Singkat untuk Perempuan” yang di tulis oleh Muhammad Anwar, jatuh ke bawah lantai. Semua imajinasi hilang seketika dan terheran-heran dengan jatuhnya buku itu tanpa sebab apapun. Terahir baca dalam buku itu temanya “Lenyapnya Sang Perempuan”.

Ada hasrat yang menakutkan, ada bayangan yang sangat hitam.

Anniversary 5 bulan.

2 hari setelah kejadian jatuhnya buku. Tepatnya 2 Juni 2010 kami anniversary 5 bulan. “Happy anniversary 5 bulan sayang, semoga langgeng ya gantengku, semoga tetap romantis seperti ini. Aku menyayangimu!”. Pesan singkat dari Kania setelah saya selesai sholat shubuh.

Begitulah, kadang dengan semrautnya hubungan tidak pernah menyangka sudah 5 bulan lagi padahal seperti masih awal-awal jadian. Kalau sikap saya cenderung tidak pernah mengingat kapan tanggal jadian, yang saya utamakan adalah jalani, jalani dan jalani. Sederhana.

“Iya sayang happy anniv juga. Semoga, semoga dan semoga. Oh iya, pagiii... berangkat sekolah gih nanti kesiangan!”. Balasan saya. Kania berangkat sekolah dengan tukang ojeg langganannya.

*Tidak pernah saya pungkiri bahwa mengingat bulan Juni adalah bulan dimana pembagian raport setelah semua ulangan beres. Dari mulai UTS hingga semesteran. Ini berarti akan ada moment liburan untuk keluarga Kania dan saya*

Minggu kedua pada bulan Juni saya ke rumah Kania terkait seperti biasa mengajak ke perpustakaan membereskan beberapa halaman lagi perihal novel yang telah di pinjam. “Kaniaaaa keluaaar!!” Tulis saya, sembari kesal menunggu dia di luar rumahnya berhubung kala itu adiknya sedang bermain. Karna takutnya adik si Kania ikut ke perpustakaan dan mengganggu kami pacaran. Laki-laki mana yang tidak sebal saat di ganggu sedang pacaran?

 “Iya sebentar, lgi benerin rambut.” Balasnya. 10 menit kemudian ia keluar dengan wajah yang bersih, rambut yang basah seperti selesai mandi memakai shampo sunsilk, lipstik merah yang tipis dan baju yang amat rapih. Memakai jam tangan biru di lengan kirinya kemudian menengok saya yang berada di samping rumahnya. “Heh!” Ucapnya, lembut. “Suuuut!” Kata saya, sambil nunjuk adiknya. Kania ngangguk. Pelan-pelan ia pergi seolah-seolah seperti tukang maling yang tidak mau terlihat oleh orang lain.

“Alhamdulilah” Ucap kami berdua setelah terhindar dari adik perempuannya. “Yuk!” Ucap Kania, senang. Kemudian kamipun berangkat menuju perpustakaan. Di sela-sela jalan biasa tiba-tiba Kania memberi kode untuk meminta agar tangannya di pegang. Saya lihat tangan kirinya yang putih nan lembut. Tanpa lama--saya pegang tangan kiri Kania. Dan Anda tau? Itu seperti dunia milik kami berdua.

Perpustakaan..

Kang Ardi namanya, beliau penjaga perpustkaan. Wajahnya serius, hidupnya di habiskan dengan membaca. Ia seorang penulis, memakai kacamata min dan mungkin kala itu ia sedang membereskan salah satu novelnya.

“Kang Ardi?”. Ucap saya, teriak. “eeh Rid, neng, silahkan masuk..” Ujar kang Ardi. “Siap kang. Nuhun!”. Saya masuk dengan Kania. Beberapa orang di perpus sangat terlihat fokus membaca buku sendirian. Tidak seperti halnya kami yang di sepanjang jalan senyum-senyum sendiri.

Kania membuka tas coklatnya dan memperlihatkan sebuah buku. “yang , lihat, 5 halaman lagi aku kayaknya beres baca novel ini..” Ucapnya, senyum.”Beuh baguslah, novel apa, coba lihat?”. Saya melihat sampul bukunya kemudian di kasihkan lagi novelnya ke Kania. Nampak Kania ini tidak pernah berubah. Selalu saja membaca novel yang berbau romantis. Tidak seperti saya yang lebih menyukai bacaan-bacaan humor seperti dari Raditya Dika dan yang lainnya.

Semua hening, membaca serius.

20 menit kemudian Kania menutup bukunya. “yang?” Ucapnya, mencolek pinggang kanan dan suaranya lemes banget. “Iya?” Saya lihat dia... “Loh kenapa?”.. Tanpa di sadari, Kania replek mengesampingkan kepalanya ke bagian pundak kanan saya. Ngerasa senang namun aneh, ia tidak seperti biasanya melakukan ini. “Jujur, kamu kenapa?” Ucap saya, sewot. Ia tidak menjawab seakan-seakan ada banyak kalimat yang di sembunyikan.

Jujur saja, saya paling jijik sama wanita yang tiba-tiba moodnya gampang berubah. Kemudian di tanya hanya tersenyum atau bersedih tanpa bersuara. Saya kira Kania baper dengan novel yang ia baca. Ah, tapi tak mungkin. “Boleh aa pinjem novel kamu yang?” Ucap saya, penasaran. “Gak boleeeeh wlee..” Ucap Kania sembari menjulurkan lidahnya dan segera memasukan novelnya ke dalam tas.

Kania berdiri.. “Pulang yuk?” Ucapnya. Tanpa kata, saya pun ikut berdiri. Lalu menghampiri kang Ardi. “Kang pulang dulu..” pelan. Kang Ardi ngangguk. “Ayuk” Ucap saya ke Kania. Kami pergi dari perpus.

Berhubung tempat perpustakaan dekat jadi tiap kesana pulang pergi jalan kaki. 1 langkah meninggalkan perpus. Hati ini sungguh berat, seperti ada feeling bahwa ini adalah ke perpus terahir dengannya.

Beberapa langkah menuju pulang Kania memberhentikan perjalanan. “Bentar...Ini baru pukul 11. Ke rumah Kania ya, sembari ada sesuatu yang ingin Kania dan ibu sampaikan ke aa”. Ucap Kania. Entahlah hati ini kisaran 50% siap dan 50% menolak. Tidak seperti biasanya.

Lagi, Ruang Tamu Itu...

Posisi dari pada ruang tamu Kania strategis, dari luar saja dapat di lihat. Itupun juga karna kain yang menutup jendela depan rumahnya agak abstrak.

“Weeeeyy” Kata adik Kania, jail. Namanya Widia, sama-lah seperti kakanya bawel. Namun adiknya lucu dan jailnya kebangetan. “Eh Widiaa!” Ucap saya, sinis. “Mana ibuuu?” mencoba untuk memanjakannya. “Cari aja sendirii” Ucap Widia sembari membenarkan sandal yang akan ia pakai. Ngedadak emosii. Begitulah, memang saya di takdirkan untuk membenci anak kecil!

Sedang berada di rumahnya... “Eeeh kalian... udah dari perpusnya?” Ujar bu Titin, nanya. “Udah buuu hehe” Ucap saya, jawab. Setelah itu semuanya hening, canggung. Sebalnya, melirik Kania nampak moodnya sedang bete. Sesungguhnya greget sekali melihat seorang wanita yang tiba-tiba tanpa masalah apapun ujug-ujug bete.

“Kania kenapaa?” Sapa ibunya. Kania menghela nafas panjang... “Gak tau bu.” Ucapnya, jutek. Ngikut pembicaraan mereka.. “Bu, mungkin Ridwan gak bakalan lama, ini udah jam setengah 12, jadi sebentar lagi pulang...” Kania menyoroti mata ibunya memberikan kode dengan satu kali anggukan kepalanya... Ibunya manggut, kemudian memberikan pernyataan terhadap saya. “hmmm oh iya atuh a Ridwan,eh iya nanti selesai pembagian raport ke rumah ibu ya...ada hal yang harus di bicarakan hehe.” Sehubungan sebentar lagi adzan dzuhur, tanpa pikir panjang... “oh iya buu, insya.alloh..” kemudian melihat jam tangan “kalo gitu Ridwan pamit dulu ya, bu. Kania juga...euu assalamualaikum” Ucap saya sambil berdiri dan keluar dari rumahnya. “Iya waalaikumsalam hati-hati a..”. Saya pun memakai sandal, lalu membalikan badan, dan terlihat Kania lari ke kamarnya.

Sepertinya ada beberapa rahasia yang di simpan dan menunggu untuk di ungkapkan. Cuaca panas, langit biru, awan putih, ada layang-layang yang terputus.....

Raport dan Pertanyaan yang Sulit

Memasuki pertengahan bulan juni yang mana tentunya akan ada pembagian raport di sekolah kami masing-masing.

“Yeeees, aa nilai Kania tidak ada yang merah. Senang banget masuk 4 besar. Meskipun rangking ke-4 tapi ga papalah segini juga udah alhamdulilah” Isi pesan Kania ketika saya sedang tegang menunggu giliran di baginya raport oleh wali kelas. Saya tidak membalasnya karna sepulang sekolah kan di suruh oleh ibunya ke rumah  dan sekalian memberikan ucapan selamat.

Sekitar pukul 2 siang langkah kaki mulai tidak meyakinkan.Muncul di bagian belakang rumah Kania tiba-tiba banyak betul orang-orang yang berkumpul di sekitar rumahnya. Luapan hati bertanya-bertanya “Ini apa sih geje banget, banyak orang!” saya emosi dengan keramaian yang tidak seperti biasanya.

“Buuu?” Ucap saya di depan pintu rumahnya. “Ehh sok masuk-masuuk...” Jawab Ibu Titin, santai. “Kania mana bu?”. Kemudian Kania nongol di kamarnya dan masih memakai seragam sekolahnya. Kania duduk santai di samping saya. Ibu Titin berhadapan lurus dengan saya. Entahlah, keadaan santai dan menakutkan ini seperti melihat rumah kosong yang sudah tua.

Ibu Kania memulai percakapan. Nampak wajah saya serius menyimaknya. “Jadi begini a, sebelumnya terima kasih atas kedatangannya, Kania, kan, udah di bagi raport, berarti setelah ini kami akan liburan..” Saya mencoba untuk so asyik. “Wah keren dong bu, liburan kemana nih, ajaklah neng?” Ucap saya sembari melirik Kania. Ia hanya senyum dikit.
Ibunya kembali bercerita. “A Ridwan kan tau, selama ke rumah ibu tidak ada ayah Kania, kan?”. Imajinasi saya langsung reflek “ oh heeh nya”. Ibu Titin melanjutkan pernyataanya. “Kami sekeluarga akan liburan ke Kalimantan.” “Kembali so asyik. “Wish, bagus dong bu, berapa lama? Paling 2 mingguan ya? Ciee Kania kerenlah, jangan lupa nanti bawa oleh-oleh....” Ibu Titin memotong pembicaraan. “Hmm maaf ya a, mungkin Kania akan melanjutkan sekolahnya di Kalimantan.” Moddar!! Satu kata dalam hati. Pandangan mata kosong serasa aneh saja.

Kemudian Ibu Titin menanyakan hubungan kami. Dan ini tidak seperti biasanya macem menanyakan tentang hubungan. “Oh iya, kalian sudah berapa lama pacaran?”. Di sisi lain Kania sangat sedih, menutup mulut, memainkan handphone Mito miliknya... “Kami sudah 5 bulan, bu.” Ucap saya, santai. “Oh udah 5 bulan.” Ibu Titin kemudian menanyakan serius dan pertanyaannya sangat dalam... “Sebenarnya, ibu sayang sama a Ridwan, Kania sering bercerita tentang a Ridwan, ia sangat menyayangi aa. Cuman, kan, Ayah Kania menyuruh kami untuk tinggal di Kalimantan. Namun gini aja, kalian, kan, sama-sama saling menyayangi. Gimana kalo kalian tunangan?. KAMPREET!

“Oh iya bu hehe perihal itu di pikir-pikir lagi. Euuh gini aja, bu. Gimana ya. Ridwan pulang dulu aja nantii...” Ibu Titin memotong “Oh iya iya ibu ngerti” Ibu Titin mengalihkan pembicaraan  ”Terus berhubung kesana kami akan ke Kalimantan hari minggu. Skrng kan hari jumat, jadi ada persiapan 1 hari sebelumnya. A Ridwan juga pikir-pikir dulu ya.”. “Oh iya siap bu. Kalo gitu izin pamit bu soalnya ini mamah ngesms hehe” sungkeman, larii!.

si Kania hanya menyimak dan terheran-heran dengan perilaku saya yang agak konyol. Dia tau saya berbohong. Taulah feeling wanita, tajam.

*Anda tau apa yang saya rasakan tatkala di tanya tentang tunangan? Itu kampret! Bukan apa-apa, saya terlahir dari keluarga yang agamis. Yang mana dalam islam tidak ada yang namanya tunangan. Bisa-bisa saya di tampar oleh ibu saya dan sekeluarga*

Menghilang....

Setelah melewati hari jumat yang brengsek itu—saya mematikan handphone semalaman. Pagi hari, sabtu. Menyalakan handphone dan banyak sms dari Kania dengan isi. “helow?” “kemana a?” “jadi gimana soal tunangannya?” PAK!

Usut demi usut keluarga dari pada Kania yang berada di Kalimantan memang sudah turun-menurun sebelum menikah harus tunangan dulu. Saya tau sumbernya dari Siska, teman Kania. Ia menceritakan tentang bibi dan paman Kania yang melakukan presepsi tunangan di rumah nenek Kania. Siska ini sahabat Kania dari SD. Dan soal Kania pindah ke Kalimantan memang sebelumnya Siska sudah hafal. Nyesel betul tidak ngobrol-ngobrol bareng Siska sebelumnya.

Hari sabtu rasanya males. Dari mulai balas sms, ngangkat telpon dan lain-lain. Seperti tidak peduli dengan hubungan. Mau di bagaimanakan lagi coba? Hari Minggu ia sudah out dari Garut..dan itu, selamanya!

***

Hari yang sebetulnya tidak di nanti-nantikan itu datang. “A...bisa minta pamitan dulu untuk hari ini,  jam 8 kesini ya, mohon a...” Pesan Kania, lemes, pagi hari, minggu. Ya Tuhan, ada 2 hal yang membuat hati ini bimbang. 1. Melihat Kania pergi, sedih. 2. Mencoba tidak datang saat ia pergi, juga sedih. Ah sudahlah menuruti kata hati yaitu mengambil opsi yang pertama.

Kala itu sesampai di belakang rumahnya terlihat banyak sekali orang-orang terutama tetangga-tetangganya yang sedang kumpul, bergemuruh. Ibu Titin sudah salam-salaman dengan tetangganya. Adiknya masih polos mungkin bertanya-tanya “ini ada apa?” dan Kania sedang sibuk memainkan handphone serta menunggu kedatangan seseorang. Mobil bertulisan Kijang sudah stay di halaman rumahnya. Mungkin hanya menunggu waktu. Waktu yang akan membuat rasa sakit amat dalam—di dalam hati ini.

Rasanya tidak berani membalas sms dan menyapanya dengan so asyik. Ini sangat sedih, menyedihkan. Sepertinya ingin memukul tembok dengan sekencang-kencangnya tanpa mempedulikan berdarah atau tidak. Kemudian Kania kesal. Saya tau betul ekspresi dia ketika kesal. Padahal, saya sedang berada di belakang rumahnya dengan emosi hati “lihat, lihat, lihat!” greget. 
Karna percuma saja menyapanya dengan basa basi tapi berahir dengan perpisahan. Memang, saya mengakui kesalahan dalam moment ini. Namun di sisi lain, untuk apa?

***

Lewat pukul 9 mobil Kijang itu turun kejalan. Keluarga Kania berjalan dan masuk satu persatu ke dalam mobil. Ibu Titin serasa asing terhadap saya, mungkin ia menunggu kepastian. Kania lirik kanan kiri seperti ingin melihat raut wajah terahir saya. Mereka melambaikan tangan mengucap dadah-dadah ke semua orang. Terlihat Kania lirik ke belakang kaca mobil. Melihat saya sekejap, tanpa kata, suara, langsung membalikan badan. Mungkin, kecewa.

Mobil itu lepas dari penglihatan lalu semua orang bubar.

Hanya menyisakan seorang laki-laki yang bodoh, pengecut dan tidak bijak dalam mengambil keputusan. Laki-laki itu sedang berdiri menatap perpustakaan yang meninggalkan kenangan saja, tidak lebih. Berjalan melewati rumah yang sering ia kunjungi, hanya melihat kain abstraknya saja dan kursi yang pernah ia duduki. Ada satu yang  ingin ia tanyakan terhadap kekasihnya yang telah berlalu itu.. “Kania, mengapa harus tunangan?”

***


[Khuhyun]
Ea soongani majimagirago geutorok saranghan geudaegaeh
Neon dolliryeo haedo woolmyeo maedallyeodo geunyang
Shirhdamyeo heyeojimeul marhan naya
[Ryeowook]
Nan hangsang kanghan
Cheokman hajiman
Pyeongsaeng neo hana jikil
Jashin eobseo ddeonan
Bigeophan namjaya

Ini adalah saat terahir kali aku akan mengatakan bahwa hanya kau orang yang ku cintai
Bahkan jika kau mencoba menghidupkan kembali
Bahkan jika kau menyentuh tangisku
Aku adalah orang yang berkata tidak dan tawaran perpisahan kami
Saya selalu bertindak kuat
Tapi aku seorang pria pengecut
Tidak memiliki kepercayaan diri untuk melindungimu selamanya
Jangan mencintai seseorang seperti saya lagi

...........
........... (Super Junior – Lets Not)

Catatan:

Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada tokoh Kania yang telah berkenan mengizinkan cerpen ini untuk di tulis. Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah. Terimakasih juga telah menyempatkan waktu untuk membaca.