![]() |
| DI belakang gunung Guntur. |
Ada salah satu gunung di kota Garut, Jawa Barat, yang umumnya masyarakat sudah pernah menginjakan kaki disana, namanya gunung Guntur. Ketinggian gunung itu mencapai 2.249 m atau 7.378 kaki, menurut catatan Wikipedia.
Ah, hebat betul gunung Guntur ini. Mempunyai kawasan hutan Dipterokarp bukit pada bagian atasnya, lalu hutan montane dan hutan Ericaceous. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan curug Asram (Air terjun Asram). Salah satu curug yang telah kami (saya dan rekan-rekan) singgahi. Mungkin, orang-orang Garut hafal betul yang namanya curug ci tiis (Air terjun dingin). Tapi, curug Asram?
Lokasi dari pada curug Asram berada di belakang gunung Guntur. Untuk menuju ke curug ini Anda akan di berikan ucapan selamat datang oleh batu yang besar-besar dan dataran yang cukup tinggi. Sehingga, tenaga yang Anda bekal dari rumah akan sedikit terkuras. Tapi, saya yakin rasa lelah itu akan terbayar setelah Anda sampai lokasi. Bukan apa-apa, oksigennya sejuk, rumputnya hijau tebal dan airnya jernih.

Ada sedikit keresahan tatkala kami sesampai di lokasi, yaitu
problem air. Rekan-rekan saya sebetulnya bukan yang pertama ke curug ini.
Ketika usia saya kecil, sekitar 9 tahun, mereka sudah pernah. Tapi untuk diri
pribadi ini yang pertama kali. Sebab dulu tidak di beri izin oleh orang tua.
Lalu, maksud dari pada problem air adalah curahan airnya sedikit. Kami sempat
berpikir, ini kan musim hujan tapi masa airnya sedikit. Usut demi usut ternyata
pihak pengelola air di gunung ini sudah di modifikasi, yaitu di sekitar puncak
gunung mereka membuat beberapa bendungan untuk nantinya si air tersebut
kebagian kepada warga yang rumahnya jauh dari gunung. Karna, air yang mengalir
di gunung Guntur ini sampai rumah sayapun kebagian. Pantas saja di sepanjang
perjalanan banyak selang air yang besar-besar dan panjang.
Kalau kata rekan-rekan saya, dulu di curug Asram ini airnya
besar. Nyesel betul saya dulu tidak ikut. Tapi tidak apa-apa, untuk menghilangkan
penyesalan tersebut, ada segelas kopi yang menemani.
Syahdu memang meminum kopi di pagi hari dan 2 jam sebelum matahari tenggelam. 2 rutinitas yang sering saya lakukan di rumah untuk meneguk minuman kesayangan itu. Dan sungguh sporadis ketika kopi di suruput di tempat yang belum pernah saya lakukan. Oleh karena itu, saran saya, bagi para pecinta alam, bawalah air panas dari rumah dan beberapa bungkus kopi favorit Anda, satu lagi plus rokok. Ah, kenikmatannya, jelas berbeda.
Memang telah menjadi kebiasaan ketika saya ataupun Anda,
mungkin, berkumpul dengan rekan-rekan yang agak koclak kemudian selalu saja ada
moment dimana salah satu dari teman kita kena ejekan. Seperti rekan saya yang
namanya Asep. Beliau ke gunung memakai sandal, tidak seperti kami yang memakai
sepatu. Di sepanjang jalan dirinya mengaggumi akan kehebatannya memakai sandal
ke gunung, katanya kuat. Tapi faktanya, ketika naik ke dataran yang lebih
tinggi agak kesusahan karena jalanan licin, bahkan beberapa kali hampir jatuh
akibat sendal capitnya, dan pada akhirnya Ketinggalan jauh. Kemudian celetohan rekan-rekan saya ke si
Asep: “Kemana-mana gak malu bawa ente mah sep, tiap jalan, pasti serasa paling
ganteng”. Mereka menganggap si Asep ini paling jelek. Parah. Tapi anehnya,
kadang saya berpikir, seu-di ejek-ejeknya dia tetap saja tidak marah. Ia tetap
tertawa lepas, tidak ada rasa tersinggung. Ya mungkin disanalah letak
kebersamaan dan keseruannya bersama sahabat.
![]() |
| Segelas Kopi di Curug Asram |
Setelah makan-makan, kopi menjadi penenang untuk kami
(berlima). Memang, manifestasi kopi
saat di minum bersamaan serasa plong, segala mumet, cape, hilang seketika. Saya
tidak pernah merasa ketakutan atas kecanduan terhadap minuman ini.
Meneguk segelas kopi di gunung sudah menjadi impian saya
sebelumnya. Ketika mereka mengajak saya lewat bbm, langsung konfirmasi
menyatakan siap. Alih-alih dari pada itu sudah menyiapkan 1 bungkus kopi good
day serta air panasnya. Namun, ternyata salah satu dari teman saya juga sudah
menyiapkan 1 botol air panas dan 5 kopi good day. Ah, tambah edan. Saya
mengira, hanya saya saja yang akan minum kopi. Ternyata mereka juga sama.
Sempat berjanji saat menengok hutan, rintihan hati berujar,
selagi Tuhan masih memberi nafas untuk hidup, akan banyak kaki ini melangkah
mengaggumi penciptaanNya, dengan maksud keshahihan hati untuk selalu bersyukur
agar nikmat-nikmat semakin berkumpul. Sesederhana itu.
***
Ada cerita di balik curug Asram ini. Ada rasa yang telah di
wujudkan. Ada pengalaman yang tidak akan pernah di lupakan dan ada tulisan yang
akan di kenang.

