9 Maret 2016

International Womens Day

Sungguh ngeri, Tuhan, melihat manusia di era globalisasi ini. Seringkali saya mendengar celetoh celetoh anak muda, khususnya kaum laki, mengatakan bahwa, ‘Apakah di zaman ini masih ada wanita yang perawan? Yang lebih mahal, banyak’ Duh sampeyan ini bicaranya kagak bisa di jaga. 
Mungkin opini pribadi yang lebih menghawatirkan adalah justru terhadap anak kecil yang hidupnya di habiskan oleh kasih sayang seorang baby sitter, bukan oleh ibunya. Ini terkait masalah ibu karir.

Untuk urusan masih banyak perawan dan tidaknya, saya kurang tau, karna diri pribadi tidak bisa menilai sembarangan mana perempuan yang sudah perawan mana yang belum. Bahaya, loh, nuduh orang yang keperawanannya masih di jaga tapi di tilai sudah tidak ada. Yang saya tau pokoknya kalau ada wanita yang hamil, nah itu yang udah kagak perawan. Tidak seperti mereka-mereka yang menilai wanita sudah tidak perawan dapat di lihat dari cara berjalannya, kepribadiannya dan lain-lain. Katanya, menurut sebagian laki-laki. Ampun.

Membahas perempuan itu memang luar biasa. Sekali bertepatan hari ibu atau sekarang Internasional Womens Day, di twitter, langsung trending topic. Jangankan di media sosial, di dunia nyata pun acapkali kaum kami membicarakannya.

Urgensi wanita sangatlah mulia. Pertama yang umum, mari bahas dulu menyoal ibu rumah tangga. Tugas yang dapat saya pahami dari ibu rumah tangga adalah mengurus anak dan suami. Unik, sumpah. Dalam hal ini si ibu harus menyeimbangkan anatara untuk anak dan sang suami. Pagi-pagi harus menyiapkan sarapan untuk kedua orang yang ia sayangi tersebut. Terlebih, ketika si anak berangkat sekolah dan si suami hijrah ke tempat pekerjaan, sang ibu bukan istirahat, tapi ia harus menyelesaikan semua pekerjaan di rumah. Entah itu nyuci, ngepel, intinya beres-beres (ini kriteria ibu sederhana yang tidak serba praktis di dalam rumahnya). Pernah sesekali bertanya, apakah cape? Jawabannya tidak munafik, cape, tapi di sisi itu, mengatakan, ini sudah kewajiban seorang istri. Cakep.

Kemudian tentang bagaimana prinsip wanita karir. Nah ini, lho, yang di jadikan bahan perdebatan. Ada sedikit uneg-uneg seperti di paragraf pertama. Saya paling kasihan terhadap anak kecil yang hidupnya di asuh oleh baby sitter. Karena penasaran, pernah bertanya kepada tetangga, wanita karir, alasan berkarir itu untuk apa. Dan jawaban dari mereka kebanyakan perihal ekonomi. Jadi katanya ingin membantu penghasilan suami yang kiranya kurang cukup. Lalu selain itu tentang kepentingan bisnis, perusahaan, kesibukan dan lain-lain.

Memang pendapat pribadi salut betul kepada wanita karir. Bahkan ingin memilikinya. Tapi di samping itu seharusnya dapat menyeimbangkan anatara karir dan kasih sayang kepada anak. Anak mana yang tiap harinya tidak sedih ketika jauh dari sang ibu? Mungkin karena anak-anak, mereka happy-happy aja bergaul dengan bukan ibunya atau dengan neneknya. Beruntungah hidup ini yang sedari kecil bersama ibu hingga dewasa. Thanks, mom!

Berikutnya, wanita muda. Saya sangat heran dengan kehidupan di zaman ini. Sekarang sudah banyak di pabrik-pabrik kebanyakan yang bekerja adalah seorang wanita. Pernah sempat mewawancari seorang staff di salah satu pabrik. “Mas, alasan pabrik ini menerima banyak wanita untuk apa?” Jawabannya sederhana; “wanitaa, yaa biar jujur.” Oke, laki-laki pembohong. Sip. Bukan apa-apa, saya meyakini dalam hati jikalau pabrik itu suatu saat bangkrut atau lebih tepatnya kurang pass tempo hari dalam penggajihan, saya yakin wanita tidak berani demo. Sebagian ya. Mereka (bos pabrik) takut, seperti yang sudah-sudah kena demo oleh laki-laki. Makanya, memprioritaskan wanita.

Namun yang lebih menakutkan dalam satu pabrik adalah dengan di adakannya kata “shift”. Laaa ya Allah, tidak kebayang wanita-wanita yang haus duit bela-belain kerja shift malam. Itu waktu tidur, lho. Bagaimana kalau ada apa-apa ketika pulang shubuh hari? Yang kemarin-kemarin saja tabrakan—pulang shubuh, kemudian meninggal karena ngantuk setelah bekerja semalaman. Duh. Nyawa = uang = takdir.

Makanya di era sekarang justru diri ini lebih salut sama wanita yang masuk ke dunia perkuliahan setalah lulus SMA. Ada yang masuk kebidanan, keguruan, dan sebagainya. This is generation Kartini. Jujur saja, wanita cerdas lebih menggoda dari pada wanita yang memakai rok mini di malam hari. Buat aku, sih. Cerdas yang di harapkan yaitu dapat mengelola duit yang baik, tidak di hambur-hamburkan. Pokoknya yang paham bahwa kewajiban wanita itu apa, kemudian ia aplikasikan. Kan, weenak.

Ooh wanita muda, yang sudah baligh. Apa susahnya hidup ini berusaha untuk membahagiakan orang tuamu. Anda tau, mamahmu, bapakmu, lebih senang malam hari itu diam di kamar, bukan main malam-malam. Itu saja, sudah cukup membuat mereka bahagia. Kalau ingin membeli kebahagiaan mereka dengan duit, tidak akan kecapai. Jadilah anak yang berkualitas, yang patuh terhadap orang tua. Mumpung masih muda, lho. Mengapa demikian? Ooh wanita muda, tidak sedikit di malam hari banyak yang berkeliaran. Itu untuk apa? Menjual diri, mah, bukan wanita karir, bukan.

Cobalah tampil lebih pintar, sekarang era digital. Banyak orang yang kerja cerdas, hanya diam di rumah menghasilkan duit. Begitupun kamu? Usaha kecil-kecilan, halal, lebih mantep dari pada berkeliaran malam hari mencari om-om.

Kedua, mari kita tilik wanita dari segi agama. Ampun, gustii. Tak sedikit di dunia ini kaum kami yang menginginkan wanita sholehah, semuanya ingin, meski syaratnya hanya satu; harus sholeh dulu. Karna sesungguhnya, perempuan baik itu untuk laki-laki yang baik. Tidak akan ketuker.

Hai perempuan muslimah, ada dua aturan di kehidupanmu. 1. Menjaga aurat. 2. Diam di rumah. Tuhkan, diam di rumah kebawa-bawa lagi. Tolong kesampingkan pernyataan-pernyataan, ‘Ah untuk apa memakai jilbab, hidupnya belum tentu bener’. Percayalah, justru dengan menjaga aurat sedikitnya di kemudian hari hati akan kebawa bener. Menutup aurat itu sudah kewajiban sebagai wanita yang beragama islam. Tiada yang enak sebagai wanita, sholat di rumah, diam di rumah, menutup aurat, patuh kepada suami. Al-jannah.

***

Okelah sebagai penutup essaii ini perihal Internatioanl Womens Day, yang sebetulnya bahasannya mondar-mandir, gak akurat-akurat dan gak mendalam-mendalam amat. Beberapa quote yang saya temukan dari #InternationalWomensDay

Happy #InternationalWomensDay Tetap jadi wanita yg punya harga diri tinggi, gak mudah disentuh n dimiliki oleh smbrng org yg blm halal

Selamat hari perempuan nasional! Perempuan itu harus mandiri, kuat & juga pintar. Karena cantik saja itu tdk cukup! #InternationalWomensDay

Setiap perempuan adalah berharga, hadirnya membuat dunia penuh warna. #InternationalWomensDay

Selamat hari perempuan internasional, semoga generasi perempuan tetap jaya dan selalu kuat terhadap rintangan apapun #InternationalWomensDay

Happy #InternationalWomensDay buat para wanita yang masih tau artinya jaga diri dan harga diri

Wanita yang kuat adalah wanita yang sanggup tersenyum ditengah kesedihannya- #InternationalWomensDay


Ambil hikmah setelah membaca.