Sungguh ngeri, Tuhan, melihat manusia di era globalisasi ini. Seringkali saya mendengar
celetoh celetoh anak muda, khususnya kaum laki, mengatakan bahwa, ‘Apakah di
zaman ini masih ada wanita yang perawan? Yang lebih mahal, banyak’ Duh sampeyan
ini bicaranya kagak bisa di jaga.
Mungkin opini pribadi yang lebih
menghawatirkan adalah justru terhadap anak kecil yang hidupnya di habiskan oleh
kasih sayang seorang baby sitter, bukan oleh ibunya. Ini terkait masalah ibu
karir.
Untuk urusan masih banyak perawan dan tidaknya, saya kurang tau, karna diri pribadi tidak bisa menilai sembarangan mana perempuan yang sudah perawan mana yang belum. Bahaya, loh, nuduh orang yang keperawanannya masih di jaga tapi di tilai sudah tidak ada. Yang saya tau pokoknya kalau ada wanita yang hamil, nah itu yang udah kagak perawan. Tidak seperti mereka-mereka yang menilai wanita sudah tidak perawan dapat di lihat dari cara berjalannya, kepribadiannya dan lain-lain. Katanya, menurut sebagian laki-laki. Ampun.
Membahas
perempuan itu memang luar biasa. Sekali bertepatan hari ibu atau sekarang
Internasional Womens Day, di twitter, langsung trending topic. Jangankan di
media sosial, di dunia nyata pun acapkali kaum kami membicarakannya.
Urgensi
wanita sangatlah mulia. Pertama yang umum, mari bahas dulu menyoal ibu rumah
tangga. Tugas yang dapat saya pahami dari ibu rumah tangga adalah mengurus anak
dan suami. Unik, sumpah. Dalam hal ini si ibu harus menyeimbangkan anatara untuk
anak dan sang suami. Pagi-pagi harus menyiapkan sarapan untuk kedua orang yang
ia sayangi tersebut. Terlebih, ketika si anak berangkat sekolah dan si suami
hijrah ke tempat pekerjaan, sang ibu bukan istirahat, tapi ia harus
menyelesaikan semua pekerjaan di rumah. Entah itu nyuci, ngepel, intinya
beres-beres (ini kriteria ibu sederhana yang tidak serba praktis di dalam
rumahnya). Pernah sesekali bertanya, apakah cape? Jawabannya tidak munafik,
cape, tapi di sisi itu, mengatakan, ini sudah kewajiban seorang istri. Cakep.
Kemudian
tentang bagaimana prinsip wanita karir. Nah ini, lho, yang di jadikan bahan
perdebatan. Ada sedikit uneg-uneg seperti di paragraf pertama. Saya paling
kasihan terhadap anak kecil yang hidupnya di asuh oleh baby sitter. Karena
penasaran, pernah bertanya kepada tetangga, wanita karir, alasan berkarir itu
untuk apa. Dan jawaban dari mereka kebanyakan perihal ekonomi. Jadi katanya
ingin membantu penghasilan suami yang kiranya kurang cukup. Lalu selain itu
tentang kepentingan bisnis, perusahaan, kesibukan dan lain-lain.
Memang
pendapat pribadi salut betul kepada wanita karir. Bahkan ingin memilikinya.
Tapi di samping itu seharusnya dapat menyeimbangkan anatara karir dan kasih
sayang kepada anak. Anak mana yang tiap harinya tidak sedih ketika jauh dari
sang ibu? Mungkin karena anak-anak, mereka happy-happy aja bergaul dengan bukan
ibunya atau dengan neneknya. Beruntungah hidup ini yang sedari kecil bersama
ibu hingga dewasa. Thanks, mom!
Berikutnya,
wanita muda. Saya sangat heran dengan kehidupan di zaman ini. Sekarang sudah banyak
di pabrik-pabrik kebanyakan yang bekerja adalah seorang wanita. Pernah sempat
mewawancari seorang staff di salah satu pabrik. “Mas, alasan pabrik ini
menerima banyak wanita untuk apa?” Jawabannya sederhana; “wanitaa, yaa biar
jujur.” Oke, laki-laki pembohong. Sip. Bukan apa-apa, saya meyakini dalam hati
jikalau pabrik itu suatu saat bangkrut atau lebih tepatnya kurang pass tempo
hari dalam penggajihan, saya yakin wanita tidak berani demo. Sebagian ya. Mereka
(bos pabrik) takut, seperti yang sudah-sudah kena demo oleh laki-laki. Makanya,
memprioritaskan wanita.
Namun
yang lebih menakutkan dalam satu pabrik adalah dengan di adakannya kata
“shift”. Laaa ya Allah, tidak kebayang wanita-wanita yang haus duit bela-belain
kerja shift malam. Itu waktu tidur, lho. Bagaimana kalau ada apa-apa ketika
pulang shubuh hari? Yang kemarin-kemarin saja tabrakan—pulang shubuh, kemudian
meninggal karena ngantuk setelah bekerja semalaman. Duh. Nyawa = uang = takdir.
Makanya
di era sekarang justru diri ini lebih salut sama wanita yang masuk ke dunia
perkuliahan setalah lulus SMA. Ada yang masuk kebidanan, keguruan, dan
sebagainya. This is generation Kartini. Jujur saja, wanita cerdas lebih
menggoda dari pada wanita yang memakai rok mini di malam hari. Buat aku, sih. Cerdas
yang di harapkan yaitu dapat mengelola duit yang baik, tidak di
hambur-hamburkan. Pokoknya yang paham bahwa kewajiban wanita itu apa, kemudian
ia aplikasikan. Kan, weenak.
Ooh
wanita muda, yang sudah baligh. Apa susahnya hidup ini berusaha untuk membahagiakan
orang tuamu. Anda tau, mamahmu, bapakmu, lebih senang malam hari itu diam di
kamar, bukan main malam-malam. Itu saja, sudah cukup membuat mereka bahagia.
Kalau ingin membeli kebahagiaan mereka dengan duit, tidak akan kecapai. Jadilah
anak yang berkualitas, yang patuh terhadap orang tua. Mumpung masih muda, lho.
Mengapa demikian? Ooh wanita muda, tidak sedikit di malam hari banyak yang
berkeliaran. Itu untuk apa? Menjual diri, mah, bukan wanita karir, bukan.
Cobalah
tampil lebih pintar, sekarang era digital. Banyak orang yang kerja cerdas,
hanya diam di rumah menghasilkan duit. Begitupun kamu? Usaha kecil-kecilan,
halal, lebih mantep dari pada berkeliaran malam hari mencari om-om.
Kedua,
mari kita tilik wanita dari segi agama. Ampun, gustii. Tak sedikit di dunia ini
kaum kami yang menginginkan wanita sholehah, semuanya ingin, meski syaratnya
hanya satu; harus sholeh dulu. Karna sesungguhnya, perempuan baik itu untuk
laki-laki yang baik. Tidak akan ketuker.
Hai perempuan
muslimah, ada dua aturan di kehidupanmu. 1. Menjaga aurat. 2. Diam di rumah.
Tuhkan, diam di rumah kebawa-bawa lagi. Tolong kesampingkan
pernyataan-pernyataan, ‘Ah untuk apa memakai jilbab, hidupnya belum tentu
bener’. Percayalah, justru dengan menjaga aurat sedikitnya di kemudian hari hati
akan kebawa bener. Menutup aurat itu sudah kewajiban sebagai wanita yang
beragama islam. Tiada yang enak sebagai wanita, sholat di rumah, diam di rumah,
menutup aurat, patuh kepada suami. Al-jannah.
***
Okelah
sebagai penutup essaii ini perihal Internatioanl Womens Day, yang sebetulnya
bahasannya mondar-mandir, gak akurat-akurat dan gak mendalam-mendalam amat. Beberapa
quote yang saya temukan dari #InternationalWomensDay
Happy #InternationalWomensDay Tetap jadi wanita yg punya harga diri
tinggi, gak mudah disentuh n dimiliki oleh smbrng org yg blm halal
Selamat hari perempuan nasional! Perempuan
itu harus mandiri, kuat & juga pintar. Karena cantik saja itu tdk cukup! #InternationalWomensDay
Setiap perempuan adalah berharga, hadirnya
membuat dunia penuh warna. #InternationalWomensDay
Selamat hari perempuan internasional, semoga
generasi perempuan tetap jaya dan selalu kuat terhadap rintangan apapun #InternationalWomensDay
Happy #InternationalWomensDay buat para wanita yang masih tau artinya jaga
diri dan harga diri
Wanita yang kuat adalah wanita yang sanggup
tersenyum ditengah kesedihannya- #InternationalWomensDay
Ambil
hikmah setelah membaca.