18 Maret 2016

Jadi Aldi Selingkuh?



“Wan, kamu bisa ga hari ini ke sekolah pagi-pagi. Aku ingin curhat tentang si Aldi!” Pesan dari Meli ketika saya hendak akan mandi.

“Ngapain mel? Tanggung lah, males. Hari sabtu, kan, santai”.

“Pokoknya harus pagi-pagi. Kalau tidak, kita end sebagai teman curhat!” Balasnya, iseng.

***

Mengutip dari bukunya Raditya Dika, Koala Kumal, dalam isinya yang berjudul “Patah Hati Terhebat”. Ada satu kalimat, “SEMUA cowok punya teman cewek yang sedekat apapun mereka, tahu teman cewek itu gak bakalan jadi pacar.” Memang benar apa yang di tulis oleh bang Radit. Meli adalah sahabat perempuan saya yang paling dekat. Serius, ia cantik. Namun karakternya agak aneh. Setengah peminim dan setengah tomboy.  Ia pintar menyesuaikan diri. Dengan siapa ia harus peminim dan dengan siapa ia harus tomboy.

Kecantikan Meli membuat saya kadang kala jatuh cinta. Tapi, ah, itu hanya sekedar mengagumi dan tidak mungkin memilikinya. Sebab, kami sudah sepakat berteman, tidak lebih.

Aldi laki-laki yang sangat di sayangi oleh Meli. Entahlah, saya kurang paham mengapa ia mencintai Aldi. Padahal, si Aldi anak gengster XTC. Tau, kan, anak gengster, hobinya nongkrong. Setengah dari kehidupannya mencintai motor ketimbang pacarnya sendiri.

Sesungguhnya beberapa kali saya berpesan kepada Meli, “Mel, yakin kamu sayang sama si Aldi. Hati-hati mel, dia, kan..” Meli memotong pembicaraan. “Haha, enggalah pokonya si Aldi itu baik, titik!”.

Saya sebetulnya sudah tau seluk beluknya si Aldi. Tapi susah untuk terus terang kepada si Meli. Ia selalu membela pacarnya. Memang begitulah, cinta Meli ke si Aldi sudah di butakan.

***

Tumben-tumbenan berangkat sekolah pagi-pagi. Nyampe gerbang—dari kejauhan Meli tersenyum. Saya sudah meyakini ia akan curhat tentang kesenangannya bersama Aldi.

“Weehehehe nurut juga berangkat pagi. Wahaha” Ucap Meli.

“Iya Mel..”

“Yaudah, duduk dulu atuh haha” Ucap Meli. Kemudian kami duduk bersamaan di kelas. Meli membuka tas, “Taraaaaaa” Ia memperlihatkan jam kecil berwarna biru, ”Kemarin si Aldi ngasih ini Wan, seneng banget!” Ujarnya.

“Oh gitu. Terus?”

“Iya, kemarin tuh ginii” Meli berdiri. Ia menggerak-gerakan tangannya. “Eummmm...si Aldi itu ngajak aku ke toko jam ini...inii iniii” Ia memamerkan jam tangan barunya itu. “Setelah itu aku di ajak kerumahnya. Tapi ga ngapa-ngapain kok. Jangan mikir yang engga-engga ya!” Nyentak. “Aku ga bisa ngomong apa-apa pas berhadapan sama ibunya. Cuma menjawab pertanyaan dari mana, tersenyum. Yaudah, gitu, grogii.”

“Oh baguslah” Jawab saya, lemes.

“Euh kenapa kamu, cieeeee cemburu?” Balasnya.

“Mustahil cemburu sama kamu mel. Yaudah bentar, ke warung dulu, gara-gara berangkat pagi. Sarapan kurang nikmat”.

“Beuuh maaf haha, ya juuug!”

***

Duduk di warung sekolahan sambil merobek gorengan. Kemudian membayangkan sosok Aldi yang semestinya Meli tau. Hati riuh “Meli bodoh. Meli bodoh. Meli bodoh.”

Meli dan Aldi beda sekolahan. Logikanya begini, Meli tipikal orang yang hidupnya di kamar. Aldi di luar rumah. Seumur-umur berteman dengan Meli—belum pernah melihat ia ngobrol dengan laki-laki yang tidak saya kenal. Tapi si Aldi. Ketika sekolahan saya dan Aldi adu futsal. Ia pernah membonceng cewek. Saya yakin, cewek yang di bonceng Aldi bukan temannya. Masa boncengan tangan si ceweknya itu pake gerak melingkar segala sembari kepalanya di pundak si Aldi. Okelah, raut wajah si Aldi tidak mencurigakan. Ia santai, cakep, tapi, kan, begitu di belakang Meli? Ia dusta.

Saya sangat menyayangkan Meli. Ia cewek yang baik meski gak pintar-pintar amat. Banyak teman-teman saya yang menginginkannya. Kalau minta nope si Meli harus lobi lewat saya dulu. Tapi sayang, ia mencintai seseorang yang salah.

Setelah dari warung, masuk kelas dan belajar biasa.

Jam istirahat berbunyi..Meli menghampiri.

“Wey, ehem, jadi-gimana-hubungan-kamu-sama-siii...yang kelasnya itu. Haha, ups.”

“Apaan lah.” Ucap saya, sembari mengerjakan matematika.

“Maraaah hahaha” Balasnya.

Kemudian suasana hening. Di samping itu, tiba-tiba Meli bertanya sambil menatap handphone dengan kecurigaan. “Wan, apa iya, si Aldi itu anak gengster?”.

Yang tadinya sedang nulis ngedadak berhenti. “Gak tau Mel”.

“Ini buktinya?” Meli memperlihatkan handphonennya. Ia sedang facebookan dan nama Aldi di tag oleh rekan-rekan gengsternya dengan sebuah status. “Besok kumpul di tempat biasa euy. Kudu jadi!”.

“Gak tau atuh Mel. Kamu kan pacarnya, jadi tau segalanya” Ucap saya.

“Tapi, kan, ah sudahlah...semoga bukan!”.

Ada sisi kecemasan setelah Meli membaca status itu.

***

Hari demi hari berlalu, saya ngerasa seperti orang asing di sekeliling Meli. Ia yang biasanya sumringah menceritakan kebahagiaannya bersama Aldi. Kini, mimik wajahnya pucat, sedih. Ada yang beda dalam dirinya. Lantas saya penasaran dengan keadaan dia yang tampak aneh itu.

“Wey kenapa?” Mengagetkannya ketika ia sedang melamun di dalam kelasnya.

“JANGAN MENDEKAT!” Ucap Meli, kemudian ia berjalan pergi ke luar kelas.

Spontan kaget dengan perilakunya yang tidak seperti biasa.

“Sar, si Meli kenapa?” Tanya saya kepada teman sebangku Meli. Namanya Sari.

“Gak tau wan, akhir-akhir ini dia cemberut mulu” Balas Sari.

Di luar, Meli duduk di kolidor sembari sibuk memainkan handphone cross putihnyan itu. Karena ngerasa kasihan dengan keadaannya. Saya mendekati dan bertanya pelan, “Mell, kamu kenapa?”

Meli melirik dengan sudut mata kanannya. Namun ia tetap diam, tidak ingin menceritakan masalahnya. “Mell, jawab. Jujur, kenapa?”

Meli menghelas nafas...”Wan, di sekolah kita ini ada mata-mata. Ada teman si Aldi. Aku takut, si mata-mata ini nanti ngebilangin ke si Aldi kalau kita sering dekat seperti ini. Makanya, aku menjauh dari kamu. Paham?”

“Siapa, laki atau perempuan?”

“Aku juga ga tau. Sudahlah, jangan mengikuti Meli. Lewat sms aja curhatnya. Maaf” Meli kembali bergegas ke kelasnya.

Saya semakin bingung dengan keadaan kacau seperti ini. Namun ada feeling kalau mata-matanya si Aldi itu perempuan. Tidak mungkin laki-laki karena di sekolahan saya tidak ada yang segeng dengan si Aldi atau bahkan satu kampung pun tidak ada.

***

1 hari setelah penasaran dengan kejadian ini. Seolah-olah saya menjadi seorang detektif untuk memecahkan, membantu, membereskan problem Meli. Bodohnya, mengapa melakukan ini? Padahal ia hanya sebatas teman biasa.

Membuka facebook dan mengecek status rekan Aldi yang ngetagnya. Saya klick lalu memahami dalam-dalam. Melihat nama-nama yang di tagnya, ada beberapa nama perempuan, satu diantaranya satu sekolahan.

Ternyata, feeling yang sebelumnya tepat. Namanya Sintia, ia perempuan tomboy yang rutin ngikut nongkrong dengan gengster yang bernama XTC-nya. Ia pasti mata-matanya si Aldi untuk mengetahui keberadaan Meli, melihat Meli melakukan apa saja di sekolahnya, dan nantinya akan dilaporkan.

“Mel...mata-mata selama ini namanya Sintia, samping kelas kamu!” Ketik saya.

“Oh dia. Pantes pas aku ke kantin. Dia liatin aku mulu, wan!” balas Meli.

Saya tidak membalas sms Meli setelah itu. Tiba-tiba.........

“Wan, bantuin aku....aku pengen putus sama si Aldi”. Pesan Meli, setalah saya hendak ingin menyudahi smssan dengannya.

Deg-deg. Deg-deg. Jantung saya tiba-tiba berdetak cepat ketika membaca kata putus.

“Terserah kamu Mel” balas saya.

Meli dan Aldi setau saya hubungannya sudah cukup lama. Sekitar 8 bulanan. Dan mendengar kata putus serasa ngehek. Tidak percaya. Meli bukan tipe perempuan yang gampang menyatakan putus terhadap laki-laki perihal setiap hubungan di jalani dengan keseriusan.

***

Sabtu..

Tuhan memberkati, pagi hari, sabtu, semua siswa di berikan kebahagiaan sebab semua guru rapat. Niat hati ingin menindak lanjuti terkait si mata-mata yang di samping kelas itu. Masuk kelas Meli, ia sedang mengalami mood yang buruk. Meli dan Sari, teman sebangkunya, lagi berpelukan. Begitu saya mendekatinya, Meli melirik dan reflek memberikan handphonenya. Ternyata ia putus dengan Aldi. Isi smsnya....

Meli: Aldi, aku ga nyangka kalau kamu anak gengster. Kenapa ga jujur?

Aldi: Maaf, Mel. Udahlah, aku ga mau berantem. Aku rela keluar gengster demi kamu.

Meli: Bohong! Kata kamu di antara kita jangan ada yang dusta. Harus saling terbuka dan jujur!

Aldi: Iya Mel, maafin Aldi. Aldi nyesel...sumpah.

Meli: Jujur di, ini yang kedua kalinya kamu nyakitin Meli sesakit ini.

*Yang saya tau, pada anniversarry ke 3 bulan, Meli pernah di sakitin Aldi gara-gara si Aldi bohong mengatakan orang yang di boncengnya kala itu sodaranya, padahal teman ceweknya. Dan itu percis sejak kelas saya dan Aldi adu futsal, si ceweknya kembali di bonceng lagi. Entah temannya atau siapalah*

Aldi: Iya Mel, maafin Aldi. Janji, Aldi gak bakalan mengulanginya lagi.

Meli: Udahlah di, Meli pengen sendiri. Kita udahan aja..

Aldi: Serius Mel, kita putus?

Meli: Iya.

Aldi: Baguslah. Yakin kamu ga bakalan nyesel?

Meli: ?

Aldi: Maaf Mel, jujur, sebetulnya selama ini Aldi ngeduain kamu...

Setelah membaca sms Meli dan Aldi.

“Mel, ini si Aldi parah?” Ucap saya, nanya, sembari memberikan handphonenya.

“Hah!” Balas Meli, senyum sinis.

Di sela-sela tidak ada guru. Saya pun pergi ke kelas Sintia, si mata-mata itu.

“Sin, sin, bisa ngobrol sebentar?” Tanya saya, ketika Sintia hendak akan keluar kelas.

Saya dan Sintia ngobrol tepat di kolidor kelasnya.

“Sin..taukan? Si Aldi dan Meli udah putus?”

“Oh mereka putus. Hahahaha” Balas Sintia, tertawa jahat.

Dengan penuh keanehan, saya hanya menyimak pembicaraan Sintia berikutnya.

“Si Meli itu perempuan bodoh. Dia mau-maunya di duain si Aldi hahahha. Si Aldi itu orang sableng. Playboy yang so kagentangan! Hahaha”

“Bentar, Sin. Diakan teman kamu. Kan kamu mata-matanya Meli dan si Aldi”.

“Mata-matanya dari mana. Hahahaha. Si Meli terlalu keGRan. Aku lihat dia hanya aneh saja, perempuan secantik dia mau-maunya di selingkuhin si kampret Aldi. Kalau kamu tau, Wan. Si Aldi itu pacarnya bukan hanya dua. Banyak. Tampang dia emang terlihat orang baik tapi hatinya. Hahahaha. Aku turut berduka cita aja yah buat teman kamu, si Meli.”

“Hahahahaha” Sintia tertawa lepas, jahat, ia jalan sembari ke kantin bersama rekan-rekannya.

Setelah itu, saya kembali ke kelas Meli. Ketika akan ke kelasnya, Meli justru sudah berdiri dari tadi di pintu kelasnya dan melihat bahkan mendengar sayup-sayup pembicaraan saya dengan Sintia. Meski samar-samar dari kejuahan. Ia seperti sudah mendengar semuanya.

Jalan kaki saya mendadak terhenti setelah Meli membuka jam berwarna biru pemberian si Aldi yang pernah memamerkannya di hadapan saya kala itu. Ia menatap tajam saya dari kejauhan seolah-olah mengatakan “Lihat!”. Ia buka jam tangannya, ia genggam erat jam tangan mahalnya itu dan segera membuangnya tepat di depan tong sampah kelasnya.

Meli kembali masuk ke kelasnya, begitupun saya.

Di kelas, ada satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan, namun ia memotong.

“Mell....dari sekian banyak masalah, jujur saja sebetulnya Ridwan selama ini...”

“Aldi Anjing!” ucap Meli sembari mencoret-coret bukunya.

Guru matematik pun datang sehabis rapat. Semua  teman duduk di kursinya masing-masing dan siap untuk belajar.

***

Kadang tidak ada salahnya sebagai teman mengungkapkan rasa. Meski bakalan terlihat bego. Tapi entah apa yang akan terjadi jika Meli tidak memotong pembicaraan. Itupun suasananya “pass” dikala hatinya sedang di rundung kesedihan. Seandainya Meli tau perasaan ini..

B  E R S A M B U N G.

Catatan:

*Cerpen ini realitanya hanya selintas. Lebih banyak mengandung unsur imajinasi dan agak di hiperbolakan. Kemudian nama aktor dalam cerpen di privasikan. Cerpen ini juga terkena deadline, tidak sesuai schedul penulis, jadi maaf sedikit berantakan. Namun nanti ada kelanjutannya antara aktor Meli dan Saya. Oke, mohon maaf jika ada banyak kata yang salah. Terimakasih telah membaca.

_______________________________________________________________

Cerpen yang telah terbit. Silahkan klick:

1. Bahagia Itu Sederhana

2. Mengapa Harus Tunangan?

3. [TERBARU] Sepenggal Cerita Bersamanya di Dalam Kereta

Essai Terbaru: International Womens Day