
Mari kawan-kawan kita sepakati bersama bahwa membuat buku itu lumayan sulit. Perlu ide-ide yang kreatif, yang mana dalam buku kita itu harus nikmat di baca. Bagaimana cara agar pembaca tidak bosan, dan lain-lain. Selain itu, perihal waktu juga terkadang sulit. Dengan sibuknya bekerja atau banyaknya tugas di kampus membuat naskah kita semakin lama untuk di rampungkan. Adapun orang yang waktunya luang tetap saja sulit, mereka adakalanya nanti menghadapi writer’s block.
Makanya, orang-orang yang telah menghasilkan karya, apapun itu patut kita apresiasi. Mau bagaimanapun tulisannya terpenting bermanfaat dan tidak mengandung unsur sara. Seperti sekarang ini contohnya, saya sedang menggarap sebuah novel dengan judul “Tanpa Ayah”. Banyak lika-liku kesulitan dalam mengeksekusi setiap perjalanan dan ending ceritanya. Terlebih novel ini akan saya buat dengan jumlah halaman lebih dari 100 halaman. Entah butuh kurun waktu berapa bulan untuk menyelesaikannya. Mungkin dengan konsisten memakai strategi “one day four sheet” akan cepat selesai. Tapi sekali lagi, itu tidak gampang.
Namun di balik ketidak gampangan itu, perlu di ketahui bahwa sesulit apapun pasti sedikitnya ada jalan keluar untuk membereskannya. Percayalah, orang yang bersungguh-sungguh kelak akan sukses dengan hasilnya.
Salah satu cara untuk melawan tantangan kesulitan itu adalah adanya rasa percaya diri dan optimis. Mengutip dari Helen Keller, ia berkata, optimisme sebuah keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa di perbuat tanpa harapan dan percaya diri. “Seorang yang bermental sebagai seorang pemenang, ia memiliki rasa percaya diri (self confidence) dan optimisme yang sangat besar. Oleh sebab itu, bagi Anda yang sedang menggarap suatu karya, terus jalani sampai nanti menemukan titik kesuksesan dalam karyamu.
Project saya ini sebetulnya baru mendapatkan ide akhir-akhir minggu ini. Meski belum lama tapi sudah hafal betul novelnya akan di bawa kemana.
Di dalam novel tersebut bukan hanya menceritakan kehidupan saya tanpa seorang ayah. Tapi ada juga motivasi untuk anak-anak remaja yang masih mempunyai ayah. Bagaimana cara menyayangi sosok seorang ayah, lalu cara mengucapkan terimakasih dalam bentuk perbuatan. Juga bagaimana hidup bersemangat meski tanpa seorang ayah. Dan ketika nanti malaikat maut mencabut ayahmu, apa visi selanjutnya yang harus kamu lakukan?
Karena begini, kita sudah banyak membaca tulisan tentang ibu. Tapi untuk ayah? Kalaupun ada tetap saja lebih condong kebanyakan membahas ibu. Nah, novel yang akan saya buat nanti di dedikasikan sebagai perwakilan ungkapan terimakasih untuk seluruh ayah, khusunya untuk ayah saya yang sudah tidak ada.
Wait!
_________________________________________________________________
Mari membaca cerpen Disini