
***
“Kurang kumplit ya, wahai Siti Maemunah, tanpa si Eka..” ucap Nisa sambil menyereput jus yang telah ia pesan dari pelayan cafe.
“Namanya juga anak mamih, Nis.” Balas Siti sembari sibuk memainkan gadgetnya.
“Jadi tujuan lo ngajak gue kesini untuk apa?” Nisa bertanya serius.
Siti menyimpan gadget nya di atas meja kemudian menjawab, “Yaa..tau sendirilah, seorang Nisa, yang cantik, putih nan mancung idungnya. Kalau malam minggu, kan, lo suka kesepian. Makanya gue ajak ke cafe ini.”
“Sitiii!!”
“Hahahaha...” Siti tertawa jahat. “Nis, lo lihat deh di sekeliling cafe ini..” lanjut Siti.
Nisa melirik semua sudut cafe dengan rasa-rasa kebeteannya, “Terus?”
“Lo gak envy sama mereka-mereka? Sebegitu romantisnyeuuu mereka dinner sambil memakai kaos couple, uh!” ucap Siti, menyinyir Nisa dengan keabsurd-an nya.
Nisa membuka tass nya lalu merobek selembar kertas buku diarynya, ia bulatkan kertasnya kemudian di lemparkan, “Lo kurang ajar ya!!” kertas itu terkena tepat dibagian bahu Siti.
“Aw, hahahaha..kalem dong, bos!” gumam Siti, ia kembali tertawa jahat. “Jujur ajah Nis ya, lo sebetulnya belum move on dari si Panji?” lanjut Siti sambil menyeruput jus alpukat yang dari tadi ia abaikan.
Nisa menatap langit yang semesta banyak bintang, “Gue udah move on sih..” ujarnya sembari sedikit menaikan bahunya.
Siti mencoba menjahili Nisa dengan mata yang melotot dan lidah yang sengaja di julurkan,
“Preeeet!!”
“Lo doyan amat di setiap kita ngobrol kek gini bawa-bawa nama si Panji..”
Siti menelan ludah, “Sebagai sahabat, gue khawatir aja dengan kesindirian lo, kalau misalnya masih sayang sama si Panji Melenium itu, ya lo bilang aja, siapa tau gue dan si Eka Puspita Sari bisa bantu. Gitu.” ujar Siti sembari memainkan sedotan yang ia celupkan ke dalam jussnya.
Nisa mengangguk pelan, “Oke, thanks. Tapi jujur aja, gue udah move on dari dia..”
“Buktinya?”
“Gue biasa-biasa ketika si Panji mencoba untuk manas-manasin gue ketika di kantin” jawab Nisa, sewot.
“Iya, sih. Tapi....”
“Memangnya cara move on dari seseorang itu dengan kita mencintai orang yang baru, bisa move on gitu?. Engga juga, kan. Gue sendiri sekarang ini ngerasa mulia ketimbang punya cowok yang kadang-kadang selalu dusta, ya kaya si Panji gitulah!”
“Nisaaaaa..please, deh. Lo kalo udah so bijak gini. Gue ngerasa takut..”
“Ya lo, sih. Selalu mancing-mancing gue buat bahas si Panji. Gue kan udah heuuuh....” ujar Nisa, ekspresi campur aduk, kesel, bete dan lain-lain.
“Hehe, yaudah stop. Eh ini ngomong-ngomong siapa yang bayar?”
“Tawwa, lo. Yang bayar? Yang ngajak siapa?”
“Gimana kalo kita kabur aja!” ucap Siti, mencoba untuk ngelucu sambil berekspresi seperti seorang penjahat.
“Yeaaay...mulai..gila lo...”
Siti mlihat jam tangannya, “Udah jam 9. Pulang yuk?”
“Ya terserah lo...”
“Mas mas?” Siti berdiri mengangkat tangannya menyuruh pelayan cafe untuk menghampirinya.
“Semuanya berapa?” lanjut Siti.
“Cuma jus doang ya? 65ribu, mbak!”
Siti membuka tassnya kemudian memberikan uangnya.
“Nih mas” ucap Siti. “Eh bentar mas. Boleh tanya. Teman aku cantik ga? Coba lihat!”
Pelayan laki-laki itu melihat Nisa. Nisa pun menggelengkan kepala melihat kelakuaan sahabatnya yang absurd itu.
“Cantik, mbak.” ucap pelayan itu sembari mengangguk malu-malu kucing.
“Dia jomblo looh mas...”
“Sitiiiii!!!!” ucap Nisa, melotot kesal.
Si pelayan itu tersenyum aneh.
“Mas maaf ya teman saya agak gini..” ucap Nisa sembari memperagakan layaknya orang sinting.
Pelayan itu pun pergi. Begitupun mereka berdua pergi dari meja cafe yang telah mereka singgahi.
Di sela-sela perjalanan—kepergian mereka menuju mobil Siti. Nisa merangkul Siti dengan sedikit cekikan di bagian leher kirinya, “Lo sahabat gue paling koclaak!!!”
“Hahahahaha iyaa dongss. Eits, jangan lupakan si Eka juga ya!” balas Siti. Mereka tertawa bersama lalu memasuki mobil kemudian pergi.
Beruntunglah Nisa, yang sekitar pukul 9 malam lebih telah pulang. Sebab di malam minggu itu juga, sepulang Nisa, Panji dan kekasih barunya sedang makan-makan di cafe itu.
Siapa panji? Jelas, dia adalah mantan Nisa yang masih hangat belum lama putus. Mereka pacaran memang tidak begitu lama, kisaran 5 bulan. Yang lamanya yaitu proses PDKTan-nya. Mereka pernah menjalani hubungan tanpa status terlebih dahulu, kemudian jadian. Mereka putus hanya dengan hal sepele. Cuma karena si Panji cemburuan melihat Nisa di sekolahnya selalu dekat dengan teman laki-lakinya. Padahal dulu hati Nisa amat besar menyayangi Panji.
Panji sosok laki-laki yang tampang dan kepribadiannya biasa-biasa. Cara menyayangi dia yang berbeda dengan laki-laki lain, ia menyayangi Nisa menggunakan perbuatan, bukan ucapan, semacam ngasih coklat, membawa Nisa ke pantai, yang mana Nisa tidak mengetahuinya terlebih dahulu. Kemudian tiba-tiba menjemput Nisa yang padahal Nisa tidak meminta. Dengan begitulah yang membuat Nisa jatuh hati pada Panji. Namun di samping itu, terlalu cemburuannya Panji yang membuat Nisa ilfeel dan berani menyatakan putus. Sebab Nisa tipikal orang yang mencintai kebebasan dan tak suka di atur-atur.
***
Di senin hari, trio NES; singkatan dari Nisa Anggraini, Eka Puspita Sari dan Siti Sagita Lukman (Lukman, keluarga besar Siti, nama ayahnya) sedang berkumpul di kolidor depan kelas XII IPS 1, SMA Bakti Sanjaya 2. Seperti biasa, mereka kerap ngegosip bersama. Tak lain dari pembicaraanya, mereka pasti membicarakan laki-laki.
“Lukman!” ucap Nisa, memulai pembicaraan dengan mengejek nama ayah Siti.
“Apeu Gus” Agus adalah nama ayah Nisa.
“Pacar lo gimana, sehat?” tanya Nisa.
“Si jelek Taufik? Sehatlah, dia selalu bikin gue berbunga-bunga di setiap harinya. Ya ga Eka Puspaaah Sari?” jawab Siti sembari melirik Eka yang di sisi kirinya.
“Eum muncrat! Iya, mungkin” jawab Eka, kalem.
“Lebay lo” jawab Nisa. “Kalau kabar si yayang Nceep gimana Kaa? Hahahaha” lanjut Nisa. Siti dan Nisa tertawa jahat.
“Ncep baik, cuman yagitulah rasa-rasa LDR kadang ada berantem nya.” ujar Eka, jawab santai.
“Kalau kabar lo gimana Nis? Eh lupa, lo, kan, jomblowatiii...Hahaha” ucap Siti.
Nisa nyesel membahas laki-laki. Yang mana pasti ujung-ujungnya bawa-bawa status kejombloannya. Nisa pun cemberut pasti.
Lama pembicaraan mereka kemudian dari arah kejauhan Gio menghampiri mereka. Gio laki-laki ganteng. Ia seorang aktivis Pramuka.
“Nis..Gio kayaknya mau nyamperin kamu” ucap Eka.
“Bener, Nis..” ucap Siti.
Gio pun sampai di tempat trio NES, lalu tersenyum di hadapan Nisa. Pun Nisa, karena orangnya ramah juga, ia balik memberikan senyuman.
“Hai Nis, gimana kabarnya?” ucap Gio, ia sedang duduk di sisi kiri Nisa.
“Gue baik yoo”
Serempak. Siti dan Eka pergi meninggalkan Nisa.Seolah-olah mereka sudah paham.
“Nis. Gue sama si Eka ke kantin dulu ya?” ucap Siti. “Babay!!” lanjutnya.
Nisa tampak canggung di dekat Gio. Ia hanya diam menunggu Gio bertanya dan tak mau bertanya duluan.
“Ujian sebentar lagi ya Nis?” tanya Gio.
“Iya..”
“Kamu udah persiapan apa aja?”
“Belum, sih hhe”
“Oh belum..eh iya, kenapa chatt bbm aku jarang di bales Nis. Pas kemarin?”
“Oh itu. Ya Nisa lagi sibuk yoo. Sorri ya..”
“Sibuk apa, Nis, siapa tau Gio bisa bantu?”
Nisa menelan ludah mendengar laki-laki gagah dan bawel itu, “Sibuk inii..sibuk bantu-bantu mamah kerja” ucap Nisa sambil menggaruk-garuk pipi kanannya. Kemudian rintihan hatinya ingin segera cepat-cepat bell. Ia tampak males mendengar pertanyaan dari pria ini. Tak lama, hal yang di harap-harapkannya terkabul.
Jam masuk setelah istirahat berbunyi.. Trengg, Treeng!!
“Alhamdulilah” ucap Nisa, replek, lalu menutup mulutnya. “Ups!”
Beruntung Gio tak mendengar karena suara siswa/siswi di sekelilingnya riuh memasuki kelasnya masing-masing. Nisa langsung jalan pelan ke dalam kelasnya tanpa ada kata pamit. Gio menoleh dan ngerasa aneh. Terlihat dari bulu halisnya sedikit mengangkat.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Seperti biasa, trio NES sangat senang mendengarnya. Siti, yang selalu membawa mobil ke sekolah—bergegas cepat menuju parkiran untuk segera mengendarai mobil kijang hitamnya itu. Sementara dua sahabatnya menunggu asyik di depan gerbang.
“Yuk!!” ujar Siti.
“Okee!!” jawab Nisa. Nisa dan Eka masuk.
Di dalam mobil tentunya rutinitas mereka adalah seru-seruan, koclak dan hal lucu lainnya semacam foto-foto bersama, makan permen karet sambil ngegosip, dan lain-lain.
“Woy, sehubungan besok hari Minggu dan 2 bulan lagi melaksanakan UN. Bagaimana kalo kita ke pantai aja? Buat refreshing-laah” tanya Siti, sembari duduk santai mengendarai mobil.
“Ayuk. Ayuk, sit. Aku pengen ke pantaii bareng kalian...!!” jawab Eka, gemes.
“Kalo lo gimana Nis??” lanjut, Siti.
“Boleeeh...” jawab Nisa.
***
Ancool!
Ancol merupakan salah satu ikon dari wahana wisata pantai yang ada di kota Jakarta. Tempat wisata yang satu ini sangat terkenal sehingga tak heran bila banyak pengunjung yang berasal dari luar kota datang ke Jakarta. Ketika liburan, Ancol ramai oleh pengunjung. Hal ini dikarenakan banyaknya hiburan yang ditawarkan oleh Ancol diantaranya seperti gelanggang samudera, dufan dan masih banyak lagi.
Tiba di pantai. Trio NES semuanya bahagia. Siti yang notabennya orang kaya, penampilan di pantai pun sangat seksi. Dengan rambutnya yang panjang sampai bahu kemudian memakai bra hitam dan celena gemes serta di lengkapi dengan kacamata hitam. Berbanding lurus juga dengan Eka dan Nisa. Merakapun sama berpenampilan seksi. Bedanya, Nisa tampak lebih cantik perihal badannya yang langsing nan kulit putih. Mereka bertiga jalan-jalan dari arah sisi kiri pantai ke kanan. Tertawa bersama, saling cekrek-cekrek bareng yang di lengkapi dengan bibir monyong-monyong. Laki-laki disekliling pantai amat nikmat melihat tingkah laku mereka.
Tatkala agak kelelahan. Mereka bertiga pun duduk sambil menjulurkan kaki di atas pasir. Melihat ombak yang stabil; tidak terlau gede dan kecil. Nisa memulai pembicaraan dengan mimik wajah yang serius.
“Sit, Ka?”
“Iya?” jawab Eka.
“Menurut loo si Gio gimana?”
“Ciyeee Gioo!!” ucap Siti.
“Sitiii!!!”
“Menurut Eka sih dia baik. Pintar, disiplin, tau kan anak Pramuka”
Nisa mengambil pasir, kemudian melempar-lemparkannya.
“Gio nembak Sis, tapii...”
“Wah si Gio nembak Nis?” ujar Siti, kaget.
“Iya. Tapi gue ga cinta sama dia.” Sewot Nisa.
“Padahal terima aja duluu Niiis...” Siti memberi pendapat dengan manja.
“Eh jangan. Kalau ga cinta, jalani dulu aja masa PDKT-nya...” ucap Eka.
“Oke. Lo taukan sikap gue. Sekali ga cinta yaa mau digimanain juga tetep susah!!”
“Ya terus?” tanya Siti, melongo kebingungan.
“Gue juga gak tau”
“Gimana kalau kasih ujian dulu si Gionya. Kalau dia berkorban demi kamu Nis, berarti dia bener-bener..” ucap Eka.
“Gue ga suka ngelakuin hal-hal kek gituan”
“Susaaaaah...” ucap Siti, berkata pelan kepada Eka.
“Ooh yaudah gini ajaa Niss...”
Nisa memotong pembicaraaan. “Stop!”
Siti cemberut. Eka berwajah datar. Dikala mereka hening sambil duduk. Tak lama, Nisa berdiri kemudian jalan santai membelakangi dua sahabatnya dan menatap pantai lurus pun dibarengi suara ombak riuh.
“Sis, kita memang beda. Kalian amat senang dengan laki-laki yang sekarang kalian miliki. Kalian begitu sumringah membiacarakan mereka dihadapan gue, kalian tampak sayang sama mereka. Tapi Eka dan elo, Siti. Jujur, gue ngerasa, gue nyaman dengan kesindirian ini. Bukan hanya Gio, si Alif, dan anak-anak si boyband di sekolahan kita, lo taulah. Mereka sempet mendekat kemudian menyatakan gombalan-gombalan cinta. Namun gue tangkis begitu saja. Karna, ya gue ga tau. Gue nyaman aja dengan kesendirian ini” Nisa berkata demikian dengan menunduk pasti.
Siti dan Eka berdiri, mereka mendekat kemudian memeluk Nisa.
“Aku sayang kamu Niiis” ujar Eka sembari memeluk Nisa di samping kiri dengan manja.
Siti menatap tajam Nisa sambil melotot, “Dan gue sayang sama looo!!!”
Nisa tersenyum lebar. “Gue Nisa. Gue nyaman meski tanpa laki-laki!!”
T A M A T.
***
*cerpen berlabel sahabat tentang kenyamanan karena kesendirian. cerpen imajinasi dari penulis.
_________________________________________________________________________
Sedang tidak sibuk? Baca cerpen-cerpen terbaru Disini