
Rintik hujan sore tadi melengkapi lamunanku pada masa lalu. Masa yang benar-benar membuatku menyesal jika terus mengingatnya.
Ingatkah pada bulan
September 3 tahun yang lalu?
Aku adalah masa lalu,
yang tidak perlu sekali jika dia ingin mengingatku. Memang aku mengakui bahwa
aku pantas dilupakan, pantas sekali. Sebab aku adalah masa lalu.
September,
2013
Aku ingat. Silvia
menghampiriku di kantin sekolahan pada hari Rabu. Tiba-tiba ia datang begitu
saja, ia datang membawa handphone kecil seperti handphone Nokia Xpressmusic.
Kemudian ia menyodorkan handphone pribadinya itu tanpa ada kata-kata apapun.
“Maksudmu apa?”
tanyaku. Aku heran. Semua teman-temanku menatap tajam Silvia, sesekali bola
mata mereka melihatku, pun demikian melihat Silvia. Buat mereka, seperti ada
tontonan menarik di siang hari.
Silvia tidak berbicara.
Ia hanya berdiri dihadapanku sambil menyenderkan badannya disamping tembok.
Tatapannya lurus, bibirnya masam, tangan kanannya memegang pinggang. Dan kedua
telinganya sudah siap mendengarkan penjelasanku.
Aku melihat
dihandphonenya ada foto perempuan yang aku kenal. Praktis, aku hanya tersenyum
kecil.
“Ikut aku!” aku bawa
Silvia ke tempat yang jauh dari teman-temanku. Silvia mengikutiku dari
belakang.
“Duduk!” ucapku. Kami
duduk di kelas yang penghuninya sedikit karena di dalam kelas itu semua siswa
dan siswi sedang menikmati jam istirahat.
“Si ini?” tanyaku
sambil memperlihatkan fotonya. Silvia mengangguk pelan.
“Ini Elis, sepupuku.
Sepupu dari sodara tiriku yang pertama. Kami sepantaran. Bahkan lahirnya pun
beda 3 bulan.”
“Oh”
balas Silvia.
“Kenapa, kamu ga suka.
Wajar, kan, punya hasrat pengen upload foto di facebook bareng keluarga.
Apalagi sama Elis. Dia dan aku sulit untuk bertemu, hanya ketika Idul Fitri
saja kami bisa bertemu.”
Elis adalah sepupuku.
Dia lahir pada bulan Juni dan aku bulan September. Tahun kelahiran kami sama.
Ibunya kaka tiriku yang pertama. Elis ke Garut hanya untuk ziarah ke makam
kakeknya, ya tentu kakeknya adalah almarhum ayahku.
Aku menghela nafas
pelan-pelan. Silvia masih tidak mengerti. Semuanya hening. Kurasa aku tidak
perlu berbicara lagi karena aku sudah menjelaskan semuanya. Silvia yang dari
tadi menghadap kesamping, mengabaikan muka ketika aku menjelaskan. Tiba-tiba ia
memutarkan badan, ia menatap pasti kepadaku.
“Yaudah. Terimakasih!”
ia mengambil handphonenya yang aku simpan di atas meja obrolan kami. Ia pun
pergi dengan emosi yang cukup tinggi.
Aku
menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin beberapa hari kemudian, kupikir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
***
Kesalah pahaman dalam
hubungan kerap terjadi pada diri kita semua. Cara menyelesaikan masalahnya
adalah, ya tergantung kedewasaan kita juga. Jika dua-duanya dewasa kelak
masalah sesulit apapun dapat diatasi. Jika satu diantara kalian ada yang tidak
dewasa. Mungkin jangka dua atau tiga hari, baru masalah kelar. Namun jika
dua-duanya tidak dewasa, niscaya hubungan tidak akan bertahan lama.
Bisa dibilang, karakter
Silvia egois. Selalu ingin menang sendiri, ingin dipedulikan pun demikan ingin
dimengerti. Tapi dia tidak pernah berpikir, apakah orang yang ingin
mempedulikannya sama ingin dipedulikan, sama ingin dimengerti?
Setelah masalah foto
itu. Aku pun berusaha ingin dimaafkan. Segala macam cara aku lakukan demi
dimaafkan olehnya. Aku melakukan ini karena aku sayang. Itu saja. Walaupun
sesulit ini menyayangi seseorang..
3 hari kemudian wajah
Silvia utuh kembali. Ada semacam semangat tersendiri karena kami sudah baikkan.
“Kemarin cemberut.
Sekarang? Ehem!” ucapku dibelakangnya ketika kami hendak akan masuk ke kelas
masing-masing.
Ia tersenyum lebar. Ia
memutarkan badan lalu menyubit tangan kananku.
***
Aku adalah masa lalu.
Seserorang yang dapat membuatmu tersenyum, tertawa, walaupun sebentar.
Seseorang yang dapat membuatmu sedih, geram, kesal. Dan seseorang yang selalu
meminta maaf walaupun kadang kala berbuat kesalahan lagi, dan lagi.
“Lama balas sms lama!”
ucap Silvia, ia memarahiku.
“Sinyalnya engga ada
sayang..”
“Ini sinyalnya banyak.
Mungkin kamu malas smsan dengan aku. Yasudah kalo males tidak usah di bales”
***
Aku adalah masa lalu.
Seseorang yang, kamu tau sendiri. Gampang sekali membuat mood kamu yang asalnya
senang kemudian sedih. Aku adalah masa lalu, pantas kamu lupakan. Aku adalah
masa lalu, seseorang yang tidak perlu kamu maafkan.
Bulan September Silvia
jatuh sakit. Ia dirawat di salah satu rumah sakit daerah Garut, ia demam parah.
Keningnya berkeringat, sebelum ia sakit, hidungnya mimisan. Silvia acapkali
mengeluh, putus asa, nangis. 1 bulan lebih tidak masuk sekolah. Berat badan dia
nurun 3kg. Wajahnya pucat; tak ada gairah. Keluarganya sudah khawatir, pun
demikan rekan-rekan kelasnya.
September tahun 2012
itu aku dan dia sudah putus. Ada sisi ketakutan tersendiri buatku. Aku takut
dia sakit karena ulahku. Memang aku menyadari jatuh sakitnya dia sedikitnya
karena putusnya hubungan kami.
Apa yang harus aku
lakukan?
***
Aku adalah masa lalu,
seseorang yang ketika kamu sakit. Aku boro-boro menengokmu. Aku adalah masa
lalu, sang pengecut yang beraninya hanya mendoakanmu. Aku adalah masa lalu.
2 bulan kemudian Silvia
sehat. Ia masuk sekolah kembali. Ia begitu ceria, semua rekan-rekan kelasnya
menyambut dia. Aku pun ikut senang walaupun ketika kami berpapasan muka Silvia
mengabaikanku.
Dia menjalani kehidupan
yang baru. Ia bahagia bersama Riki, pacar barunya. Tak ada seseorang di
sekolahnya yang menyembunyikan kebahagiaan buatnya selain aku. Menatap Via dari
kejauhan, sesekali tersenyum kemudian menunduk saat ia melihatku.
Wajah Silvia
memancarkan aura yang berbeda. Bersama Riki, ia bisa full time diperhatikan
juga dipedulikan.
Coba ketika bersamaku?
Hah.
***
Aku adalah masa lalu,
seseorang yang senang betul ketika ia mengabariku.
November..
“Apa kabar?”
“Alhamdulilah, baik. Kamu?”
“Sama.”
“Keluarga sehat?”
“Alhamdulilah”
............
“Sama siapa sekarang?”
“Masih sendiri”
balasku.
***
Aku adalah masa lalu,
tidak mungkin mencintai seseorang lagi sebelum hilang rasa buatnya. Aku adalah
masa lalu, seseorang yang masih menyayangimu dalam diam.
April,
2016.
Rintik hujan sore tadi
melengkapi lamunanku pada masa lalu. Lagu Bruno Mars dengan judul It Will Rain,
satu lagu yang pantas untuk mengenangmu. Mengenang kebodohan ceritaku.
***
Cerita pendek ini aku
tulis dihalaman rumahku.
Hallo Vii, sekarang aku
sedang tertawa tolol sambil menikmati pekatnya kopi, sebegitu pahitnya, yah,
cerita ini saat bersamamu. Saking pahitnya aku tidak berani menulis panjang. Aku
adalah masa lalu kamu Vii, aib rasanya menulis cerita kita panjang lebar dan
dibaca oleh semua orang.
___________________________________________________________________________
Gara-gara kucing novelku tidak bisa dilanjut lagi, baca selengkapnya http://mrridwaan.blogspot.co.id/2016/04/kucing.html
Loh, mbak fotografer? | Siapa? Aku? Manusia. Selengkapnya http://mrridwaan.blogspot.co.id/2016/02/cerpen-3.html
Aldi brengsek, dia selingkuh.. baca selengkapnya http://mrridwaan.blogspot.co.id/2016/03/cerpen-4.html
Disaat Nisa lebih memilih sendiri. baca selengkapnya http://mrridwaan.blogspot.co.id/2016/04/cerpen-5.html