20 April 2016

AKU ADALAH MASA LALU



Rintik hujan sore tadi melengkapi lamunanku pada masa lalu. Masa yang benar-benar membuatku menyesal jika terus mengingatnya.

Ingatkah pada bulan September 3 tahun yang lalu?

Aku adalah masa lalu, yang tidak perlu sekali jika dia ingin mengingatku. Memang aku mengakui bahwa aku pantas dilupakan, pantas sekali. Sebab aku adalah masa lalu.

September, 2013

Aku ingat. Silvia menghampiriku di kantin sekolahan pada hari Rabu. Tiba-tiba ia datang begitu saja, ia datang membawa handphone kecil seperti handphone Nokia Xpressmusic. Kemudian ia menyodorkan handphone pribadinya itu tanpa ada kata-kata apapun.

“Maksudmu apa?” tanyaku. Aku heran. Semua teman-temanku menatap tajam Silvia, sesekali bola mata mereka melihatku, pun demikian melihat Silvia. Buat mereka, seperti ada tontonan menarik di siang hari.

Silvia tidak berbicara. Ia hanya berdiri dihadapanku sambil menyenderkan badannya disamping tembok. Tatapannya lurus, bibirnya masam, tangan kanannya memegang pinggang. Dan kedua telinganya sudah siap mendengarkan penjelasanku.

Aku melihat dihandphonenya ada foto perempuan yang aku kenal. Praktis, aku hanya tersenyum kecil.

“Ikut aku!” aku bawa Silvia ke tempat yang jauh dari teman-temanku. Silvia mengikutiku dari belakang.

“Duduk!” ucapku. Kami duduk di kelas yang penghuninya sedikit karena di dalam kelas itu semua siswa dan siswi sedang menikmati jam istirahat.

“Si ini?” tanyaku sambil memperlihatkan fotonya. Silvia mengangguk pelan.

“Ini Elis, sepupuku. Sepupu dari sodara tiriku yang pertama. Kami sepantaran. Bahkan lahirnya pun beda 3 bulan.”

“Oh” balas Silvia.                                                              

“Kenapa, kamu ga suka. Wajar, kan, punya hasrat pengen upload foto di facebook bareng keluarga. Apalagi sama Elis. Dia dan aku sulit untuk bertemu, hanya ketika Idul Fitri saja kami bisa bertemu.”

Elis adalah sepupuku. Dia lahir pada bulan Juni dan aku bulan September. Tahun kelahiran kami sama. Ibunya kaka tiriku yang pertama. Elis ke Garut hanya untuk ziarah ke makam kakeknya, ya tentu kakeknya adalah almarhum ayahku.

Aku menghela nafas pelan-pelan. Silvia masih tidak mengerti. Semuanya hening. Kurasa aku tidak perlu berbicara lagi karena aku sudah menjelaskan semuanya. Silvia yang dari tadi menghadap kesamping, mengabaikan muka ketika aku menjelaskan. Tiba-tiba ia memutarkan badan, ia menatap pasti kepadaku.

“Yaudah. Terimakasih!” ia mengambil handphonenya yang aku simpan di atas meja obrolan kami. Ia pun pergi dengan emosi yang cukup tinggi.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin beberapa hari kemudian, kupikir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

***

Kesalah pahaman dalam hubungan kerap terjadi pada diri kita semua. Cara menyelesaikan masalahnya adalah, ya tergantung kedewasaan kita juga. Jika dua-duanya dewasa kelak masalah sesulit apapun dapat diatasi. Jika satu diantara kalian ada yang tidak dewasa. Mungkin jangka dua atau tiga hari, baru masalah kelar. Namun jika dua-duanya tidak dewasa, niscaya hubungan tidak akan bertahan lama.

Bisa dibilang, karakter Silvia egois. Selalu ingin menang sendiri, ingin dipedulikan pun demikan ingin dimengerti. Tapi dia tidak pernah berpikir, apakah orang yang ingin mempedulikannya sama ingin dipedulikan, sama ingin dimengerti?

Setelah masalah foto itu. Aku pun berusaha ingin dimaafkan. Segala macam cara aku lakukan demi dimaafkan olehnya. Aku melakukan ini karena aku sayang. Itu saja. Walaupun sesulit ini menyayangi seseorang..

3 hari kemudian wajah Silvia utuh kembali. Ada semacam semangat tersendiri karena kami sudah baikkan.

“Kemarin cemberut. Sekarang? Ehem!” ucapku dibelakangnya ketika kami hendak akan masuk ke kelas masing-masing.

Ia tersenyum lebar. Ia memutarkan badan lalu menyubit tangan kananku.

***

Aku adalah masa lalu. Seserorang yang dapat membuatmu tersenyum, tertawa, walaupun sebentar. Seseorang yang dapat membuatmu sedih, geram, kesal. Dan seseorang yang selalu meminta maaf walaupun kadang kala berbuat kesalahan lagi, dan lagi.

“Lama balas sms lama!” ucap Silvia, ia memarahiku.

“Sinyalnya engga ada sayang..”

“Ini sinyalnya banyak. Mungkin kamu malas smsan dengan aku. Yasudah kalo males tidak usah di bales”

***

Aku adalah masa lalu. Seseorang yang, kamu tau sendiri. Gampang sekali membuat mood kamu yang asalnya senang kemudian sedih. Aku adalah masa lalu, pantas kamu lupakan. Aku adalah masa lalu, seseorang yang tidak perlu kamu maafkan.

Bulan September Silvia jatuh sakit. Ia dirawat di salah satu rumah sakit daerah Garut, ia demam parah. Keningnya berkeringat, sebelum ia sakit, hidungnya mimisan. Silvia acapkali mengeluh, putus asa, nangis. 1 bulan lebih tidak masuk sekolah. Berat badan dia nurun 3kg. Wajahnya pucat; tak ada gairah. Keluarganya sudah khawatir, pun demikan rekan-rekan kelasnya.

September tahun 2012 itu aku dan dia sudah putus. Ada sisi ketakutan tersendiri buatku. Aku takut dia sakit karena ulahku. Memang aku menyadari jatuh sakitnya dia sedikitnya karena putusnya hubungan kami.

Apa yang harus aku lakukan?

***

Aku adalah masa lalu, seseorang yang ketika kamu sakit. Aku boro-boro menengokmu. Aku adalah masa lalu, sang pengecut yang beraninya hanya mendoakanmu. Aku adalah masa lalu.

2 bulan kemudian Silvia sehat. Ia masuk sekolah kembali. Ia begitu ceria, semua rekan-rekan kelasnya menyambut dia. Aku pun ikut senang walaupun ketika kami berpapasan muka Silvia mengabaikanku.

Dia menjalani kehidupan yang baru. Ia bahagia bersama Riki, pacar barunya. Tak ada seseorang di sekolahnya yang menyembunyikan kebahagiaan buatnya selain aku. Menatap Via dari kejauhan, sesekali tersenyum kemudian menunduk saat ia melihatku.

Wajah Silvia memancarkan aura yang berbeda. Bersama Riki, ia bisa full time diperhatikan juga dipedulikan.

Coba ketika bersamaku? Hah.

***

Aku adalah masa lalu, seseorang yang senang betul ketika ia mengabariku.

November..

“Apa kabar?”

“Alhamdulilah, baik. Kamu?”

“Sama.”

“Keluarga sehat?”

“Alhamdulilah”

............

“Sama siapa sekarang?”

“Masih sendiri” balasku.

***

Aku adalah masa lalu, tidak mungkin mencintai seseorang lagi sebelum hilang rasa buatnya. Aku adalah masa lalu, seseorang yang masih menyayangimu dalam diam.

April, 2016.

Rintik hujan sore tadi melengkapi lamunanku pada masa lalu. Lagu Bruno Mars dengan judul It Will Rain, satu lagu yang pantas untuk mengenangmu. Mengenang kebodohan ceritaku.

***

Cerita pendek ini aku tulis dihalaman rumahku.


Hallo Vii, sekarang aku sedang tertawa tolol sambil menikmati pekatnya kopi, sebegitu pahitnya, yah, cerita ini saat bersamamu. Saking pahitnya aku tidak berani menulis panjang. Aku adalah masa lalu kamu Vii, aib rasanya menulis cerita kita panjang lebar dan dibaca oleh semua orang.

___________________________________________________________________________

Gara-gara kucing novelku tidak bisa dilanjut lagi, baca selengkapnya http://mrridwaan.blogspot.co.id/2016/04/kucing.html

Loh, mbak fotografer? | Siapa? Aku? Manusia. Selengkapnya http://mrridwaan.blogspot.co.id/2016/02/cerpen-3.html

Aldi brengsek, dia selingkuh.. baca selengkapnya http://mrridwaan.blogspot.co.id/2016/03/cerpen-4.html

Disaat Nisa lebih memilih sendiri. baca selengkapnya http://mrridwaan.blogspot.co.id/2016/04/cerpen-5.html