23 Mei 2016

Kota dan Kereta

Sempat berfilsapat, apakah Tuhan menentukan tempat yang eksentik secara pilih-pilih?

***

Menjelang pagi pukul 07:48 WIB, hari itu aku tidak seperti biasanya. Racikan kopi yang biasa aku buat dan teguk, kini hanya disuguhkan oleh pemandangan-pemandangan yang memukau di luar jendela kaca bergambar palu. Seseorang berjanji kepadaku, pukul 05.00 WIB, aku harus berada di depan rumahnya agar nanti dapat membeli tiket dengan tepat.

Usai sholat shubuh, aku bergegas jalan ke rumah temanku itu, disela-sela jalan kaki ada semacam pikiran yang cukup mengkhawatirkan, antara ketakutan tiket habis dan ditinggalkan kereta. Namun menurut empirisme temanku itu, tidak mungkin kereta meninggalkan para penumpang sebelum sekitar pukul 06:00 WIB.

Nyaris aku merasa aneh setelah sampai di stasiun, tempat yang asing, gumamku. Leles adalah nama  tempat tinggalku, seumur aku hidup di Leles, aku belum pernah merasakan suasana stasiun di tempatku itu. Padahal sudah jelas kalau stasiun Leles ada walau lokasinya di Kadungora. Tapi uniknya, ini adalah pengalaman pertamaku.

Lampu putih menyala terang, orang-orang berkantong hitam sedang mengantri diruangan tiket. Kau tau, wajah mereka sumringah setelah menggemgam kertas putih bermodal 8ribu sedangkan yang lainnya pucat tak karuan. Ada kecemasan tersendiri, menurut temanku, sistem kereta masa kini dibatasi 80 penumpang. Lalu bagaimana kalau mereka adalah penumpang ke 81 atau 82 misalnya. Cukup sial bukan?

Di tempat pembelian tiket, bapak-bapak berkumis tebal dengan segala kecuekannya, tanpa ada rasa lelah, ia berkonsentrasi melayani para penumpang. Bahkan pikirku, dari mulai dini hari si bapak sudah stand by ditempat dan membuka lorong tiket. Beruntunglah pekerjaan rekannya, si bapak bertopi hitam yang kurus itu, ia hanya ditugaskan mengecap tiket oleh tinta ungu.

Seorang wanita berambut kuning lumayan menggairahkan di shubuh hari, ia tidak cantik namun kulitnya putih. Ia berjalan dihadapan para lelaki, tapi kami tidak begitu peduli. Yang kami pedulikan pada saat itu adalah selamat sampai tujuan, pemikiran yang setara, kan?

Suasana asing itu agar dapat dikenang, aku dan temanku beralih ke tempat yang berbeda pada awalnya, kami disamping kiri stasiun. Angin santai menghembus, ada macam suara yang berisik. "Tahu-tahuu" sahut ibu-ibu di sisi kanan kami.

Dalam waktu sekejap, puluhan orang berkumpul di sisi rel kereta. Para remaja pada dasarnya, mereka lebih nyaman berdiri sambil melipatkan tangan. Walau beberapa orang mengodok saku. Para wanita berjilbab dan non jilbab, mereka memilih untuk memainkan gadget dan mendengarkan music. Dan memang itu lebih efektif.

Pengeras suara berbunyi. 2 meter dari arah penglihatan kami, kereta datang lalu berhenti. Kami masuk silih ganti yang kemudian mencari tempat duduk. Dan aku duduk di kursi yang dekat dengan toilet. Lumayan idealis, anggukku.

Sungguh beruntung, aku dan temanku duduk di depan dua wanita yang malu-malunya tak tertahankan. Tidak ada suara yang mereka katakan. Mungkin aku tak perlu membahas mereka. Tetapi wanita yang menggairahkan di shubuh hari itu sebalnya duduk tepat dihadapanku setelah dua wanita yang malu-malu itu turun di stasiun yang mereka tuju.

Tidak perlu dipikirkan.

Colokan charger aku tancapkan dengan pasti di sisi kanan bahuku dan mulai membaca essaii dari situs mojok.co. Perlahan aku baca essaii tentang Mega Wati.

Sesekali aku menerawang keadaan gerbong. Ada 5 AC yang berfungsi sebagaimana mestinya. Ada pula tempat penyimpanan barang yang berada di atas kepala penumpang masing-masing. Keadaan kursi dapat diduduki oleh 3 orang berbadan kurus--demikian kursi itu tegak lurus berhadapan dengan kursi pasangannya.

Signifikan. Kata pertama yang ada dalam pikiranku untuk kereta ini. Kau tau, di dalam kereta tahun 2016 ini, sulit untuk menemukan orang-orang yang memegang besi. Tidak ada orang saling sikut, tidak pula sesumpek 2 tahun yang lalu.

2 tahun yang lalu, aku merasakan bagaimana malasnya memakai kendaraan beroda banyak ini. Akuilah, urusan ongkos terbilang lebih murah ketimbang kendaraan yang lainnya. Tetapi, seseorang yang kerap kesal dengan keramaian sepertiku, mana bisa sabar?

Menurutku, dalam hal ini patutlah mengacungi jempol buat orang China, mereka jago dalam mengelola sistem pembisnisan kereta. Mereka adalah dalang.

2 jam aku menahan angin yang ingin keluar dari pantatku. Semua karena rasa menghargai sehingga kurang layak kalau misalnya aku dengan selonoh mengeluarkan bau kentut. Celingak-celinguk aku memperhatikan orang-orang asing yang berada didekatku. Satu per satu mereka menghilangkan jejaknya. Beberapa stasiun pun terlewati. Dan akhirnya, stasiun Cikudapateuh, tujuanku, sampai. Aku dan temanku turun.

Aku menghela nafas pelan. Semua kepusingan akibat dinginnya AC, bau bensin dan punggung yang tergoyang-goyangkan oleh kereta lumayan mendingan. Temanku relatif biasa-biasa lepas turun dari kereta sebab dia sudah terbiasa. Berbeda denganku, serasa ingin muntah.

Kami berjalan menuju tempat kosan seorang tukang service printer. Ia adalah pembingbing saat temanku PKL 5 bulan yang lalu. Perjalanan menuju kosannya, tidak jauh, kami perlu 15 menit untuk sampai.

Sesampai dilokasi, aku menyodorkan laptop yang perlu diservice, aku ke Bandung niat yang paling utama yaitu menyervice laptop. Ya semua itu terlepas dari ketidak mahiran orang Garut dalam menyervice laptop sehingga aku perlu ke Bandung.

Singkat cerita, obrolan kami cukup memahami satu sama lain. Aku mengeluarkan keluh kesah atas penyakit laptopku dan dia bertanggung jawab--karena sebelumnya, aku membeli barang itu kepadanya lalu ia mempermudah semua urusan.

Kau bayangkan, setelah semua permasalahan dapat terselesaikan, aku dan temanku dari jam 9 hingga pukul setengah dua siang harus ada pembahasan yang menggiurkan agar waktu dapat berjalan cepat. Obrolan-obrolan semacam tekhnologi, seputar ilmu agama dan lain-lain.

Kami kala itu masih diposisi kosan tukang service. Namun tukang service itu sudah hijrah ke tempat pekerjaannya sehingga aku dan temanku terpaksa meminjam kosannya untuk di tempati.

Di kota Bandung sebetulnya banyak tempat rekreasi yang dapat didokumentasikan dengan baik. Ke alun-alun misalnya. Karena takut tersesat, kata temanku, lebih baik kita tidak usah jalan-jalan. Tentu aku sangat menyepakati hal itu, mengingat dompetku tidak mencukupi.

Pukul setengah dua, kami memantapkan hati untuk segera bergegas kembali ke stasiun Cikudapateuh--membeli tiket pulang. Sekali lagi Anda perlu membayangkan betapa ironisnya saat kami sampai dilokasi, tiket dibuka pukul setengah tiga, dan kami harus menunggu di kursi stasiun. Sehari itu rasanya kebanyakan duduk.

Siswa-siswi pelajar SMP di stasiun ini berbondong-bondong melintasi kediamanku. Mereka semua mengingatkan aku untuk bersyukur sebagaimana nikmatnya dulu sebagai pelajar aku tidak perlu kesusahan seperti mereka, membeli tiket, buru-buru masuk kereta dengan kekuatan tinggi agar bisa naik, menunggu berjam-jam dan kadang kala kalau kereta telat, mereka pulang kemaghriban.

Mungkin pula untuk sehari mereka bisa menghabiskan duit sekitar 8rbu, kau boleh kalikan dalam sebulan berapa. Cukup menghawatirkan kalau pekerjaan ayahnya, yah.

Kesalahan membeli tiket terjadi. Alih-alih aku seharusnya agar spesifik menginap dirumah sodaraku. Setelah berpikir panjang. Yang asalnya membeli tiket ke Cibatu. Aku membeli tiket ke Cicalengka supaya bisa turun di stasiun Haurpugur, stasiun yang dekat dengan rumah sodaraku.

Kadang menjadi orang awam Anda akan mengalami kesalahan. Dan itu kerap terjadi dalam diriku di setiap mencoba hal-hal baru.

Sang satpam yang kerjaannya telponan. Akhirnya dapat menjual tiket yang salah aku beli tadi dan akhirnya uangku kembali. Dan ini memalukan.

Kurang dari setengah jam menuju maghrib aku sampai dirumah sodaraku. Tidak ada yang menarik.Aku beristirahat.

***

Kota

2 anak kecil mengekspresikan kebahagiaannya. Mereka bergerak-gerak seperti boneka. Sang ibu menjawab saat ibu-ibu yang disampingnya bertanya tentang tujuannya, "Ke Bandung, bu. Liburan.."

Kota

Seorang remaja berkulit hitam yang antingnya menempel di telinga kirinya mengumpat, "Goblok. Ke Padalarang lu?"

Mungkin, mungkin ia sedang berbicara dengan teman lamanya.

"Heem. Kalo elu?" jawab temannya.

"Sarua. Bareng heeh?"

Kota

"Gedebagenya bakalan di pake Persib ga?" ucapku.

Sang kakek yang masih bugar itu menjawab, "Lagi direnovasi. Tanahnya kan bekas sawah"

"Tapi beberapa tahun kemudian?"

"Bisa jadi"

***

Kereta

Rabu, sekitar pukul 7 kurang 15 menit aku berada di stasiun. Hanya ada 6 orang yang sedang duduk, tanpa saling sapa dengan yang lainnya. Beberapa menit kemudian lorong tiket terbuka, sebelumnya ada kertas putih berbentuk persegi menutupi lorong itu.

Seorang perempuan yang memakai hak tinggi berinteraksi dengan penumpang yang di sisi kirinya. Ia ditanya tentang pekerjaan. Sambil memegang tass ia menjawab bahwa pekerjaanya adalah penjaga kaos di Padalarang, Bandung.

Tanpa pikir panjang aku kegirangan. Ada teman sejurusan, pikirku.

Menit ke menit berlalu, sekitar 80 orang lebih sudah berkumpul, dari anak kecil usia 5 tahun hingga nenek-nenek. Ya nenek-nenek berkacamata yang berposisi di depan kursiku. Menurutku, nenek itu tampak tegang, "Karcis nenek mana ya?" Pemuda sebayaku menjawab, "Itu nek euu di tangan". Sang nenek tersenyum, "Lupa dek hehe"

Tidak terlalu lucu.

Suara kereta terdengar dari arah timur. Semua penumpang bersiap-siap, mereka berdiri, termasuk aku.

Aku masuk melewati gerbong ke-5, 6, dan duduk di gerbong ke 7. Aku masih ingat, nomor  kursiku 133. Di kursi nomor 133 aku hidup serasa betul-betul seorang laki. Sebab 6 orang yang berada di kursi berbentuk persegi panjang itu semuanya adalah laki-laki. Kami melakukan aktivitas yg berbeda satu sama lain, laki-laki dihadapanku kerjaannya melipatkan karcis berbentuk kapal. Sebelah kananku sibuk menelpon istrinya, mungkin. Di sudut kanan, satu orang tidur sembari mulutnya tertutup penutup mulut. 2 lainnya sedang berbicara. Dan aku santai membaca cerpen agrariafolks.

Lepas membaca cerpen. Aku mencoba untuk so syik, aku bertanya kepada orang yang di sisi kiriku, "Ke Cikudapateuh?"

"Iya" angguknya.

"Oh samaa"

"Kerja a?"

"Latihan militer"

"Yaa mending jadi tentara ya dari pada polisi, haram"

Aku tertawa walau punya argumentasi yang berbeda.

Di stasiun Kria Condong, kursi nomor 134, 2 orang diantaranya telah keluar. Nyaris aku tidak bisa fokus membaca cerpen saat 2 teteh-teteh berpostur tinggi duduk menempati tempat 2 orang yang telah keluar tadi. Agaknya dijam itu aku lebih sering menoleh kepada mereka. Terlebih lipstik merah tipis mereka lumayan menarik.

Tidak butuh waktu yang lama, kereta melaju lagi hingga pada akhirnya stasiun tujuanku sampai. Sambil membawa kantongku di bahu kanan, aku melirik 1 teteh itu. Sebetulnya moment ini tidak terlalu penting. Kalau misalnya ia menoleh baik, ya apa boleh buat, cuma sekedar kenangan semacam untuk ditulis seperti ini.

Di hari Rabu itu pula aku ke rumah tukang service printer itu lagi untuk mengambil laptopku. Syukurnya, laptopku telah sehat total. Tidak ada obrolan yang banyak dengannya. Secara jelasnya aku gembira laptopku bisa kembali lagi.

Butuh waktu 15 menit lebih aku kembali ke stasiun. Disela-sela jalan kaki menuju stasiun, aku membawa kopi hitam yang diwadahi oleh gelas plastik.

Di stasiun, aku menemukan hal yang membuatku bahagia--berbeda dan sangat berbeda dari hari sebelumnya. Hal ini akan terlihat lucu menurutku, aku rindu sosok ibu.

Hap.

Kota ini....kota kelahiran ibuku, Bandung. Kau tau, ibuku memimpikan ingin kembali hidup di Bandung. Bahkan saat aku SMA ia ingin pindah rumah ke kota kembang ini. Aku ingat itu, pernyataan ibuku, membekas. Aku cukup bego, berkeliling sendirian atau bersama temanku sedangkan ibuku, katanya, ingin sekali ke kota ini bersamaku. Sial, aku kadang menolaknya. Karena faktor usianya dan rasa takutku akan kedatangan sakitnya itu.

Sebentar, aku tidak tau mengapa aku mencintai cuaca mendung. Aku pernah bercerita kepada ibuku, "mah, banyak penulis yang suka hujan. Kok aku suka sama cuaca mendung?"

"Yaa kalau mendung cucian ga kering-kering" sahut ibuku.

Begini maksudku, ide-ide jeniusku kadang muncul saat cuaca mendung, aku sesekali melihat langit, awan hitam menggumpal. Aku adalah pecinta kopi. Jika cuaca mendung dikolaborasikan dengan kopi, kau tau sendiri.

Disinilah aku menulis, di stasiun, saat cuaca mendung dan kopiku masih menyisakan setengah gelas plastik yang aku beli tadi sebelum sampai ke stasiun. Kau paham?

***

Memang, menurutku Tuhan tidak pernah pilih-pilih menempatkan tempat yang eksentik. Buktinya, kota dan kereta dapat mengingatkan aku kepada ibuku.

***

Kereta datang dari arah Barat. Pas...gerbong tengahnya berhadapan denganku. Aku masuk.

Saat aku masuk, kursinya bukan berbentuk persegi tetapi semacam kolidor sekolah yang menempel di sisi-sisi. Jelas ini tidak menarik. Aku memusatkan penglihatanku menunduk ke bawah. Ya tentu melamun. Bayang-bayangku masih tentang ibu.

Derrtttt.....derrtt..  handphoneku bergetar. Ternyata sodara perempuanku menelpon. Saat aku angkat, katanya, "Ini si mamah pengen bicara"

"Ya. Iya apa mah?"

"Kamu ga papa? Mamah hawatir. Cepet pulang.." suara ibuku tampak lemes.

1 menit berhenti, ada jeda, aku masih melamun sedangkan handhpone belum ada yang mematikan sama sekali entah dari aku atau ibuku. Tidak pula ada pembicaraan setelah ibuku mengatakan demikian.

***

Kesimpulannya, kupikir, yang eksentik dari semua ini saat aku ke luar kota dan naik kereta adalah tak pernah absennya sosok ibu.

Begini..

Pertanyaannya, sepakatkah kalau Tuhan menciptakan gunung itu untuk kita puji, seperti berucap "Subhanalloh" saat melihat betapa indahnya pemandangan, menghirup oksigen segar dan lain-lain. Tetapi apakah kita pernah menuliskan nama ibu kita dalam selembar kertas dan kita upload di media sosial lalu picture belakangnya gunung? Bukankah nama yang biasa orang tulis di kertas itu nama teman atau pasangannya dengan kalimat ajakan, sedangkan nama ibu?

Silahkan berfilsapat..

__________________________

Singkat cerita ketika aku pulang ke Garut. Ibuku tersenyum kecil di luar rumah saat ia sedang mencebor bunga. Aku mencium tangannya.

Aku menoleh ke arahnya namun ibuku sedang menyelesaikan bunga terahirnya.

***

Kota dan kereta, tempat eksentik. Tuhan tidak pernah pilih-pilih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar