14 April 2016

Kucing

Tiba-tiba aku terbangun dalam mimpiku pada dini hari tadi. Sialnya, mimpi yang tak ada fadehnya itu dilengkapi dengan sisi kanan celanaku basah. Demikian aku mulai menggerakan badan menyenderkan kepalaku menempel dikepala risbang. Mengucek mata perlahan. Kulihat di sudut kiri kamarku si Meli sedang lenyap dalam tidurnya. Pantas saja suara meong-meongnya menggangguku. Enak memang, tidur di atas sejadah yang hangat. Detik-detik suara jam dinding mengalihkan penglihatanku. Masya Alloh sudah pukul lima lebih, kupikir aku harus wudhu. Sebentar, wudhu atau adus?

Terimaksih jeda ingatku, tanpa beliau kuyakin aku sudah lupa.

Kuambil handuk orange segera bergegas ke kamar mandi yang, nanti kemungkinan badanku akan dingin. Satu langkah, dua langkah..dia bangun. Berisik. Dari tatapan belototnya sudah minta keluar. Kubuka pintu ruang tamu. Ia lari, mungkin kebelet ingin cepat-cepat mengeluarkan tahi. Mengganggu kedua kalinya, Mel.

Bruuushh...bruushh...brusssh. Mandi seperti ini yang aku suka. Ada aturan pun ada pahalanya.

Mengibaskan tempat sembahyang. Oh bejad, sajadah bekas si Meli penuh bulu. Kukira ini wajib diganti biar syar’i. Demikian sembahyang shubuh sudah terlaksana.

Pagi-pagi menghirup udara segar di luar rumah. Bunga-bunga cantik milik ibuku menebarkan pesona. Kupetik satu daun mawar merah. Kulirik tajam menghayati, indahnya penciptaan Tuhan.

Geli kaki kananku. Curiga, tentu, dia datang lagi, kan. Aura kedatangannya manja-manja seperti ada sesuatu yang ingin ia mau.

“Makan?” tanyaku, jongkok, mengusap kepalanya.

“Meoooongg”                               

“Majikanmu juga belum makan kalii” kataku, sewot. Ia menatap sayu. Sepertinya, ia kira, aku lucu, mungkin.

Kuambil gadgetku di atas kasur. Bete, tak ada sms pun demikian chatt bb. Jeda ingatku muncul kembali, aha, kopi!

Pukul setengah tujuh lebih warung-warung dekat rumahku sudah buka. Beragam macam bentuk makanan semacam gorengan sudah siap saji. Praktis, aku hanya beli kopi bercangkang kapal api. Maklum, tanggal tua.

Kuracik kopiku dengan sebaik mungkin oleh beberapa putaran sendok. Layak, kopi ini dinikmati sendirian. Kunikmati seteguk, simpan, seteguk, simpan. Teruus sampai setengah cangkir. Ia melongo, “apa enaknya minum kopi?” kira-kira itu yang ingin ia tanyakan. Aku cukup peka teman-teman kalau berinteraksi dengan seekor kucing dapur. Ya, si Meli kucing dapur. Setiap ia curhat, ia selalu minta lengkuas, bawang putih, merah, bombai, daun. Padahal urusan dapur, yang lebih paham ya itu ibuku!

Ada sisi ketakutan dalam diri dia terhadap ibuku. Padahal ibuku baik, ia tidak menuntut aku untuk bekerja. Ia selalu mempersilahkan..kamu mau jadi apa, bagaimana, itu semua jalani oleh konsep, keinginan dan jati diriku. Semua konsekuensi dalam kehidupan ini aku tanggung. Ibuku hanya menasihati dan mendukung.

Mungkin, mungkin Meli kapok ketika kepeminimannya menjadi brutal. Jelas, ibuku memukul pake sapu disaat ia mencuri ikan mas yang telah ibuku masak. Aku paham, ia kelaparan kala itu. Namun hebatnya, ia belajar dari pengalaman. Sekarang, ia tidak berani brutal lagi. Alih-alih cuma bawel meminta bumbu dapur, ya tak jadi masalah.

“Kopiku habis. Ini siapa yang meminumnya?” tanyaku bernada keras, sembari heran kebingungan. Niatku adalah iseng-iseng mengagetkan Meli. “Ada apa ini ribut-ribut?” ibuku menyahut dari rumah. Meli duduk tegang di samping kiriku ketika mendengar ibu berbicara.

“Kau takut sayang?” tanyaku, manja.

“Meoooonggg” (terjemah: siapa takut!), jawabnya. Kuelus-elus kepalanya, pelan. Ia pun ngelindur.

Derrttt....derrttt...... getar handphoneku, kuambil disaku kiri celana jeansku. Kubuka dan baca. “Selamat pagi sayang!” sms dari pacarku, dilengkapi dengan emot titik dua bintang. “Selamat pagi juga sayang!”. Kubalas. Eh sebal, gagal terkirim. Ku balas dia lewat bbm, ceklis.

Ah biarkan saja, pikirku. 5 menit kemudian, handphoneku berbunyi kembali, kubaca “Kok ga dibales yang?”. Sms yang kedua darinya. Memang begitulah pacarku, ia selalu minta balasan dan tak pernah otak kecilnya berpikir kalau aku sedang bokek.

Derrrtt derttt suara handphoneku kali ini keras, pacarku nelpon. Kuangkat handphoneku.

“Aw!” kataku. Meli memuai panjang badannya setelah sepersekian menit ia ngelindur. Tak sengaja, kuku tangan kanannya terkena kaki kiriku.

“Meliii!!!!” ucapku, keras, sembari mengusap-ngusap cepat agar kakiku tidak sakit. “Hah siapa Meli?” tanya pacarku.

Waduh.

“Ohaha ini kucing aku” balasku sambil kesusahan nelpon sebab handphoneku menempel dibahu dan ditelinga. “Bohong. Sejak kapan kamu punya kucing?” emosi pacarku meledak, semacam akan terjadi perang dunia.

“Serius, ini kucing, kucing dapur, namanya Meli. Gituuu” jelasku. “Wanita-mana-lagi. Jadi kamu punya simpanan?” sewot pacarku. Asu.

“Bukan!” Tuuut. Tuuuuuutt. Telpon ditutup oleh pacarku. Sesungguhnya lemes sekali. Kulirik Meli. Ia berjalan ke dapur, sungguh polos.

Di sekolah aku cari-cari pacarku. Tengok kanan-kiri tak ketemu. Pun demikan dikelasnya, ada beberapa temannya saja sedang ngobrol. Kutanya dua sahabatnya, kabarnya ia izin, katanya. Ia tidak masuk sebab keluarganya ada keperluan. Kutelpon dia, brengsek, khilaf belum isi pulsa.

Jeda ingatku kembali muncul. Aha, facebook.

Kujelaskan semuanya kepada dia bahwa aku memang punya kucing. Kuupload fotonya biar ada bukti. Apa daya, dijam istirahat, kucek facebook kembali. Balasan dia, “oh!” dua huruf, satu kata, menyakitkan. Okelah, karakterku yang tak begitu peduli-peduli amat kepada kekasih. Ya biarkan saja.

“Meooongggg” suara kucing kesayanganku, Meli. Ketika aku hendak pulang dari sekolah, sekarang aku berada di rumah. Dengan rasa cape, mumet, kumainkan dia dengan elusan sayang. Sesekali ku gendong dia, gemes. Kuberi dia makan berupa sepotong daging ayam. Ia lahap dengan baik. Kuarahkan ia menuju wajan yang penuh air, agar dia minum. Pun demikian ia minum.

Derrtt...derrtt...getar handphoneku. Kuambil disaku kiri. Pacarku sms, “Aku udah percaya.” Aku balas dia, “Alhamdulilah.” balasku, kali ini pesan terkirim karena sepulang sekolah mampir ke konter dulu. “Sekarang kamu lagi apa sama kucingmu, si Meli itu?”

“Ngasih dia minum” balasku, singkat. Mengganggu saja. “Besok-besok ajak aku kerumah kamu. Pengen lihat dia”. “Iya!”

***

Minggu pagi, kuambil laptopku. Kubuka Microsoft Word. Kuatur tampilannya dengan margins kesukaanku dilengkapi juga dengan font 12 Times New Roman. Hap. Mataku melotot serius kedepan layar. Apa yang akan aku tulis? Tidak ada. Kugaruk-garuk rambut keritingku. Goblok. Writers block.

Mulai kebingungan. Sudahlah, karena malam minggu tadi berantem dengan pacarku ditambah club kesayangan bolaku kalah. Aku pun berbaring lemes diruang tamu. Sementara itu laptopku masih stay, menyala, menunggu macem orang untuk mengetiknya.

Tak lama kemudian Meli menghampiri dari arah kanan pintu rumahku. Dari pada suasana hening, tak ada pembicaraan apapun, demikian juga otaku mandeg. Kuambil saja Meli, kumainkan dia. Jeda ingatku kembali muncul, lhaa wong laptopku nganggur. Yasudah, biar ada kolaborasinya, kusimpan Meli di atas keyboard.

Sembari berbaring lemes, sesekali ngelindur, kusuruh Meli untuk menulis. Meli tak ada reaksi apapun. Ia hanya melongo melihatku sementara tangan dan kakinya menginjak keyboard.

“Mel” kataku.

“Meoooooonggg” jawab dia sambil menjilat tangannya kemudian jilatan tangannya dieluskan ke kepalanya. “Tolong ketiklah” ujarku, sungguh aku memang bosan minggu pagi itu. Ia menjawab “Meoooongggg!!” lagi dan lagi jawabannya itu. Asu. Kebosanan ini membuatku ingin tidur. Kisaran 20 menit aku tidur. Zzz.....

Demikan aku bangun, jam dindingku menunjukan sudah pukul setengah sembilan. Aku pun jongkok setelah berbaring. Loh, aku melihat kucing kesayanganku sedang menulis. Aku tertawa terbahak-bahak.

“Huruf W nya digedein kalau setelah titik, tekan shift dibarengi huruf W” kataku, tertawa lepas, Meli manggut-manggut. Seolah-olah ia memahami.

Anda tau apa yang kucingku tulis?

Jsfdhbfdjgbjkghjfhjdghjhgjhtiweptqihtuewhjfbjxnjsmcjkndkmckmvknqugtpu7453746jfehjrjerr. Writers block.

Meli berhasil membuat novelku semakin lama lagi untuk dirampungkan.

_________________________________________________________________________

Baca cerpen lainnya (disini)

Ketika bertemu dengan Sinta, perempuan asal Cicalengka (Sepenggal Cerita Bersamanya di Dalam Kereta)