
Terimaksih jeda ingatku, tanpa beliau kuyakin aku
sudah lupa.
Kuambil handuk orange segera bergegas ke kamar mandi
yang, nanti kemungkinan badanku akan dingin. Satu langkah, dua langkah..dia bangun.
Berisik. Dari tatapan belototnya sudah minta keluar. Kubuka pintu ruang tamu.
Ia lari, mungkin kebelet ingin cepat-cepat mengeluarkan tahi. Mengganggu kedua
kalinya, Mel.
Bruuushh...bruushh...brusssh. Mandi seperti ini yang
aku suka. Ada aturan pun ada pahalanya.
Mengibaskan tempat sembahyang. Oh bejad, sajadah
bekas si Meli penuh bulu. Kukira ini wajib diganti biar syar’i. Demikian
sembahyang shubuh sudah terlaksana.
Pagi-pagi menghirup udara segar di luar rumah.
Bunga-bunga cantik milik ibuku menebarkan pesona. Kupetik satu daun mawar
merah. Kulirik tajam menghayati, indahnya penciptaan Tuhan.
Geli kaki kananku. Curiga, tentu, dia datang lagi,
kan. Aura kedatangannya manja-manja seperti ada sesuatu yang ingin ia mau.
“Makan?” tanyaku, jongkok, mengusap kepalanya.
“Meoooongg”
“Majikanmu juga belum makan kalii” kataku, sewot. Ia
menatap sayu. Sepertinya, ia kira, aku lucu, mungkin.
Kuambil gadgetku di atas kasur. Bete, tak ada sms
pun demikian chatt bb. Jeda ingatku muncul kembali, aha, kopi!
Pukul setengah tujuh lebih warung-warung dekat
rumahku sudah buka. Beragam macam bentuk makanan semacam gorengan sudah siap
saji. Praktis, aku hanya beli kopi bercangkang kapal api. Maklum, tanggal tua.
Kuracik kopiku dengan sebaik mungkin oleh beberapa
putaran sendok. Layak, kopi ini dinikmati sendirian. Kunikmati seteguk, simpan,
seteguk, simpan. Teruus sampai setengah cangkir. Ia melongo, “apa enaknya minum kopi?” kira-kira itu
yang ingin ia tanyakan. Aku cukup peka teman-teman kalau berinteraksi dengan
seekor kucing dapur. Ya, si Meli kucing dapur. Setiap ia curhat, ia selalu
minta lengkuas, bawang putih, merah, bombai, daun. Padahal urusan dapur, yang
lebih paham ya itu ibuku!
Ada sisi ketakutan dalam diri dia terhadap ibuku. Padahal
ibuku baik, ia tidak menuntut aku untuk bekerja. Ia selalu mempersilahkan..kamu
mau jadi apa, bagaimana, itu semua jalani oleh konsep, keinginan dan jati
diriku. Semua konsekuensi dalam kehidupan ini aku tanggung. Ibuku hanya
menasihati dan mendukung.
Mungkin, mungkin Meli kapok ketika kepeminimannya
menjadi brutal. Jelas, ibuku memukul pake sapu disaat ia mencuri ikan mas yang
telah ibuku masak. Aku paham, ia kelaparan kala itu. Namun hebatnya, ia belajar
dari pengalaman. Sekarang, ia tidak berani brutal lagi. Alih-alih cuma bawel
meminta bumbu dapur, ya tak jadi masalah.
“Kopiku habis. Ini siapa yang meminumnya?” tanyaku
bernada keras, sembari heran kebingungan. Niatku adalah iseng-iseng mengagetkan
Meli. “Ada apa ini ribut-ribut?” ibuku menyahut dari rumah. Meli duduk tegang
di samping kiriku ketika mendengar ibu berbicara.
“Kau takut sayang?” tanyaku, manja.
“Meoooonggg” (terjemah: siapa takut!), jawabnya. Kuelus-elus
kepalanya, pelan. Ia pun ngelindur.
Derrttt....derrttt...... getar handphoneku, kuambil
disaku kiri celana jeansku. Kubuka dan baca. “Selamat pagi sayang!” sms dari
pacarku, dilengkapi dengan emot titik dua bintang. “Selamat pagi juga sayang!”.
Kubalas. Eh sebal, gagal terkirim. Ku balas dia lewat bbm, ceklis.
Ah biarkan saja, pikirku. 5 menit kemudian,
handphoneku berbunyi kembali, kubaca “Kok ga dibales yang?”. Sms yang kedua
darinya. Memang begitulah pacarku, ia selalu minta balasan dan tak pernah otak
kecilnya berpikir kalau aku sedang bokek.
Derrrtt derttt suara handphoneku kali ini keras,
pacarku nelpon. Kuangkat handphoneku.
“Aw!” kataku. Meli memuai panjang badannya setelah
sepersekian menit ia ngelindur. Tak sengaja, kuku tangan kanannya terkena kaki
kiriku.
“Meliii!!!!” ucapku, keras, sembari mengusap-ngusap
cepat agar kakiku tidak sakit. “Hah siapa Meli?” tanya pacarku.
Waduh.
“Ohaha ini kucing aku” balasku sambil kesusahan
nelpon sebab handphoneku menempel dibahu dan ditelinga. “Bohong. Sejak kapan
kamu punya kucing?” emosi pacarku meledak, semacam akan terjadi perang dunia.
“Serius, ini kucing, kucing dapur, namanya Meli.
Gituuu” jelasku. “Wanita-mana-lagi. Jadi kamu punya simpanan?” sewot pacarku.
Asu.
“Bukan!” Tuuut. Tuuuuuutt. Telpon ditutup oleh
pacarku. Sesungguhnya lemes sekali. Kulirik Meli. Ia berjalan ke dapur, sungguh
polos.
Di sekolah aku cari-cari pacarku. Tengok kanan-kiri
tak ketemu. Pun demikan dikelasnya, ada beberapa temannya saja sedang ngobrol.
Kutanya dua sahabatnya, kabarnya ia izin, katanya. Ia tidak masuk sebab
keluarganya ada keperluan. Kutelpon dia, brengsek, khilaf belum isi pulsa.
Jeda ingatku kembali muncul. Aha, facebook.
Kujelaskan semuanya kepada dia bahwa aku memang
punya kucing. Kuupload fotonya biar ada bukti. Apa daya, dijam istirahat, kucek
facebook kembali. Balasan dia, “oh!” dua huruf, satu kata, menyakitkan. Okelah,
karakterku yang tak begitu peduli-peduli amat kepada kekasih. Ya biarkan saja.
“Meooongggg” suara kucing kesayanganku, Meli. Ketika
aku hendak pulang dari sekolah, sekarang aku berada di rumah. Dengan rasa cape,
mumet, kumainkan dia dengan elusan sayang. Sesekali ku gendong dia, gemes.
Kuberi dia makan berupa sepotong daging ayam. Ia lahap dengan baik. Kuarahkan ia
menuju wajan yang penuh air, agar dia minum. Pun demikian ia minum.
Derrtt...derrtt...getar handphoneku. Kuambil disaku
kiri. Pacarku sms, “Aku udah percaya.” Aku balas dia, “Alhamdulilah.” balasku,
kali ini pesan terkirim karena sepulang sekolah mampir ke konter dulu. “Sekarang
kamu lagi apa sama kucingmu, si Meli itu?”
“Ngasih dia minum” balasku, singkat. Mengganggu
saja. “Besok-besok ajak aku kerumah kamu. Pengen lihat dia”. “Iya!”
***
Minggu pagi, kuambil laptopku. Kubuka Microsoft Word.
Kuatur tampilannya dengan margins kesukaanku dilengkapi juga dengan font 12
Times New Roman. Hap. Mataku melotot serius kedepan layar. Apa yang akan aku
tulis? Tidak ada. Kugaruk-garuk rambut keritingku. Goblok. Writers block.
Mulai kebingungan. Sudahlah, karena malam minggu
tadi berantem dengan pacarku ditambah club kesayangan bolaku kalah. Aku pun berbaring
lemes diruang tamu. Sementara itu laptopku masih stay, menyala, menunggu macem
orang untuk mengetiknya.
Tak lama kemudian Meli menghampiri dari arah kanan
pintu rumahku. Dari pada suasana hening, tak ada pembicaraan apapun, demikian
juga otaku mandeg. Kuambil saja Meli, kumainkan dia. Jeda ingatku kembali
muncul, lhaa wong laptopku nganggur. Yasudah, biar ada kolaborasinya, kusimpan
Meli di atas keyboard.
Sembari berbaring lemes, sesekali ngelindur, kusuruh
Meli untuk menulis. Meli tak ada reaksi apapun. Ia hanya melongo melihatku
sementara tangan dan kakinya menginjak keyboard.
“Mel” kataku.
“Meoooooonggg” jawab dia sambil menjilat tangannya
kemudian jilatan tangannya dieluskan ke kepalanya. “Tolong ketiklah” ujarku,
sungguh aku memang bosan minggu pagi itu. Ia menjawab “Meoooongggg!!” lagi dan
lagi jawabannya itu. Asu. Kebosanan ini membuatku ingin tidur. Kisaran 20 menit
aku tidur. Zzz.....
Demikan aku bangun, jam dindingku menunjukan sudah
pukul setengah sembilan. Aku pun jongkok setelah berbaring. Loh, aku melihat
kucing kesayanganku sedang menulis. Aku tertawa terbahak-bahak.
“Huruf W nya digedein kalau setelah titik, tekan
shift dibarengi huruf W” kataku, tertawa lepas, Meli manggut-manggut.
Seolah-olah ia memahami.
Anda tau apa yang kucingku tulis?
Jsfdhbfdjgbjkghjfhjdghjhgjhtiweptqihtuewhjfbjxnjsmcjkndkmckmvknqugtpu7453746jfehjrjerr.
Writers block.
Meli berhasil membuat novelku semakin lama lagi untuk dirampungkan.
Meli berhasil membuat novelku semakin lama lagi untuk dirampungkan.
_________________________________________________________________________
Baca cerpen lainnya (disini)
Ketika bertemu dengan Sinta, perempuan asal Cicalengka (Sepenggal Cerita Bersamanya di Dalam Kereta)
Ketika bertemu dengan Sinta, perempuan asal Cicalengka (Sepenggal Cerita Bersamanya di Dalam Kereta)