10 April 2016

Manifestasi | for Allah




            Hal termudah dalam hidup adalah menyembunyikan rasa suka dan cinta terhadap seseorang. Selanjutnya, menyembunyikan kesedihan dihadapan semua sahabat. Dan selanjutnya, menyembunyikan aib disekeliling masyarakat. Tentu, hal-hal termudah yang aku tulis di atas tidak bisa terlepas dari penglihatan Allah, yang mengetahui segala sesuatu atau spesifiknya, yang maha tau apa yang hambaNya kerjakan. Bukan begitu?

            Di suatu ketika, saat dimana aku sedang nikmat bercumbu ria dengan segelas kopi di sore hari. Ada salah satu teman laki-laki ke rumah, dia berwajah yang penuh masalah, dapat dilihat dari cara ia membuka helm. Ia begitu amat rusuh seperti ingin cepat-cepat meminta solusi kepadaku.

“Saya dipecat!” kalimat pertama yang ia cetuskan. Luar biasa, dia berhasil memberikan kepanikan untukku. Sebagai sahabatnya, tentu turut berduka cita mendengarnya.

“Kenapa bisa dicepat?”

“Gak tau!”

            Meyakini dalam hati bahwa ia dipecat karena kurang disiplin. Namanya juga sahabat, sedikitnya tau karakter/kepribadiannya. Walaupun dia tidak bercerita alasannya dipecat, karena memang cenderung si perusahaan kalau memecat seseorang tanpa menyebutkan sebab.

“Terus project selanjutnya apa, bro?”

“Menganggur dulu. Tapi nanti coba-coba kerja di Bandung”

            Begini kawan-kawan. Menurutku, mereka yang mempunyai kepribadian disiplin itu hebat, mereka berhati-hati dalam mengelola pekerjaan serta penuh tanggung jawab memenuhi kewajibannya. Sahabatku itu memang fatal perihal kedisiplinan. Ia selalu meremehkan segala sesuatu. Semacam dulu waktu kami sekolah, ia mempunyai gagasan, “Telat ke sekolah gapapah. Tinggal pulang lagi” atau “Telat kesekolah. Kasih saja rokok ke satpamnya”.

            Disiplin adalah masalah kebiasaan. Setiap tindakan yang berulang pada waktu dan tempat yang sama. Disiplin sejati tidak terbentuk dalam kurun waktu satu atau dua tahun, tetapi merupakan bentukan kebiasaan sejak kita kecil, kemudian perilaku tersebut dipertahankan pada waktu remaja dan dihayati maknanya di waktu dewasa dan dipetik hasilnya.

            Satu diantara alasan mengapa aku belum bekerja. Ya aku juga perilaku yang kurang disiplin. Aku sadar, dari pada merugikan dan mengecewakan tempat pekerjaan lebih baik aku menyiapkan karakter baikku terlebih dahulu.

            Sahabatku yang telah dipecat itu problemnya adalah uang. Makanya, ia selalu giat mencari uang tanpa disadari kalau dia belum dikategorikan siap dalam bekerja karena kurang disiplin.

***

“Bro. Saya lihat kehidupanmu kayaknya senang-senang aja?” tanya dia kemudian duduk di sisi kiriku.

Aku tersenyum dihadapan dia. Aku ambil gelasku kemudian sedikit demi sedikit meneguk kopi yang beberapa tegukan lagi akan habis.

“Perlukah kesedihan diceritakan kepadamu? Haha” jawabku, iseng.

“Laaah kita sebagai sahabat, cerita-ceritalah”.

            Begitu kira-kira kalimat manja yang kerap aku dengar dari mereka tentangku. Begini kawan-kawan, tatkala kita cerita kesedihan kepada seorang teman. Alih-alih mereka tentu mendengarnya walaupun sambil main gadget. Kemudian mereka memberikan solusi. Tapi prinsipku berbeda, aku berani bercerita tentang cinta dihadapan mereka dengan kisah cinta yang agak dihiperbolakan. Namun, tentang kesedihan semacam ekonomi, pekerjaan, dan yang ada kaitannya dengan sosialisai keluarga dan orang lain. Aku tak mau bercerita. Cukup Allah yang maha pengasih dan bijaksana mendengar curhatanku, terlebih memang Allah yang memberikan bumbu kesedihan dan Allah juga yang memberikan cara membereskan permasalahan.

            Tak lama kemudian aku meneguk kopi kembali. Itu adalah tegukan terakhir. Aku lirik sahabatku yang kesedihannya sedang drop. Aku tertawa melihat dia. Dia pun menoleh dengan sudut mata kanannya.

“Ada yang lucu?”

“Hahahaha.”. Aku terus-terusan tertawa ngakak melihat sahabatku. 

Aku berhenti tertawa dan memegang pundak kanannya.

“Kau punya Allah. Ceritakan kesedihan, pinta apa yang kau mau!”

Ia melepaskan tanganku dengan pelan. Ia tiba-tiba tertawa ngakak.

“Hahahaha, Kau benar!”

***

Setelah itu, pandangan sahabatku lurus, kemudian ia berujar, “Bagaimana kalau kita ngopi lagi sambil mengingat Allah?"