
Hal termudah dalam hidup adalah menyembunyikan rasa
suka dan cinta terhadap seseorang. Selanjutnya, menyembunyikan kesedihan
dihadapan semua sahabat. Dan selanjutnya, menyembunyikan aib disekeliling
masyarakat. Tentu, hal-hal termudah yang aku tulis di atas tidak bisa terlepas
dari penglihatan Allah, yang mengetahui segala sesuatu atau spesifiknya, yang
maha tau apa yang hambaNya kerjakan. Bukan begitu?
Di suatu ketika, saat dimana aku
sedang nikmat bercumbu ria dengan segelas kopi di sore hari. Ada salah satu
teman laki-laki ke rumah, dia berwajah yang penuh masalah, dapat dilihat dari
cara ia membuka helm. Ia begitu amat rusuh
seperti ingin cepat-cepat meminta solusi kepadaku.
“Saya dipecat!” kalimat pertama yang ia cetuskan.
Luar biasa, dia berhasil memberikan kepanikan untukku. Sebagai sahabatnya, tentu
turut berduka cita mendengarnya.
“Kenapa bisa dicepat?”
“Gak tau!”
Meyakini dalam hati bahwa ia dipecat
karena kurang disiplin. Namanya juga sahabat, sedikitnya tau
karakter/kepribadiannya. Walaupun dia tidak bercerita alasannya dipecat, karena
memang cenderung si perusahaan kalau memecat seseorang tanpa menyebutkan sebab.
“Terus project selanjutnya apa, bro?”
“Menganggur dulu. Tapi nanti coba-coba kerja di
Bandung”
Begini kawan-kawan. Menurutku, mereka
yang mempunyai kepribadian disiplin itu hebat, mereka berhati-hati
dalam mengelola pekerjaan serta penuh tanggung jawab memenuhi kewajibannya.
Sahabatku itu memang fatal perihal kedisiplinan. Ia selalu meremehkan segala
sesuatu. Semacam dulu waktu kami sekolah, ia mempunyai gagasan, “Telat ke
sekolah gapapah. Tinggal pulang lagi” atau “Telat kesekolah. Kasih saja rokok
ke satpamnya”.
Disiplin adalah masalah kebiasaan.
Setiap tindakan yang berulang pada waktu dan tempat yang sama. Disiplin sejati
tidak terbentuk dalam kurun waktu satu atau dua tahun, tetapi merupakan
bentukan kebiasaan sejak kita kecil, kemudian perilaku tersebut dipertahankan
pada waktu remaja dan dihayati maknanya di waktu dewasa dan dipetik hasilnya.
Satu diantara alasan mengapa aku
belum bekerja. Ya aku juga perilaku yang kurang disiplin. Aku sadar, dari pada
merugikan dan mengecewakan tempat pekerjaan lebih baik aku menyiapkan karakter
baikku terlebih dahulu.
Sahabatku yang telah dipecat itu
problemnya adalah uang. Makanya, ia selalu giat mencari uang tanpa disadari kalau dia
belum dikategorikan siap dalam bekerja karena kurang disiplin.
***
“Bro. Saya lihat kehidupanmu kayaknya senang-senang
aja?” tanya dia kemudian duduk di sisi kiriku.
Aku tersenyum dihadapan dia. Aku ambil gelasku
kemudian sedikit demi sedikit meneguk kopi yang beberapa tegukan lagi akan
habis.
“Perlukah kesedihan diceritakan kepadamu? Haha”
jawabku, iseng.
“Laaah kita sebagai sahabat, cerita-ceritalah”.
Begitu
kira-kira kalimat manja yang kerap aku dengar dari mereka tentangku. Begini
kawan-kawan, tatkala kita cerita kesedihan kepada seorang teman. Alih-alih
mereka tentu mendengarnya walaupun sambil main gadget. Kemudian mereka
memberikan solusi. Tapi prinsipku berbeda, aku berani bercerita tentang cinta
dihadapan mereka dengan kisah cinta yang agak dihiperbolakan. Namun, tentang
kesedihan semacam ekonomi, pekerjaan, dan yang ada kaitannya dengan sosialisai keluarga dan orang lain. Aku tak mau bercerita. Cukup Allah yang maha
pengasih dan bijaksana mendengar curhatanku, terlebih memang Allah yang
memberikan bumbu kesedihan dan Allah juga yang memberikan cara membereskan
permasalahan.
Tak lama kemudian aku meneguk kopi
kembali. Itu adalah tegukan terakhir. Aku lirik sahabatku yang kesedihannya
sedang drop. Aku tertawa melihat dia. Dia pun menoleh dengan sudut mata
kanannya.
“Ada yang lucu?”
“Hahahaha.”. Aku terus-terusan tertawa ngakak
melihat sahabatku.
Aku berhenti tertawa dan memegang pundak kanannya.
“Kau punya Allah. Ceritakan kesedihan, pinta apa yang
kau mau!”
Ia melepaskan tanganku dengan pelan. Ia tiba-tiba
tertawa ngakak.
“Hahahaha, Kau benar!”
***
Setelah itu, pandangan sahabatku lurus, kemudian ia berujar, “Bagaimana kalau kita ngopi lagi sambil mengingat Allah?"