Ada semacam selera yang berbeda-beda dari masing-masing seorang pembaca. Saya sebagai seorang yang candu betul oleh kegiatan membaca--amat menyukai bacaan-bacaan yang dapat mengganggu otak saya.
Ini bukan postingan seperti mereview sebuah buku tetapi entahlah, saya ingin bercerita tentang njilemtnya membaca buku ini. Buku berwarna merah bertulisan "Mencintai Che" itu adalah buku bekas, bolehlah saya mengatakan demikian sebab menurut referenshi yang ada memang seperti itu. Terlebih identitas buku ini di review tahun 2004 dalam terjemahan dari "LOVING CHE".
Tentang Ana Menendez. Kau tau, beliau seorang jurnalis dan penulis berdarah Kuba, lahir dan besar di Amerika. Latar belakang beliau menurut saya di dalam buku ini sebagai orang buangan.
Lalu apa yang dapat menganggu otak saya, ada di sinopsis sampul belakang bukunya, seperti ini "Seorang wanita muda Kuba, yang dibesarkan di Miami, hanya memiliki satu penghubung dengan sang ibu yang telah meninggalkannya--penggalan puisi seorang Pablo Neruda yang ditemukan kakeknya yang disematkan di baju si bayi wanita tersebut, ketika sang kakek lari bersamanya pada saat pergolakan di Havana tahun 1960-an."
Paragraf pertamanya sudah membuat saya penasaran. Apalagi paragraf terahirnya, "Pencarian wanita ini kepada ibunya tak memberi harapan, sampai datangnya paket misterius. Isinya, helai demi helai tulisan dan foto-foto yang sobek, menjungkirbalikan dunianya dengan cerita yang membakar hubungan penuh gairah antara ibunya dengan pemimpin pemberontak kharismatik. Ernesto 'Che' Guevera. Kini sang puteri harus kembali ke Havana untuk menyatukan kepingan-kepingan kebenaran tentang masa lalunya." 2 paragraf di atas adalah perihal sinopsis singkat.
Halaman 3, Menendez mengatakan tentang asal usulnya, katanya, dia tidak tahu banyak. Menurutnya, ia dibesarkan oleh kakeknya di pinggiran barat Miami. Di rumah kakeknya tidak ada media apapun semacam televisi atau majalah, yang ada hanya buku-buku.
Tentang orang tuanya, ia mengira bahwa ayahnya dipenjara dan mati disana lalu ibunya menitipkan pada sang kakek. Setelah itu halaman-halaman berikutnya menceritakan kebahagiaan bersama kakeknya semasa kecil.
Di halaman 10 ada puisi yang saya suka dan isinya membekas sampai-sampai diceritakan pada halaman selanjutnya, "Selamat tinggal, tapi aku akan selalu. Bersamaku, kau akan selalu ada setiap. Darah yang mengalir dalam diriku." Puisi ini kalau tidak salah ditulis oleh Pablo Neruda, seperti yang tercantum dalam sinopsis tadi.
Nah disini, di halaman 15 yang paling mengganggu dan sangat menganggu dalam novel ini saat Ana menuliskan dan menceritakan tokoh Che atau Ernesto Che Guevara. Karena saya membenci kata "Revolusi" atau yang berbau politik, lumayan tidak begitu peduli--dilewat baca tidak tetapi tidak dihayati, sekilas saja.
"Mencintai Che terasa seperti buih laut yang paling pucat, seperti angin melintasi bintang-bintang" --hal 158
Dapat saya simpulkan bahwa novel Ana Menendez sangat puitis. Keromantisan paling utama, disamping itu pula ada tentang peperangan, lalu bayang-bayangnya adalah seperti hidup di kota tua, legenda--jauh di luar nalar saya.
"Selamat tinggal. Selamat tinggal tapi aku akan selalu bersama"
Kalimat itu memang menyihir, tersimpan dalam penutup akhir bab "Mencintai Che".
Bab terakhir "Surat di Jalanan". Entah maksud surat disini tentang apa. Namun ada nama tokoh baru "Teresa". Kata Ana, di halaman 181 ia membahas kota Miami. Kotanya itu bukanlah kota bagi para pahlawan romantis; disini keterlibatan dengan revolusi adalah sesuatu yang harus disembunyikan, disangkal dan akhirnya dilupakan. Dilupakan ya-sudah-lupakan-bab-ini.
Teresa da la Cueva atau Teresa de la Landre, menurut sumber yang ada dia adalah ibu dari Ana Menendez. Pembahasan tentang ibunya itu sedikit banyak di ceritakan oleh seorang nenek tua. Nenek tua itu sempat bekerja di rumah ibu Teresa. Namun dalam buku tidak disebutkan nama asli nenek-nenek itu, hanya menggunakan nama "Nenek Tua".
Ringkasnya, kalimat akhir dari buku ini adalah menggambar tokoh Che sebagai seorang asing yang tampan yang, dalam mimpi lain, mungkin menjadi ayahku tercinta, katanya.
Penerbit Mata Angin. Tebal buku 272. Bagi yang minat baca buku ini mungkin bisa dibeli dengan cara searching di google pake keywoard judul postingan saya.
***
Kesan saya untuk buku ini, ya sulit. Menganggu dan tidak ada niat untuk membaca yang kedua kalinya. Tetapi walaupun menganggu, eksistensi kotanya dan gaya penulisan Ana, saya suka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar