2 Agustus 2016

Tentang Entrepreunership dalam Buku melihat tanpa mata

Abdul Latief, saya tidak begitu mengenal nama penulis di buku melihat tanpa mata itu. Yang jelas, dalam halaman 142 selaras lima catatan tentang entrepreunership, dapat menggugah hati saya, berhubung akan terjun ke dunia tersebut.

Latief, akrab disapa seperti itu dalam biodatanya, ia menulis tentang perjalanan hidupnya di usia muda, masa-masa kampus, pekerjaannya, yang mana hampir semua peristiwa dalam hidupnya dapat dicatat, diambil hikmahnya kemudian dijadikan pelajaran, ini tercantum dalam semua bab di bukunya.

Saya suka dengan pekerjaan bapak kelahiran 1983 itu, pekerjaannya selalu menuntut untuk berkunjung ke berbagai daerah. Katanya, salah satu fenomena yang menarik dari setiap kunjungannya adalah pengalaman, hikmah, dan pelajaran kearifan lokal dari setiap daerah.

Tentang entrepreunership sendiri, saya kurang paham dengan definisinya, terlebih beberapa ahli yang pernah saya baca seperti Achmad Sanusi, Soeharto Prawiro, dan yang lainnya, mereka berbagi pendapat tentang arti pekerjaan tersebut. Untuk itu saya lebih ngeh, sepakat, dari website www.temukanpemengertian.com, bahwa entrepreneurship itu adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun bertujuan untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Yang mana meliputi pembangunan, pembentukan perusahaan baru, kegiatan wirausaha juga merupakan kemampuan managerial yang diperlukan seorang entrepreuner.

Akhir-akhir ini jiwa kewirausahaan saya muncul, ini terjadi saat ngobrol bersama salah satu teman SMA, yang mana karir ia beda dengan rekan-rekan lainnya. Ia berdagang di mall semacam aneka minuman, ia tawarkan ke beberapa orang yang jalan-jalan disana. Setiap hari ia bisa mengumpulkan maxsimal 200ribu, 2 hari modal ia sudah balik. Disitulah, saya terinspirasi dari beliau, tetapi bukan berarti kewirausahaan saya akan sama dengannya. Jadi, hanya mengambil ilmu serta pelajaran atas apa yang ia ucapkan.

Saya sangat semangat perihal kewirausahaan itu karena motivasi hadir saat membaca buku melihat tanpa mata. Bapak Latief menulis, “Tidak banyak orang yang berani mengambil terobosan sedemikan cepat dan spontan dalam bisnis, terutama bagi para pemuda di bangsa ini”. Ini adalah kalimat pertama yang dapat menyinggung saya, ditambah pula, lanjutnya “Bahkan para profesional dan akademis sekalipun, lebih banyak memperdengarkan konsep entrepreneur dan cara menjalankannya, ketimbang contoh dalam mewujudkannya. Seringkali kita terlalu kaya berteori tapi miskin bertindak”. Inilah yang dapat memicu semangat saya, memang sepakat lalu merasakan sedari dulu hidup saya lebih asyik berteori ketimbang bertindak. Tetapi kehidupan telah mengubah, mungkin dulu saat punya mimpi berwirausaha sulit mengeksekusinya karena tidak punya modal, itupun masih bergelut di dunia pendidikan menengah atas. Sekarang, sudah ada modal dan fleksibel dalam dunia pendidikan – kampus – jadi tentunya akan lebih banyak bertindak dari pada berteori.

“Cita-cita hanya akan menjadi penyesalan jika tidak diwujudkan, rencana hanya berbuah kegagalan jika tidak dilaksanakan, pun begitu halnya teori yang akan menjadi omong kosong jika tidak pernah dibuktikan dengan tindakan. Karya nyata dalam mengamalkan apa yang telah dimiliki hanya ada pada diri mereka yang hebat.” hal.147.

Latief menulis kembali, sekarang tentang modal hidup, ini juga dapat saya korelasikan dengan entrepreunership. “Apakah semua cita-cita dan keinginan harus bermodal besar?”. Pertanyaan itu ditulis dalam halaman 150, plus pertanyaan tersebut sehati dengan apa yang ingin saya tanyakan pada orang lain. Jawaban sudah ada dalam buku ini, “Ya!. Tapi ingat bahwa modal yang dimaksud tidak mesti modal uang dan harta, melainkan gabungan dari banyak unsur modal dalam hidup. Totalitas, kejujuran, kesungguhan, keberanian, kreativitas dan semua sikap hidup yang positif sangat diperlukan untuk bisa sukses dalam menjalani hidup dalam menggapai cita-cita”.

“Orang sukses selalu memiliki modal hidup yang sangat besar kendati modal uang yang dimilikinya tidaklah banyak. Thomas Alfa Edison, lahir dari keluarga miskin yang harus membuatnya bekerja untuk memenuhi modal penelitiannya. Ketekunan, kesungguhan, kreativitas dan jiwa besarnya telah menjadikan penemu yang produktif dengan 2000 jenis penemuan yang dipatenkan atas namanya, salah satu yang fenomenal yaitu lampu pijar.” Selain itu, katanya, tokoh sukses Indonesia, yang bukan dari keluarga kaya raya, seperti Soekarno, Soeharto, Habibie, mereka bisa sukses karena memiliki modalitas sikap mental positif luar biasa.

Pertanyaan mendasar bilamana ingin sukses menjadi entrepreunership di tulis dalam penutup akhir tema Modal Hidup, “Lantas apakah kita akan menyerah dan bersikap inferior saat menghadapi kenyataan bahwa kita bukan terlahir dari keluarga yang berada dan berstatus sosial yang tinggi?. Modal terbesar yang dimiliki oleh setiap orang bukanlah modal berupa harta, kekayaan dan status yang diturunkan melalui orang tua, melainkan modal berupa sikap mental positif yang diciptakan sendiri. Siapkah untuk sukses?”.

Dalam buku melihat tanpa mata itu, ada catatan penting pula tentang bisnis, lengkap dengan seputar resiko. Dilain waktu saya akan menulisnya kembali.

***

Demikian yang dapat saya simpulkan dari tulisan di atas adalah, pertama soal keberanian dalam bertindak. Saat mengobrol dengan teman saya itu, katanya, ia sebetulnya tidak ada niat untuk berwirausaha, saya tau karakter dia, pemalu. Apalagi kudu dagang di tempat orang banyak, sesekali ia pernah bertemu dengan temannya, disapa, ditanya, awalnya ia malu, tapi karena ingin sukses, ia menghilangkan kegengsiannya sehingga bisnis awal kecil-kecilannya itu menuai hasil. Teori dia sedikit, “Ah, sehari cukup untuk membeli rokok saja”. Karena bertindaknya sungguh-sungguh, apa yang ia harapkan, malah lebih.

Kedua tentang modal. Ini yang menarik, banyak orang yang modal bisnisnya besar tetapi karena sikap mentalnya negatif, demi mendapatkan uang banyak—balik modal, ia akan lakukan itu. Keuntungan oke, tapi apakah yang didapatkan halal. Bukankah nantinya uang yang ia dapatkan, akan dibelikan makanan, masuk perut, diberi kepada keluarganya, namun sayang, Tuhan mengutuk barang haram. Jadi, walaupun modal Anda sedikit tetapi sikap positif, pasti ada jalan.

Yang terakhir, “Modal terbesar yang dimiliki oleh setiap orang bukanlah modal berupa harta, kekayaan dan status yang diturunkan melalui orang tua” kalimat ini yang membuat saya mengangguk-ngangguk, lagi pula masalah turunan kaya raya dari orang tua, saya paham betul kalimat Abdul Latief itu maksudnya. Semoga Anda dapat memahami.

Semoga bermanfaat teman-teman!

                                          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar