Abdul Latief, saya
tidak begitu mengenal nama penulis di buku melihat tanpa mata itu. Yang jelas,
dalam halaman 142 selaras lima catatan tentang entrepreunership, dapat
menggugah hati saya, berhubung akan terjun ke dunia tersebut.
Latief, akrab disapa
seperti itu dalam biodatanya, ia menulis tentang perjalanan hidupnya di usia
muda, masa-masa kampus, pekerjaannya, yang mana hampir semua peristiwa dalam
hidupnya dapat dicatat, diambil hikmahnya kemudian dijadikan pelajaran, ini
tercantum dalam semua bab di bukunya.
Saya suka dengan
pekerjaan bapak kelahiran 1983 itu, pekerjaannya selalu menuntut untuk
berkunjung ke berbagai daerah. Katanya, salah satu fenomena yang menarik dari
setiap kunjungannya adalah pengalaman, hikmah, dan pelajaran kearifan lokal
dari setiap daerah.
Tentang
entrepreunership sendiri, saya kurang paham dengan definisinya, terlebih
beberapa ahli yang pernah saya baca seperti Achmad Sanusi, Soeharto Prawiro,
dan yang lainnya, mereka berbagi pendapat tentang arti pekerjaan tersebut.
Untuk itu saya lebih ngeh, sepakat, dari website www.temukanpemengertian.com,
bahwa entrepreneurship itu adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun bertujuan
untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Yang mana meliputi
pembangunan, pembentukan perusahaan baru, kegiatan wirausaha juga merupakan
kemampuan managerial yang diperlukan seorang entrepreuner.
Akhir-akhir ini jiwa
kewirausahaan saya muncul, ini terjadi saat ngobrol bersama salah satu teman
SMA, yang mana karir ia beda dengan rekan-rekan lainnya. Ia berdagang di mall
semacam aneka minuman, ia tawarkan ke beberapa orang yang jalan-jalan disana.
Setiap hari ia bisa mengumpulkan maxsimal 200ribu, 2 hari modal ia sudah balik.
Disitulah, saya terinspirasi dari beliau, tetapi bukan berarti kewirausahaan
saya akan sama dengannya. Jadi, hanya mengambil ilmu serta pelajaran atas apa
yang ia ucapkan.
Saya sangat semangat
perihal kewirausahaan itu karena motivasi hadir saat membaca buku melihat tanpa
mata. Bapak Latief menulis, “Tidak banyak orang yang berani mengambil terobosan
sedemikan cepat dan spontan dalam bisnis, terutama bagi para pemuda di bangsa
ini”. Ini adalah kalimat pertama yang dapat menyinggung saya, ditambah pula,
lanjutnya “Bahkan para profesional dan akademis sekalipun, lebih banyak
memperdengarkan konsep entrepreneur dan cara menjalankannya, ketimbang contoh
dalam mewujudkannya. Seringkali kita terlalu kaya berteori tapi miskin
bertindak”. Inilah yang dapat memicu semangat saya, memang sepakat lalu
merasakan sedari dulu hidup saya lebih asyik berteori ketimbang bertindak.
Tetapi kehidupan telah mengubah, mungkin dulu saat punya mimpi berwirausaha
sulit mengeksekusinya karena tidak punya modal, itupun masih bergelut di dunia
pendidikan menengah atas. Sekarang, sudah ada modal dan fleksibel dalam dunia
pendidikan – kampus – jadi tentunya akan lebih banyak bertindak dari pada
berteori.
“Cita-cita hanya akan
menjadi penyesalan jika tidak diwujudkan, rencana hanya berbuah kegagalan jika
tidak dilaksanakan, pun begitu halnya teori yang akan menjadi omong kosong jika
tidak pernah dibuktikan dengan tindakan. Karya nyata dalam mengamalkan apa yang
telah dimiliki hanya ada pada diri mereka yang hebat.” hal.147.
Latief menulis kembali, sekarang tentang modal
hidup, ini juga dapat saya korelasikan dengan entrepreunership. “Apakah semua
cita-cita dan keinginan harus bermodal besar?”. Pertanyaan itu ditulis dalam
halaman 150, plus pertanyaan tersebut sehati dengan apa yang ingin saya
tanyakan pada orang lain. Jawaban sudah ada dalam buku ini, “Ya!. Tapi ingat
bahwa modal yang dimaksud tidak mesti modal uang dan harta, melainkan gabungan
dari banyak unsur modal dalam hidup. Totalitas, kejujuran, kesungguhan,
keberanian, kreativitas dan semua sikap hidup yang positif sangat diperlukan
untuk bisa sukses dalam menjalani hidup dalam menggapai cita-cita”.
“Orang sukses selalu
memiliki modal hidup yang sangat besar kendati modal uang yang dimilikinya
tidaklah banyak. Thomas Alfa Edison, lahir dari keluarga miskin yang harus
membuatnya bekerja untuk memenuhi modal penelitiannya. Ketekunan, kesungguhan,
kreativitas dan jiwa besarnya telah menjadikan penemu yang produktif dengan
2000 jenis penemuan yang dipatenkan atas namanya, salah satu yang fenomenal
yaitu lampu pijar.” Selain itu, katanya, tokoh sukses Indonesia, yang bukan
dari keluarga kaya raya, seperti Soekarno, Soeharto, Habibie, mereka bisa
sukses karena memiliki modalitas sikap mental positif luar biasa.
Pertanyaan mendasar
bilamana ingin sukses menjadi entrepreunership di tulis dalam penutup akhir
tema Modal Hidup, “Lantas apakah kita akan menyerah dan bersikap inferior saat
menghadapi kenyataan bahwa kita bukan terlahir dari keluarga yang berada dan
berstatus sosial yang tinggi?. Modal terbesar yang dimiliki oleh setiap orang
bukanlah modal berupa harta, kekayaan dan status yang diturunkan melalui orang
tua, melainkan modal berupa sikap mental positif yang diciptakan sendiri.
Siapkah untuk sukses?”.
Dalam buku melihat
tanpa mata itu, ada catatan penting pula tentang bisnis, lengkap dengan seputar
resiko. Dilain waktu saya akan menulisnya kembali.
***
Demikian yang dapat
saya simpulkan dari tulisan di atas adalah, pertama soal keberanian dalam
bertindak. Saat mengobrol dengan teman saya itu, katanya, ia sebetulnya tidak
ada niat untuk berwirausaha, saya tau karakter dia, pemalu. Apalagi kudu dagang
di tempat orang banyak, sesekali ia pernah bertemu dengan temannya, disapa,
ditanya, awalnya ia malu, tapi karena ingin sukses, ia menghilangkan
kegengsiannya sehingga bisnis awal kecil-kecilannya itu menuai hasil. Teori dia
sedikit, “Ah, sehari cukup untuk membeli rokok saja”. Karena bertindaknya
sungguh-sungguh, apa yang ia harapkan, malah lebih.
Kedua tentang modal. Ini
yang menarik, banyak orang yang modal bisnisnya besar tetapi karena sikap
mentalnya negatif, demi mendapatkan uang banyak—balik modal, ia akan lakukan
itu. Keuntungan oke, tapi apakah yang didapatkan halal. Bukankah nantinya uang
yang ia dapatkan, akan dibelikan makanan, masuk perut, diberi kepada
keluarganya, namun sayang, Tuhan mengutuk barang haram. Jadi, walaupun modal
Anda sedikit tetapi sikap positif, pasti ada jalan.
Yang terakhir, “Modal
terbesar yang dimiliki oleh setiap orang bukanlah modal berupa harta, kekayaan
dan status yang diturunkan melalui orang tua” kalimat ini yang membuat saya
mengangguk-ngangguk, lagi pula masalah turunan kaya raya dari orang tua, saya
paham betul kalimat Abdul Latief itu maksudnya. Semoga Anda dapat memahami.
Semoga bermanfaat teman-teman!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar