2 Agustus 2016

Ekspektasi

Dimensi waktu begitu cepat, hari demi hari berlalu. Peristiwa-peristiwa penting dan menyebalkan luluh oleh kehidupan yang tidak mungkin dapat mundur kembali. Seperti menurut sebagian orang, kehidupan ibarat roda, kau taulah analogi ini. 1 hari, 1 jam, terlewat begitu saja. Semua terangkum, entah itu kesenangan, kesedihan, dendam hingga kekecewaan.

***

Hutan ini serem ya, katanya, sambil menerawang keadaan hutan, dan memang aku menyepakati hal itu.

Setuju, lihat saja Lich, pohon yang ada dihadapanku, dia sudah terlalu tua.

Hey, aku menemukan semut. Semut ini sebelumnya tidak pernah aku lihat.

Awas, gak usah di pegang, balasku. Sial, Alicia nyaris saja memegang semut besar dan berbahaya itu.

Dia kaget. Kenapa tidak boleh dipegang?. Lagi pula semut ini lucu.

Kau ingin berdarah lagi?

***

4 tahun yang lalu, tangan kiri Alicia berdarah oleh seekor semut yang memang tidak sama dengan semut yang ia temui di hutan itu. Sebab dia, ya setiap hal-hal yang lucu, semacam benda, hewan, pakaian, ia selalu ingin mencoba untuk memegangnnya. Ia tidak peduli tentang bahaya dan tidaknya.

***

Alicia mengekspresikan kebeteannya saat aku menyuruh untuk tidak mengambil semut, lagian, serangga kecil yang hidupnya nyari gula itu, saat menggigit, hmmm seperti jarum yang tidak sengaja kena kulit. Kau rasakanlah.

Apa kita lanjut, kau tak takut oleh hutan ini?

Lanjutlah, tapi sebentar Rid. Alicia mengambil camera kesayangannya di dalam tass. Aku ingin mendokumentasikan dulu semut ini.
Cekrek!. Oke, yuk..

Aku menggelengkan kepala.

Kami berjalan berduaan. Setiap melewati pohon-pohon rimba yang masih gondrong dan usang, walaupun aku laki-laki, tentu menakutkan. Tetapi, karena disamping kiriku ada Alicia, aku mencoba tampil gagah dan bijak saja.

Cekrek. Uh gagal, katanya.

Apanya yang gagal?

Nih liat, ia memperlihatkan cameranya kepadaku. Hahaha kau foto seekor kadal, buat apa? Hahaha

Bukan kadal sayang. Ini bunglon. Coba lihat sekali lagi. Aku melihatnya lagi. Lha, tadi kan?

Dasar butaa. Bisa ngelihat ga?

Tadi yang aku lihat kadal, Lich. Aku 
menggaruk-garuk kepala.

Alicia memandang ke atas langit. Tidak mungkin aku mempotret seekor kadal, balasnya. Bunglon itu indah, dia bisa mengubah warnanya sesuai dengan keadaan dimana ia hinggap. Cekrek, ia mempotret langit.

Lich, itu-kupu-kupu, ayo fotoin!

Mana? Ah, jelek.

Aku mengerutkan dahiku. Kupu-kupunya hitam ya, tanyaku.

Bukan masalah hitam atau apanya, keindahan itu harus sesuai dengan keadaan yang disekelilingnya.

Halah sayang. Aku gak ngerti.

Sekarang pikirkan saja sama kamu. Ada nenek-nenek lagi berdiri di sisi jalan raya dan ada nenek-nenek juga sedang berdiri di sisi stasiun kereta. Pilih mana?

Piliiih.....

Alicia memotong saat aku akan menjawab. Pilih yang di sisi stasiun keretalah, katanya. Sebab tempatnya di stasiun, banyak orang sedang ngantri beli tiket dan nenek-nenek itu setia menunggu kereta, misalnya. Kamu potret dari kejauhan, yakin, akan bagus.

Aku menganggukan kepala. Oke aku mengerti, balasku. Sekarang foto aku, Lich, nah disini, di depan pohon. Aku melihat ke ranting-ranting pohonnya. Hmmm ini pohon apa ya....

Pohon beringiin...ujar Alicia.

Nah itu, kau tau juga.

Taulah, aku punya cerita dengan pohon beringin. Sudah siap? Alicia ancang-ancang membenarkan camera.

Sebentar, cerita sama siapa?

Nanti aku ceritain.

Oh, oke.

Cekrek. Mana hasilnya, aku berlari mendekati pacarku itu. Wih bagus, kataku. Selfie yuk?

Gak mau.

Loh kenapa, tanyaku.

Yaa lebih suka jadi tukang foto dari pada di foto, gerutunya. Eh sampai kapan kita sampai ke hulu hutan kalau terus-terusan foto-fotoan? Tanyanya.

Hehe iya yah, ayo makanya agak cepat dong jalannya.

Aku dan Alicia berjalan hingga 1 km. Dalam perjalanan itu, kami lebih banyak istirahat, duduk di bawah pohon, minum, bercanda ria dan sebagainya.

***

Sampai di 1 km.

Hulu hutan terlihat dari kejauhan, suara arus sungai air terjun terdengar.

Nah, sebentar, ucapku. Kami berhenti sambil berdiri dan mempekakan telinga. 

Denger-denger....

Ya benar suara air terjun, sebentar lagi kita sampai Rid. Hore!

Betul. Tapii..

Tapi apa?

Aku jongkok di samping Alicia sembari melihat ke arah kaki kanannya. Plak!! Geplakan tanganku tepat dikakinya, nyamuk jahat menempel.

Aw. Sakit.

Hampir saja darahmu kesedot oleh nyamuk sialan ini. Aku memperlihatkan nyamuknya.

Sambil merengek kesakitan. Gede banget ya, katanya.

Namanya juga di hutan. Nyamuk ini bahaya bisa-bisa kamu DBD. Yuk lanjut. Aku membuang mayat serangga macem kutu vampir itu.

***

Di hulu hutan. Kami duduk bersama. Terdengar keras dentuman air ke badan batu. Angin siang menggelebu. Pepohonan bergoyang tidak jelas. 

Lengkap, ujarku.

Lengkap apanya?

Pemandangannya indah. Aku menunduk ke bawah, itu airnya pasti dalem, ya.

Alicia sibuk mensetting cameranya. Sesekali ngetes lalu mendeletenya.

Kau sudah mempotret pohon jati yang tinggi itu? Aku menunjukan jariku.

Belum. Cameranya lagi gak mendukung.

Tadi, kan, bisa.

Iya, cuman, yaa kecapean kali ya dipake mulu.

Ada ada saja. Sini aku benerin. Aku merebut cameranya.  Angin pelan masuk ke sekejur tubuh Alicia, terutama ke arah rambutnya. Bergerak-gerak. Cantik.
Ternyata kau cantik juga. Aku tersenyum.

Menggombal, sahutnya. Udah belum?

Gak bisa.

Aaah.

***

Ekspektasi..

Tiap pasangan dalam status pacaran pasti pernah saling mengukuhkan hati untuk memberi janji-janji harapan, yang kemudian harapan itu kadang sirna begitu saja. Buktinya, pembaca bolehlah inget-inget harapan-harapan bersama mantan, yang tidak jadi setia selamanya itu.

***

Waktu sudah menunjukan hampir sore hari dan kami masih berada di hutan. Ini lumayan mengerikan.

Lich? Aku membalikan badan. Ia sedang duduk dibawah pohon yang percis seperti pohon jati, lalu ia menoleh sayu kepadaku.

Katanya kau ingin bercerita tentang kenangan di pohon beringin yang tadi itu?

Alicia tersenyum. Tidak penting, sewotnya.

Yasudah. Sungguh sore itu menjengkelkan. Hal yang paling aku tidak suka seumur hidup adalah ada yang ingin cerita tapi tidak jadi.

Kamu marah? Alicia berdiri sambil menyilangkan cameranya di samping bahu kanan.

Tidak.

Oke aku sekarang bercerita. Tetapi kamu jangan sampai sakit hati.

Aku mengangkat bahu.

Jadi begini, di mulai nih?

Terserah.

Dulu, saat aku bersama Johnson di London. Pohon beringin adalah kenangan yang tak mungkin aku lupakan. Di rumah nenek, kami berduaan sambil ngopi teh. Di belakang rumah nenek, ya disana, pohon itu berdiri tegak dan lumayan tua. Alicia duduk disamping kananku.

Lalu?

Johnson, laki-laki yang sempat aku cintai selama beberapa bulan sebelum ia. Uh.

Meninggal? Candaku.

Hus!. Alicia melotot. Sebelum ia selingkuh, jelasnya.

Wahahahaha. Perempuan secantik kau diselingkuhin?

Sudahlah. Alicia berdiri. Berdirinya itu seperti memberi kode untuk segera pergi di hutan ini.

Sialan si Johnson, ucapku. Lich, tanyaku, aku memegang tangan kanannya. Sekarang kan kau sudah bersamaku.

Terus?

Aku melepaskan tangannya. Tidak, kau punya harapan apa bersamaku?

Alicia melamun. Terlebih, aku kan, laki-laki yang tidak seperti Johnson. Oke, tidak usah di bahas. Yuk, pulang.

Sebentar... Alicia melangkahkan kaki. Posisi kami sejajar. Dia menengok raut wajahku.

Sebetulnya tidak terlalu penting dalam hubungan punya ekspektasi. Apa susahnya, kalau yang namanya cinta itu biarkan saja mengalir tanpa ada ikatan janji A, B, Z. Bersamamu Rid, kau tau sendiri, kita tak pernah membuat satu pun harapan. Aku menyukai hal ini dan aku sangat menyayangimu.

Aku memegang kedua pundak Alicia. Aku tau, Lich. Tetapi...semoga kau tidak menyesal denganku. Seseorang pernah sakit hati oleh kelakuanku, aku tidak bisa membahagiakan orang lain dan mungkin akan terjadi pula denganmu. Aku juga menyayangimu.

Tidak apa-apa. Kau ingat hutan ini, ingatilah aku.

Aku melepaskan pegangan itu. Kami berjalan sambil tersenyum satu sama lain. Alicia melirik ke lokasi air terjun. Ia bergumam di hadapanku. Seperti air terjun, ia tidak pernah bosan menghantam tumpukan batu. Semoga rasa cintaku pun sama, tak pernah bosan, bersamamu.

_____________________________________

Ditulis dalam kurun waktu 1 bulan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar